GKRIDC.COM © 2019

HUT GKRIDC:

Peripateite - Zômen: Hidup oleh Roh

Galatia 5: 16-26


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 19 Februari 2019 08:30 | 552x dibaca | komentar

Ada dua kali frasa “hidup oleh Roh” dalam keseluruhan perikop ini. Pertama dalam bentuk kalimat perintah pada ayat 16b, “hiduplah oleh Roh” diterjemahkan dari teks Yunani: pneumati peripateite, yang secara harfiah berarti “berjalanlah oleh/ dengan/ dalam Roh” (band. terjemahan King James Version). Kata perintah peripateite (berjalanlah/ hiduplah) berakar dari kata peripateô. Kata ini termasuk salah satu kata yang sering digunakan oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya. Biasanya, ada dua hal yang sering ditekankan Paulus dengan kata ini: Pertama, adanya progres (gerak maju). “Berjalan” di sini bukanlah berjalan di tempat, apalagi berjalan mundur, melainkan berjalan maju. Artinya, seseorang yang hidup oleh Roh, semestinya bergerak maju dalam keimanannya dan dalam kehidupan kerohaniannya. Kedua, mengatur atau mengendalikan diri sendiri. Jadi, “berjalan” yang Paulus maksudkan bukanlah berjalan karena dorongan faktor luar, melainkan sepenuhnya karena kesadaran diri sendiri. Dengan demikian, seseorang yang hidup dalam Roh bergerak atas dasar kesadaran sendiri, termasuk kesediaan untuk dibimbing dan diarahkan oleh Roh Kudus.

Untuk mengimbangi “hidup” (peripateô) seperti ini, maka peran Roh Kudus adalah “memimpin” dalam pengertian agesthe (ayat 18), yang berakar dari kata agô (memimpin). Pengertian agô di sini yaitu mengarahkan atau mendampingi dengan memberikan pengaruh yang terkadang bersifat desakan. Jadi, sebagai orang percaya, kita perlu menundukkan ego kita di bawah kendali Roh Kudus dan membiarkan Roh Kudus bertindak seperti guru atau panglima dalam hidup kita.

Frasa kedua muncul pada ayat 25a “hidup oleh Roh” diterjemahkan dari teks Yunani: zômen pneumati. Kata zômen (hidup) berakar dari kata zaô merujuk pada hidup yang baik dan teratur. Karenanya, peran Roh Kudus digambarkan dengan kata stoikhômen (ayat 25b), yang berakar dari kata stoikheô (memimpin). Secara harfiah, kata ini berarti “berjalan dalam iring-iringan yang teratur”. Artinya, sebagai orang percaya, kita cukup mengikuti arah dan menjaga diri kita agar tidak keluar dari barisan yang ada.

Dari kedua frasa di atas, maka jelaslah bahwa “hidup oleh Roh” berbicara tentang proses kepemimpinan Roh Kudus dalam hidup kita, baik dalam proses pembentukan ke arah yang lebih baik, maupun dalam proses memelihara keteraturan hidup kita. Pertanyaannya, darimana kita mengetahui bahwa ada Roh Kudus dalam diri kita?

Dalam Kisah Para Rasul 2: 38, Rasul Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus”. Setiap orang yang telah bertobat dan dibaptis, maka ia telah menerima Roh Kudus di dalam dirinya. Jadi, baptisan bukanlah ukuran seseorang telah menerima Roh Kudus (band. Kisah Para Rasul 8: 16), melainkan dibutuhkan “pertobatan”. Dalam bahasa Yunani, “bertobat” menggunakan kata metanoeô, yang secara harfiah berarti “mengalami perubahan pikiran”.

Cara berpikir seseorang menentukan sikap dan perilakunya sehari-hari. Karena itu, pertobatan yang paling hakiki adalah bagaimana kita mengalami perubahan paradigma dengan memiliki cara berpikir seperti Kristus (1Korintus 2: 16). Sebab, jika perubahan sikap dan perilaku kita hanya didorong oleh ketakutan akan hukuman atau neraka, maka fungsi dan peran Gereja tidak akan jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi pada zaman Yesus. Mereka bertindak dengan cara menakut-nakuti umat jika umat tidak mau tunduk dan patuh pada “hukum Taurat”. Model pendekatan seperti ini tidak disukai oleh Yesus, sebab tidak mendorong umat untuk menyadari pentingnya perubahan sikap dan perilaku itu. Karena itu, Yesus melakukan pendekatan melalui penyadaran, yang membutuhkan respon pikiran yang matang.

Namun, kita harus membedakan hal ini dengan kemampuan intelektual yang dipahami secara umum. Sebab, kematangan cara berpikir yang dimaksud dalam Alkitab tidaklah sama dengan kecerdasan akademik yang kita pahami sekarang. Pengetahuan dan hikmat yang berkali-kali disebutkan dalam Alkitab, sama sekali tidak fokus hanya pada persoalan kepintaran belaka, melainkan bagaimana semuanya itu secara integral bisa kita jiwai dan pada akhirnya mengubah sikap hidup dan perilaku kita menjadi lebih baik. Contoh sederhana, tidak semua orang yang pintar, yang tahu banyak pengetahuan, tapi memiliki perilaku yang baik juga. Banyak di antara mereka yang cenderung arogan, merasa paling tahu, dan pada akhirnya meniscayakan pengetahuan lain di luar dirinya. Padahal, dalam kesadarannya mereka tahu bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam pengetahuan itu sendiri.

Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang “perubahan cara berpikir” atau “pertobatan”, maka ini haruslah dilihat dalam keseluruhan aspek dari “berpikir” itu sendiri. Bagaimana ia dihubungkan dengan Sang Ilahi, manusia, dan dunia ciptaan-NYA, untuk menemukan kesempurnaan dari “pengetahuan” itu sendiri. Karena segala sesuatu berasal dari Allah, maka DIA jugalah yang merupakan Sumber Pengetahuan tak terbatas. Ketika kita dibangun dengan kesadaran yang demikian, maka kita tentu akan menyadari bahwa diri kita sangatlah terbatas dan sangatlah bergantung pada pertolongan dan kuasa TUHAN. Sikap semacam inilah yang layak untuk “dipenuhi dengan Roh Kudus”. Jika kita telah memiliki cara berpikir yang demikian, maka sesungguhnya, Roh Kudus telah ada di dalam diri kita. Selanjutnya adalah bagaimana kita “hidup oleh Roh” itu.

Dalam Galatia 5: 16-26, Rasul Paulus secara gamblang menjelaskan bagaimana orang yang “hidup oleh Roh”, dimana pertama-tama ia haruslah tidak menuruti “keinginan daging” (epithumian sarkos). Dalam surat Roma, Rasul Paulus memberi dua indikasi “keinginan daging”, yaitu “maut” (Roma 8: 6) dan “perseteruan terhadap Allah” (Roma 8: 7). Dengan kata lain, “keinginan daging” adalah “dosa”. Buah dari “keinginan daging” adalah “perbuatan daging” (erga tês sarkos), yaitu: “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora dan sebagainya” (Galatia 5: 19-21). Sementara, orang “hidup oleh Roh”, senantiasa menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5: 22-23a). [ ]

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI