GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Akar Yang Kuat

Matius 12: 33


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 19 Februari 2019 08:30 | 567x dibaca | komentar

Seorang rekan akademisi pernah berdiskusi dengan saya perihal seorang tokoh intelektual yang sangat ia kagumi. Menurutnya, tokoh itu sungguh luar biasa karena setiap kata-katanya sangatlah memotivasi orang. Ia bahkan mengaku sebagai “penyimak yang setia” dari setiap materi yang disampaikan oleh tokoh tersebut.  Namun, belakangan pandangannya berubah, sebab tokoh yang ia kagumi itu tersandung masalah. Apa yang sering ia ceramahkan atau sampaikan dalam berbagai pertemuan ternyata tidak dilakukannya. “Ia pintar merangkai kata-kata, tapi tidak pintar dalam pelaksanaan,” begitu kesimpulan rekan saya.

Sekarang, setiap kali kami berjumpa dan menyinggung soal tokoh itu, rekan saya lebih banyak berbicara hal-hal negatif soal tokoh itu daripada kata-kata inspiratif yang pernah ia sampaikan. Lalu saya teringat apa yang pernah disampaikan oleh seorang dosen saya, “Seorang konseptor yang baik tidak selalu bisa menjadi eksekutor yang baik”. Dengan kata lain, setiap orang memang diberi karunianya sendiri-sendiri. Ada orang yang handal dalam merancang atau mengkonsep suatu ide, dan ada orang yang handal dalam menjalankan konsep-konsep yang ada. Istilahnya Rasul Paulus, “ada yang menanam, ada yang menyiram, dan ada yang menuai”.

Tetapi, apa yang dialami oleh sang tokoh yang pernah diidolakan oleh rekan saya tadi, memang merupakan sesuatu yang fatal. Fatal bukan karena ia mencoba menjadi konseptor sekaligur eksekutor, tetapi fatal karena ia mengeksekusi dengan cara yang sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini ia konsepkan. Bayangkan saja seorang motivator anti narkoba yang tiba-tiba menjadi pemakai narkoba atau bahkan pengedar. Fatal sekali jika itu terjadi, sebab segala kata-kata yang menjadi motivasi terdahulu, buyar seketika karena ulahnya sendiri. 

Maka, nats yang menjadi bahan perenungan hari ini mengajarkan kita bahwa “buah” dari segala yang kita lakukan itu sangatlah penting menjadi ukuran orang lain untuk menilai kita. Jika kita “berakar” pada pengajaran yang baik, tetapi “berbuah” yang tidak baik, bagaimana bisa kita meyakinkan orang lain bahwa pengajaran kita adalah baik? Jadi, kedewasaan kita dalam Kristus akan menjadi sempurna ketika perilaku kita berpadanan dengan ajaran Kristus, yang menjadi akar keimanan kita. Amin!

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI