GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Minggu Judica: Minggu Sengsara


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 02 April 2019 17:47 | 319x dibaca | komentar

Minggu ke-5 dalam Masa Prapaska disebut “Minggu Judica” atau “Minggu Iudica” yang diambil dari teks Latin Mazmur 43 “Judica me, Deus” (Hakimi aku, ya Allah) atau dalam terjemahan LAI diterjemahkan “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah”.

Namun, nama yang lebih populer dikenal adalah “Minggu Sengsara” atau di Jerman disebut “Minggu Hitam” atau “Minggu Kelam”, dimana ada tradisi di gereja-gereja untuk menutupi semua salib dan patung-patung dengan kain berwarna ungu atau warna lainnya. Di bagian timur laut Inggris disebut Minggu Karlin, sebab ada tradisi memakan kacang polong karlin.


Tradisi menutup salib dan patung-patung di gereja pada Minggu Judica atau Minggu Sengsara

Beberapa gereja menyebut “Minggu Sengsara” sejak sebelum perayaan Rabu Abu, sehingga mengenal istilah “Minggu Sengsara I”, “Minggu Sengsara II”, dan seterusnya. Tetapi, bagi sebagian gereja lainnya -- termasuk Gereja Katolik Roma, Anglikan, dan Lutheran -- “Masa Sengsara” (Passiontide) hanya dirayakan dua minggu menjelang Paska, dan diawali dengan “Minggu Sengsara” atau “Minggu Judica” di minggu ke-5 Masa Prapaska dan kemudian dilanjutkan dengan “Minggu Palem” atau “Minggu Palma” pada minggu ke-6.

Liturgi gereja pun mengalami perubahan pada Minggu Sengsara, misalnya ditiadakannya pembacaan Mazmur di awal ibadah serta dihapuskannya Gloria, yaitu unsur liturgi yang berisi pernyataan komitmen jemaat untuk memuliakan TUHAN dengan segenap hidupnya. Pada intinya, di Minggu Sengsara, liturgi difokuskan pada suasana khidmat menyambut Pekan Suci atau Pekan Kudus. 

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI