GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Tema April

Kemenangan

1Korintus 15:57-58


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 03 April 2019 03:31 | 463x dibaca | komentar

“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Korintus 15:57-58)

Kematian menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang, tetapi Rasul Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Korintus bahwa mereka tidak perlu takut dengan kematian, sebab kematian sudah dikalahkan melalui Yesus Kristus, yang telah bangkit dari kematian.

Karena itu, kita patut mensyukuri kemenangan dalam Kristus itu, dan ucapan syukur itu hendaknya diwujudnyatakan dalam bentuk yang riil, yaitu dalam dua hal yang disebutkan Paulus pada ay. 58:

1. "Berdirilah Teguh, Jangan Goyah" (hedraioi ginesthe, ametakinētoi)

Secara harfiah, hedraioi ginesthe (ἑδραῖοι γίνεσθε) berarti "jadilah teguh", sedangkan ametakinētoi berarti "tidak bisa digerakkan". Paduan kedua frasa ini menekankan supaya kita jangan gampang terpengaruh apalagi dibuat tidak percaya dengan kebangkitan Kristus (band. Kolose 1:23).

Jemaat di Korintus menghadapi serangan yang membuat mereka dipaksa untuk menyangkal atau meragukan bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian-Nya. Tetapi, masalah ini tidak hanya dialami oleh jemaat di sana, sampai saat ini, peristiwa kebangkitan Kristus terus-menerus diserang dengan berbagai pendekatan, baik akademik maupun agama.

Melumpuhkan ajaran kebangkitan Kristus dianggap akan melumpuhkan iman Kristen secara keseluruhan, tetapi selama berabad-abad hal itu dilakukan, nyatanya iman Kristen tetap teguh dan percaya bahwa Kristus sungguh-sungguh telah bangkit.

Masa Prapaska mengingatkan kita kembali akan iman kita terhadap karya agung Kristus, yang telah menjadikan kita pemenang atas dosa dan maut, dan memperoleh bagian dalam kehidupan kekal.

Kemenangan itu haruslah disertai dengan keteguhan, sama seperti keteguhan Yesus dalam menjalankan Misi Allah untuk menyelamatkan umat manusia, meskipun Ia harus menghadapi kematian karena misi-Nya itu.

Sekarang ini kita sedang mengemban Misi Allah di tengah dunia, dimana kita hadir sebagai garam dan terang dunia. Karena itu, kita pun membutuhkan keteguhan untuk meraih kemenangan.

Ada dua bentuk keteguhan yang dibutuhkan: Pertama, "keteguhan iman", yaitu menyangkut keyakinan kita akan iman kita kepada BAPA, Anak dan Roh Kudus; Kedua, "keteguhan hati", yaitu bagaimana hati kita bisa mempertahankan nilai-nilai kekristenan dalam setiap aspek kehidupan kita.

2. "Giatlah Selalu dalam Pekerjaan Tuhan" (perisseuontes en tō ergō tou Kuriou pantote)

Kata perisseuontes diterjemahkan "giatlah". Secara harfiah kata ini berarti "menjadi lebih dari cukup; melimpah; atau melampaui". Artinya, kita jangan sampai melayani dalam batasan-batasan tertentu. Sebaliknya, pelayanan kita harus ekstra dalam banyak hal.

Jika di dunia pekerjaan kita mengenal istilah "lembur" atau bekerja over time untuk mengejar target perusahaan tempat kita bekerja, maka dalam melayani TUHAN, perlu ada spirit serupa, dimana kita memberikan segala yang terbaik yang bisa kita berikan.

Apalagi, kita sedang menjalankan "pekerjaan Tuhan" (ergō tou Kuriou) sebagai ungkapan syukur kita untuk mengisi kemenangan dalam Kristus. Dalam 1Korintus 16:10, Paulus kembali menggunakan frasa ini, dan digunakan untuk menjelaskan soal misi yang dijalankan oleh Timotius, muridnya. Namun, jika kita membaca Kolose 3:23, maka makna "pekerjaan Tuhan" bisa menjadi luas, yaitu segala sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan. Jadi, "pekerjaan Tuhan" bisa berarti "pekerjaan dari Tuhan", bisa juga "pekerjaan untuk Tuhan".

PENJABARAN TEMA:

Minggu I (7-13 April 2019)
Minggu Judica (Minggu Sengsara) 
Tema: “KETEGUHAN IMAN” 
Nats Alkitab Pendukung: Matius 9:18-26; 1Yohanes 5:4; Galatia 2:19-20; Kejadian 22:1-19; dsb
Deskripsi: 
Minggu Judica adalah awal Masa Sengsara dimana kita diajak untuk merenungkan kembali perjalanan sengsara Kristus menuju Bukit Kalvari. Untuk itu, pada masa ini, kita merenungkan pentingnya keteguhan iman untuk meraih kemenangan, mengingat banyaknya tantangan iman di masa kini. Sebagaimana Rasul Paulus mengingatkan untuk “tetap teguh dan jangan goyah”, maka demikianlah seharusnya iman kita.
Tujuan:
- Jemaat mengerti makna keteguhan iman dan manfaatnya dalam meraih kemenangan
- Jemaat memiliki keteguhan iman dalam kehidupan sehari-hari
- Jemaat mampu menunjukkan imannya dalam perbuatan sehari-hari

Minggu II (14-20 April 2019)
Minggu Palem
Tema: “KETEGUHAN HATI” 
Nats Alkitab Pendukung: Yosua 1:9; Mazmur 62:5-8; Amsal 16:2; Yehezkiel 3:8-9; 1Korintus 9:25-27; dsb
Deskripsi:
Minggu Palem atau Minggu Palma adalah saat dimana kita merenungkan kembali momen ketika Yesus masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan banyak orang. Namun, itulah saat dimana Yesus menyerahkan diri pada kehendak BAPA, sebab di Yerusalemlah Ia akhirnya ditangkap dan disalibkan. Butuh keteguhan hati yang kuat untuk sanggup memikul salib kita dalam kehidupan ini agar kita tidak mudah diombangambingkan oleh tawaran dunia ini.
Tujuan:
- Jemaat memahami makna keteguhan hati dan manfaatnya dalam meraih kemenangan
- Jemaat memiliki prinsip hidup yang berdasarkan Alkitab dalam kehidupan sehari-hari 
- Jemaat mampu mengaplikasikan prinsip hidup dalam pengambilan keputusan

Minggu III (21-27 April 2019)
Paska
Khotbah Interaktif: “KEMANUSIAAN dan KEILAHIAN KRISTUS” 

Minggu IV (28 April - 4 Mei 2019)
Quasimodogeniti (Lahir Kembali)
Tema: “GIAT DALAM PEKERJAAN TUHAN”
Nats Alkitab Pendukung: 1Korintus 15:58; Galatia 5:13; Efesus 6:5-7; Kolose 3:23; dsb
Deskripsi:
“Pekerjaan Tuhan” (ergō tou Kuriou) tak hanya sebatas menjalankan tugas-tugas gerejawi, tetapi juga dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Di Minggu Quasimodogeniti ini, kita diajak menghayati kembali makna “lahir kembali” bersama kebangkitan Kristus dalam bentuk ungkapan syukur yang nyata dengan menjalankan setiap pekerjaan kita secara bertanggung jawab untuk menghadirkan damai sejahtera dalam diri, keluarga, dan bangsa kita.
Tujuan:
- Jemaat memahami makna “pekerjaan Tuhan” dan tanggung jawabnya menjalankan pekerjaan Tuhan sebagai bentuk syukur atas kemenangan dalam Kristus
- Jemaat mampu menghargai pekerjaan Tuhan dalam hidupnya
- Jemaat mampu mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan maksimal

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI