GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Roh Anak-anak Allah

Roma 8:12-17


Penulis: Redaksi | pada 20 Juni 2019 05:00 | 111x dibaca | komentar

“Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. 

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. 

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’

Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. 

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. ” (Roma 8:12-17)

Konsep Allah yang disapa sebagai “Bapa” bukanlah konsep baru bagi orang-orang Yahudi. Di dalam Yesaya 63:16 dan 64:8 kita bisa membaca bagaimana metofora “Bapa” sudah diberikan kepada Allah, bahkan hal yang sama sering dijumpai juga dalam doa-doa Yahudi.

Tetapi, pemaknaan “Bapa” dalam tradisi Yahudi tidaklah sepenuhnya sama dengan pemaknaan “Bapa” yang diperkenalkan Yesus, dan kemudian diwariskan turun-temurun dalam tradisi gereja.

Penjelasan Paulus dalam nats kita hari ini memberi pemaknaan yang penting untuk kita memahami tentang Bapa, terutama dikaitkan dengan Roh Kudus, sehingga nats ini memberi gambaran menarik tentang Trinitas.

Karena Ia adalah “Bapa”, maka Ia tidak mungkin memberikan kepada kita “roh perbudakan” (pneuma douleias). Pernyataan ini untuk menepis bahwa pengenalan kita kepada Bapa melalui Kristus bukanlah didasarkan pada pengenalan berdasarkan hukum, melainkan atas dasar kasih Bapa yang unik itu. Hukum mendatangkan rasa takut, sebaliknya kasih mendatangkan damai sejahtera.

Dengan demikian, Trinitas menggambarkan kasih dalam persekutuan, dimana Bapa, Anak dan Roh Kudus berkolaborasi dalam kasih yang tanpa batas dan mengundang kita untuk masuk dalam persekutuan kasih itu. Selanjutnya, kita pun didorong untuk membangun persekutuan kasih dengan sesama, sehingga kasih ditularkan kepada dunia ini.

Itulah sebabnya, dalam setiap tingkah laku kita, hendaknya senantiasa diwarnai oleh kasih yang unik itu. Paulus menggunakan istilah “dipimpin Roh Allah”, artinya “tidak hidup menurut daging”, sebab “daging” tidak mengenal kasih.

Maka, marilah kita evaluasi setiap pikiran, perkataan dan perbuatan kita, apakah kita sungguh-sungguh sudah diwarnai dengan kasih atau jangan-jangan kita masih seperti orang yang hidup di bawah hukum, sehingga lebih sering menuntut orang berdasarkan “benar-salah”. Amin!

 

Refleksi:

  • Pernahkah Anda begitu kuat menghukum atau bahkan membenci seseorang karena menganggap perbuatannya salah?
  • Apakah Anda berpikir bahwa sikap Anda itu dipimpin oleh Roh Kudus?
  • Bagaimana anjuran Kristus untuk menghadapi orang-orang yang berbuat salah?

Penulis

author image
Redaksi

Redaksi GKRIDC.com adalah tim penulis yang bertanggung jawab melakukan penyuntingan naskah untuk website ini


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI