GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Karya Roh Kudus dalam Diri Kita

2Timotius 1:7


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 07 Juni 2019 21:20 | 453x dibaca | komentar

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2Timotius 1:7)

Menurut Scheunemann, karya pelayanan organis Roh Kudus yaitu bagaimana Ia membarui dan menguduskan kita, sehingga kita dapat menghasilkan buah Roh dan membangun hubungan yang baik dengan sesama anggota Tubuh Kristus. Pelayanan organis ini mendorong kita untuk masuk dalam suatu persekutuan dan aktif di dalamnya, sehingga tercipta hubungan yang kuat dan saling menguatkan.

Terkait hal itu, maka nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, dalam nats yang kita baca hari ini, sangatlah relevan untuk membantu kita memahami bagaimana karya organis Roh Kudus bekerja di dalam diri kita.

Menurut Paulus, roh yang Allah berikan kepada kita [kata “kita” di sini tidak saja merujuk kepada Paulus dan para rasul, tetapi juga termasuk Timotius sendiri], bukanlah “roh ketakutan” atau pneuma deilias. Sebelumnya, pada ayat 6, Paulus mengingatkan Timotius untuk “mengobarkan karunia Allah” (to kharisma tou Theou), sehingga memberi kita kejelasan bahwa Paulus sedang berbicara tentang karya Roh Kudus di dalam diri Timotius.

Paulus mengingatkan akan panggilan Timotius, sehingga makna frasa “Allah memberikan kepada kita (aku dan kamu)” merujuk pada pentahbisan Paulus dan juga Timotius sebagai pelayan-pelayan Kristus. Simbol pengurapan tangan dari para rasul ke atas kepala mereka, menunjukkan bagaimana pada saat yang sama Allah mengaruniakan roh itu ke dalam diri mereka, dan pada saat itu juga Roh Kudus bekerja di dalam diri mereka, memperlengkapi, menuntun dan meneguhkan mereka dalam panggilan itu.

Kepada kita pun dikaruniakan roh yang sama, yaitu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan “kekuatan” (dunamis), “kasih” (agapē), dan “ketertiban” (sōfronismos), sebab kita juga mengemban amanat yang sama dengan yang diterima oleh para rasul, yaitu amanat untuk memberitakan Kabar Baik (Injil) ke seluruh dunia.

Kabar Baik itu bukan kabar ketakutan, maka kehadiran kita sebagai gereja, baik dalam pengertian kelembagaan maupun pribadi, hendaknya tidak sebagai penyebar horor ataupun teror, yang membuat orang lain merasa terintimidasi, tertekan, ketakutan, dilecehkan, dihina dan merasa tidak berdaya. Sebaliknya, kehadiran kita pun adalah untuk membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban di tengah dunia ini.

Pertama, “kekuatan” (dunamis) berbicara tentang kapabilitas kita sebagai orang-orang percaya, yaitu kemampuan atau kecakapan untuk melakukan sesuatu berdasarkan karunia yang ada pada kita.

Alkitab mencatat ada rupa-rupa karunia Roh Kudus, yang kepada kita masing-masing diberikan sesuai dengan panggilan kita, seumpama talenta yang diberikan untuk dilipatgandakan. Semakin besar tanggung jawab pelayanan yang kita emban, maka kita akan dilengkapi dengan karunia yang memadai untuk menopangnya. Di samping itu, Tuhan akan menyediakan orang-orang dengan berbagai karunia untuk turut menopang pelayanan kita.

Intinya, pelayanan yang digerakkan oleh Roh Kudus, akan senantiasa ditopang dan diberdayakan juga oleh Roh Kudus.

Kedua, “kasih” (agapē), yaitu kualitas dalam menghargai, memperhatikan dan mengasihi orang lain dengan kehangatan. Kasih yang kita miliki bukanlah kasih yang terbatas dan bersyarat, tetapi kasih yang tanpa batas dan tanpa syarat. Kasih yang tidak memandang latar belakang seseorang, tetapi kasih yang mau merangkul, menyatukan, dan menghadirkan damai sejahtera di dalam diri setiap orang.

Allah sendiri memberi teladan kasih ini, ketika Ia mengaruniakan Anak-NYA yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Kasih yang sama diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, melalui murid-murid-Nya, dan sebagaimana tercatat dalam Alkitab.

Ia mengasihi orang-orang berdosa, mereka yang terbuang dan terpinggirkan (orang sakit yang dianggap terkena kutuk, bahkan pemungut cukai yang dianggap menghianati bangsanya sendiri), mereka yang berbeda keyakinan (seperti orang-orang Samaria, Kanaan dan Yunani), bahkan mereka yang menentang, melawan, dan membenci Dia (Matius 5:44; Matius 6:27, 35).

Ia mau, kita meneladani cara Ia mengasihi, sebagaimana yang Ia firmankan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi (agapate allēlous); sama seperti Aku telah mengasihi (hēgapēsa) kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (agapate allēlous)” (Yohanes 13:34).

Ketiga, “ketertiban” (sōfronismos). Kata ketiga ini memang agak membingungkan bagi para penerjemah Alkitab. Ada berbagai terjemahan yang bisa kita lihat, ada yang menerjemahkan “pikiran sehat” (KJV), “pengendalian diri” (ESV), “disiplin diri” (NIV), “disiplin” (ASV), dan “ketertiban” (TB).

Dalam keseluruhan Perjanjian Baru, kata ini hanya muncul dalam 2Timotius 1:7 ini. Bentuk lain dari kata ini, yaitu sōfronizō ditemukan dalam Titus 2:3-4 diterjemahkan “mengajarkan” dan “belajar”. Pengertian ini mirip dengan terjemahan ayat ini dalam Peshitta (bahasa Syria): martyānuthā’, yang berarti “instruksi” atau “pengajaran” (bandingkan juga terjemahan PB bahasa Ibrani: mūsar, yang berarti “teguran; koreksi; ajaran”). Sementara, bentuk lainnya lagi, yaitu sōfrōn ditemukan dalam Titus 1-3 diterjemahkan “menguasai diri” dan “menahan diri”.

Dari pengertian-pengertian ini, maka saya cenderung memaknai kata ini sebagai “disiplin diri”, dimana di dalamnya terkandung pikiran yang sehat, pengendalian diri, serta ajaran dan teguran. Arahnya tentu saja pada ketertiban atau keteraturan dalam hubungan dengan orang lain.

Jadi, disiplin diri di sini termasuk di dalamnya disiplin ajaran, disiplin waktu, disiplin aturan, disiplin moral, disiplin organisasi, dan disiplin dalam berbagai hal. Pengertian ini menunjukkan kepada kita bahwa Roh Kudus bekerja secara teratur dan tertib dalam kehidupan rohani kita. Ia tidak bekerja secara membabi buta, kacau dan tanpa arah. Dengan demikian, orang yang digerakkan oleh Roh Kudus akan memiliki integritas dalam dirinya serta disiplin yang tinggi dalam segala hal. [ ]

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI