GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Apakah “Rabu Abu” Itu?


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 06 Maret 2019 03:44 | 359x dibaca | komentar

“Rabu Abu” (Ash Wednesday) adalah hari pertama dari Masa Prapaska (Inggris: Lent; Latin: Quadragsima artinya “ke-40”) menurut liturgi tahunan gerejawi. Penentuannya adalah berdasarkan hitungan 40 hari sebelum hari raya Paska (kebangkitan Tuhan Yesus Kristus), yang secara tradisi diisi dengan masa puasa selama enam hari. Namun, jika kita menghitung secara cermat, maka Rabu Abu jatuh pada 44 hari sebelum Paska. Mengapa ada kelebihan empat hari? Sebab, hari-hari Minggu tidak dihitung, mengingat hari Minggu adalah peringatan kebangkitan Tuhan Yesus. Jadi, Rabu Abu jatuh pada 40 hari sebelum Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

Rabu Abu biasanya diisi dengan doa-doa, puasa dan pertobatan. Pada hari Rabu Abu, jemaat menghadiri ibadah di Gereja dan diberi tanda salib dari abu di dahinya oleh Pendeta atau Romo sambil disertai dengan ucapan, “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” atau “Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan akan kembali pada debu”. Abu yang digunakan biasanya merupakan abu pembakaran daun palem sisa perayaan Minggu Palem dari tahun sebelumnya.

Penggunaan abu sesuai dengan tradisi orang-orang Israel kuno sebagai lambang kesedihan, penyesalan dan pertobatan (band. Ester 4:1,3; Yunus 3:6; dan Mazmur 102:10) sambil mengingat Kejadian 2:7 bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan suatu saat nanti akan kembali menjadi debu.

Beberapa bapak gereja mencatat penggunaan abu dalam tradisi kekristenan mula-mula, misalnya Tertulianus (160-225 M) mengatakan bahwa pengakuan dosa harus disertai dengan berbaring di atas kain karung dan abu.

Rabu Abu diadakan di sebagian besar aliran gereja, termasuk Katolik, Anglikan, Lutheran, Methodis, Presbiterian, dan beberapa Gereja Baptis. Seringkali, nats 2Samuel 11-12 dibacakan dalam ibadah Rabu Abu, yang mengisahkan pertobatan Daud akibat berzinah.

Puasa

Puasa tidak hanya diadakan pada Rabu Abu, melainkan seterusnya selama Masa Prapaska atau selama 40 hari, kecuali hari Minggu. Tradisi ini disebutkan dalam Konsili Nicaea I pada 325 M. Puasa ditandai dengan tidak memakan apapun sampai dengan terbenamnya matahari. Selama puasa, jemaat hanya diperkenankan makan kenyang sekali dalam sehari. Di beberapa gereja, puasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung lebih panjang, bahkan sampai setelah terbenamnya matahari.

Pada zaman dulu, semua bahan makanan dari binatang, termasuk telur dan susu, pantang dimakan selama Prapaska. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai luntur, kecuali di beberapa Gereja Ortodoks Timur dan Oriental. Mereka hanya memakan makanan dari tumbuh-tumbuhan selama 44 hari Prapaska.

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI