GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Jumat Agung


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 20 April 2019 05:34 | 325x dibaca | komentar

Jumat Agung dikenal dengan sebutan Good Friday dalam bahasa Inggris. Ada yang mengatakan bahwa sebutan Good Friday adalah kesalahan penulisan dari “God Friday”, tetapi teori yang paling kuat menyebutkan bahwa istilah ini berasal dari bahasa Inggris Kuno, dimana arti kata Good adalah “suci”, sehingga makna Good Friday sesungguhnya adalah Jumat Suci, yang merupakan sebutan lain dari hari raya ini. Dalam Liturgi Yunani, hari raya ini disebut He Hagia kai Megalē Paraskeuē (Jumat Suci dan Agung), sementara di Jerman disebut Karfreitag (Jumat Sedih).

Jumat Agung merupakan momen peringatan penyaliban dan wafat Yesus Kristus. Jumat Agung dirayakan dalam suasana sedih, khusyuk dan disertai puasa. Hari kematian Yesus sendiri tidak disebutkan pasti dalam Alkitab. Dalam Injil-injil sinoptik (Matius--Markus--Lukas) dan Yohanes diberikan setidaknya dua petunjuk utama, yaitu tentang “hari persiapan” dan “menjelang Sabat” (Matius 27:62; Markus 15:42; Lukas 23:54; Yohanes 19:14).

Sabat dihitung dari Jumat petang, ketika matahari terbenam. Artinya, jika disebut “menjelang Sabat” (Yunani: prosabbaton--“hari sebelum Sabat”), maka kita bisa berasumsi bahwa hari itu adalah Kamis petang (setelah matahari terbenam) sampai dengan Jumat sebelum matahari terbenam. Dalam Markus 15:25 dan Yohanes 19:14 diberi tambahan petunjuk, khususnya tentang waktu penyaliban Yesus. Markus menyebut “jam sembilan pagi” atau dalam teks Yunani: ēn de hōra tritē (pada jam ketiga), sementara Yohanes “kira-kira jam dua belas” atau dalam teks Yunani: hōra ēn hōs hektē (kira-kira jam keenam). Banyak teori tentang perbedaan catatan waktu antara Markus dan Yohanes, tetapi saya tidak akan membahasnya dalam tulisan ini. Intinya, Markus merujuk pada waktu yang mungkin lebih tepat, sementara Yohanes hanya memperkirakan, dan keduanya merujuk pada pagi menjelang siang hari.

Jadi, jika yang dimaksud dengan “menjelang Sabat” itu adalah Kamis petang hingga Jumat sebelum matahari terbenam, maka hari yang pas adalah Jumat. Dari situlah muncul tradisi Jumat sebagai hari wafatnya Yesus Kristus.

Memang kemudian bermunculan teori-teori lain yang menyanggah hal itu, di antaranya adanya keberatan jika Paska Yahudi jatuh pada hari Sabat. Namun, yang tidak boleh jatuh pada hari Sabat adalah “hari persiapan Paska”, sebab biasanya pada hari ini, orang-orang Yahudi harus bekerja mempersiapkan perjamuan Paska. 

Selain mengenai hari “Jumat”, hal lain yang kerap dipertanyakan tentang perayaan Jumat Agung adalah mengenai tanggalnya yang selalu berubah -- berbeda dengan perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember.

Patokan Jumat Agung adalah Minggu Paska. Jadi, Jumat Agung selalu dirayakan pada hari Jumat sebelum Paska. Hitungan Paska sendiri mengikuti tradisi Computus (istilah Latin yang berarti “penghitungan”). Berdasarkan Computus, hari Paska selalu jatuh pada hari Minggu setelah bulan purnama yang mengikuti vernal equinox atau spring equinox (ekuinoks musim semi). Equinox sendiri adalah fenomena alam dimana matahari melintasi garis khatulistiwa, sehingga lamanya siang dan malam di seluruh dunia menjadi sama, yaitu 12 jam. Dalam setahun terjadi dua kali equinox (vernal/ spring dan autumnal), dimana vernal equinox biasanya terjadi pada 21 Maret.

Perayaan Jumat Agung diisi dengan perenungan-perenungan akan jalan sengsara (via dolorosa) Yesus Kristus, mulai dari Ia dihadapkan kepada Pilatus, hingga dimakamkan.

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI