GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Minggu Palem


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 10 April 2019 01:09 | 526x dibaca | komentar

Hari Minggu sebelum Paska dikenal dengan sebutan “Minggu Palem” atau “Minggu Palma” untuk memperingati peristiwa saat Yesus masuk ke Yerusalem sebelum Ia disalibkan (Markus 11:1-11; Matius 21:1-11; Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19).

Disebut Minggu Palem karena pada saat Yesus masuk ke Yerusalem, orang-orang menyambutnya dengan daun palem sambil berseru-seru, “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12:13). Kemungkinan mereka tidak hanya berteriak, tetapi menyanyikannya, mengutip sebagian syair dari Mazmur 118:25-26.

Di banyak negeri di wilayah Timur Dekat, merupakan suatu tradisi dimana untuk menyambut kedatangan seseorang yang sangat dihormati, mereka menutupi jalan yang akan dilalui dengan kain atau sejenisnya, seperti ketika orang-orang Israel menyambut Yehu dalam 2Raja-raja 9:13. Penggunaan daun palem untuk Yesus mengingatkan tradisi Sukkoth (Pondok Daun) dalam hari raya Yahudi (band. Imamat 23:40). Sementara, di dalam budaya Greko-Romawi, yaitu budaya yang paling dominan di wilayah kekuasaan Romawi, daun palem adalah simbol kemenangan dan kejayaan, yang biasanya dikaitkan dengan dewi Nike atau Victoria. 

Tradisi lain di Mesir, daun palem biasanya dibawa pada saat pemakaman dan melambangkan kehidupan kekal. Dalam tradisi kekristenan di kemudian hari, daun palem menjadi simbol yang digunakan bagi orang-orang yang wafat sebagai martir untuk melambangkan kemenangan atas kematian. Daun palem juga disebutkan dalam Wahyu 7:9.

Berdasarkan petunjuk dalam Yohanes 12:1 dan 12, peristiwa dimana Yesus dielu-elukan di Yerusalem ini terjadi lima hari menjelang Paska Yahudi, sementara Yesus disalibkan sehari menjelang Paska (Yohanes 19:14). Minggu Palem menjadi pembuka Pekan Suci, yaitu pekan dimana Yesus menjalani masa sengsara hingga akhirnya disalibkan, wafat dan dikuburkan, dan merupakan pekan penutup dari Masa Sengsara.

Yang unik dari momen Minggu Palem ini adalah saat dimana Yesus berbicara dengan dua murid-Nya dan menyebut diri-Nya “Tuhan” atau Κύριος (Kurios) dalam bahasa Yunani, dimana dalam teks aslinya ditulis dengan huruf besar.

Peristiwa di Yerusalem ini dipercaya terkait erat dengan nubuatan dalam Zakharia 9:9 dan merupakan saat dimana Yesus mendeklarasikan diri-Nya adalah Raja. Tetapi, Yesus tidak menggunakan tradisi kejayaan seorang raja, sebagaimana lazim dalam tradisi Timur, yaitu menunggangi seekor kuda sebagai lambang perang, Yesus malah menggunakan keledai, yang merupakan lambang kedamaian. Artinya, Yesus tidak mendeklarasikan diri-Nya sebagai “Raja Peperangan” melainkan “Raja Damai”, menggenapi gelar yang disebutkan dalam Yesaya 9:5 שׂר־שׁלום (shar-shalōm).

Dalam Lukas 19:41 dikisahkan ketika Yesus mendekati Yerusalem, Ia melihat ke arah kota itu dan menangisinya. Ia menubuatkan akan kehancuran kota itu. Momen ini dikenal dengan sebutan Flevit super illam dalam tradisi Latin. Sementara, dalam tradisi Gereja Ortodoks Timur, hari Sabtu sebelum Minggu Palem disebut “Sabtu Lazarus” untuk memperingati peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus, sebagaimana dicatat dalam Injil Yohanes. Di Sabtu Lazarus ini, jemaat biasanya mempersiapkan daun palem yang diikat menyerupai salib untuk mempersiapkan prosesi Minggu Palem.

Di Gereja Katolik Roma dan Gereja Anglikan, biasanya terdapat ritual berkat palem di depan gereja diiringi dengan liturgi syahdu untuk memperingati sengsara Kristus. Sementara, beberapa Gereja Protestan memberikan daun palem kepada anak-anak yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi di dalam gereja.

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI