GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Koyakkanlah Hatimu

Yoel 2:12-13


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 06 Maret 2019 10:18 | 478x dibaca | komentar

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-KU dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab IA Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan IA menyesal karena hukuman-NYA. (Yl. 2:12-13)

Kita memasuki Masa Prapaska yang diawali dengan Rabu Abu. Seperti biasanya, di momen ini kita diingatkan kembali akan seruan penyesalan dan pertobatan atas semua kekhilafan dan kesalahan yang sudah kita lakukan selama ini.

Dalam lingkup nasional, kita mungkin menjadi bagian dari orang-orang yang ikut menyebarluaskan ujaran-ujaran kebencian, hoax, dan berbagai tindakan lain yang telah merugikan orang lain. Saatnya berkontemplasi diri, apa sih bahagianya meraih keuntungan di balik kerugian orang lain? Bukankah Tuhan Yesus disalibkan karena upaya-upaya kebohongan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Mereka bahkan mengatasnamakan agama demi popularitas dan keuntungan kelompok bahkan pribadi.

Lantas, apakah kita juga akan diperhitungkan ke dalam bagian orang-orang yang ikut menjerumuskan orang lain?

Dalam dunia kerja kita, apakah kita bekerja dengan sungguh-sungguh, taat, penuh kasih dan keteladanan? Apakah sebagai atasan kita bisa menginspirasi orang-orang di bawah kita untuk bertindak bijaksana dalam meraih keuntungan usaha? Apakah sebagai bawahan kita telah bekerja “seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia”? Adakah kejujuran kita praktikkan dalam pekerjaan kita, mulai dari hal-hal sepeleh?

Bagaimana juga dengan sikap kita dalam pelayanan bergereja? Adakah pelayanan kita semata-mata mengejar keuntungan-keuntungan pribadi atau gereja? Bukankah gereja dipanggil untuk menjadi hamba dan saksi bagi pemberitaan Kabar Baik di tengah dunia ini? Artinya, pelayanan kita pun adalah pelayanan yang berbagi, bukan pelayanan yang menumpuk materi. Pelayanan yang mencurahkan kasih sayang, bukan pelayanan yang mengharapkan belas kasihan.

Dalam keluarga kita, adakah kita telah menjalankan fungsi kita sebagai kepala keluarga, istri, orang tua, kakak dan anak-anak? Apakah keluarga kita masih menjadi “proyek percontohan” bagi perawatan cinta kasih Kristus? Atau jangan-jangan keseharian kita hanya menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitar kita.

Pada akhirnya, sebagai pribadi-pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus dan Injil, adakah kita masih dijiwai oleh semangat cinta kasih Kristus yang tulus dan murni dalam kehidupan kita? Jangan-jangan kita telah menjadi pribadi-pribadi yang egois dan individualistis, sehingga orang-orang di sekitar kita tidak menemukan kehangatan Kristus dalam kehadiran kita.

Karena itu, penyesalan dan pertobatan yang paling hakiki adalah bagaimana kita “mengoyakkan hati kita”, bukan semata-mata pakaian kita yang bisa kita ganti segera dengan yang baru. Mengoyakkan hati berarti ada kemauan terdalam untuk mengubah diri, cara berpikir, sikap hidup dan pada akhirnya tindakan-tindakan kita akan mengikutinya. Selamat berkontemplasi, Tuhan menolong kita! 

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI