GKRIDC.COM © 2019

HUT GKRIDC:

Tema Januari 2020

Berbuah

Yohanes 15:1-8


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 03 Januari 2020 04:25 | 184x dibaca | komentar

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5)

Pada ay. 1a, Yesus mengidentifikasi diri-Nya dengan sebutan ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος ἡ ἀληθινή (Akulah Pokok Anggur yang benar), dimana kata yang diterjemahkan “Pokok Anggur” adalah kata Yunani ampelos, yang dalam Septuaginta (LXX) biasanya digunakan untuk menerjemahkan kata Ibrani gefen, “pohon anggur” (band. Kej. 40:9).

Pohon anggur memiliki signifikansi penting dalam tradisi Perjanjian Lama. Daud sendiri, dalam Mazmur 80, menyebut umat Israel dengan simbol “pohon anggur” (Mzm. 80:9-10), demikian juga dengan Hosea (band. Hos. 10). Penggunaan symbol “pohon anggur” bagi Yesus sendiri tidak lepas dari konsep “Firman yang menjadi manusia”, yang muncul dalam pengantar Injil Yohanes (1:14), dimana pohon anggur itu “ditanam”, melambangkan Sang Firman (logos) yang turun ke dunia menjadi manusia. Ranting-ranting pohon anggur tumbuh “merambat” melambangkan misi Kristus untuk menjangkau seluruh dunia dan tugas itu Ia embankan kepada “sahabat-sahabat-Nya”, dimana mereka harus “berbuah” (band. 15:14-16).

Pada ay. 1b, Yesus menyebut BAPA sebagai Pengusahanya: καὶ ὁ πατήρ μου ὁ γεωργός ἐστι (dan BAPA-kulah Pengusahanya). Suatu konsep yang memiliki kemiripan dengan apa yang digunakan dalam Yesaya 5:1-7. Yesus menggunakan gambaran yang jelas di sini, bahwa BAPA tidak hanya sebatas ampelourgos (pengelola kebun anggur), tetapi IA adalah geōrgos (pengusaha yang juga merupakan pemilik). Karena itu, sebagai geōrgos, BAPA telah menetapkan suatu target capaian, yaitu: ἵνα πλείονα καρπὸν φέρῃ (supaya ia lebih banyak berbuah).

Konsekuensi dari target capaian itu adalah “dipotongnya” ranting-ranting yang tidak menghasilkan buah (ay. 2a) dan “dibersihkannya” ranting-ranting yang berbuah (ay. 2b). Pertanyaannya adalah “berbuah” seperti apa yang Yesus kehendaki di sini?

Buah itu hanya bisa dihasilkan jika kita “tetap tinggal dalam Kristus” (ay. 4), yang adalah Sang Kalam atau Firman (logos). Selanjutnya pada ay. 16 dikatakan: καὶ ὁ καρπὸς ὑμῶν μένῃ (dan buahmu itu harus tinggal tetap), artinya buah itu haruslah melekat dalam diri kita. Dengan kata lain, Yesus tidak sedang menyoroti tentang jiwa-jiwa yang dibawa kepada-Nya, melainkan tentang jiwa-jiwa yang tinggal di dalam Dia. Yesus tidak sedang berbicara tentang penginjilan yang berorientasi pada penjangkauan jiwa-jiwa di luar, tetapi Ia sedang fokus berbicara tentang kematangan spiritual dari orang-orang yang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya, perikop ini dilanjutkan dengan perintah untuk saling mengasihi (ay. 9-17).

Selanjutnya, pada ay. 27, Yesus mulai berbicara tentang pentingnya “bersaksi” (martureō). Artinya, jika pembenahan diri adalah “berbuah di dalam diri”, maka bersaksi adalah “berbuah keluar”. Keduanya sama-sama penting, sebab berbuah keluar sangatlah bergantung pada buah yang dihasilkan dari dalam diri seseorang.

Gambaran sederhana tentang “berbuah di dalam diri” bisa dibandingkan dengan Galatia 5:22-23, dimana Rasul Paulus menggunakan istilah “buah Roh”, yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”. Sementara, “berbuah keluar” bisa merujuk pada Matius 28:19-20 “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman”. [ ]

PEMBAGIAN BAHASAN PER MINGGU

1 Januari 2020 (Tahun Baru)
“BERBUAH DALAM KRISTUS” (Yoh. 15:1-8)
Fokus: “Mengajarkan jemaat landasan Alkitab dari konsep ‘berbuah dalam Kristus‘”

5 Januari 2020  (Minggu I)
“PRIBADI YANG BERBUAH” (Mat. 13:18-23; Gal. 5:22-23; Kol. 2:7-8)
Fokus: “Memotivasi jemaat pentingnya perubahan positif dalam diri berlandaskan buah Roh”

12 Januari 2020 (Minggu II)
“BUAH YANG BERDAMPAK” (Why. 22:2; Mat. 5:13-16)
Fokus: “Memotivasi jemaat untuk mengaplikasikan perubahan diri bagi orang-orang di sekitar”

19 Januari 2020 (Minggu III)
“BERBUAH BAGI KRISTUS” (Yoh. 20:21-23; Mat. 28:19-20; Mrk. 16:14-20)
Fokus: “Mendorong jemaat untuk mengerjakan amanat Kristus dalam memuridkan jiwa-jiwa”

26 Januari 2020 (Minggu IV)
“BERBUAH DALAM PERGUMULAN” (Ibr. 12:3-11)
Fokus: “Memotivasi jemaat untuk tidak menyerah dalam menghasilkan buah meskipun dalam situasi sulit”

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI