GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Terbarkan Shalom

Yeremia 29:7


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 26 Maret 2019 17:42 | 412x dibaca | komentar

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7)

Bulan depan kita akan mengikuti proses pemilihan umum, dan beberapa bulan menjelangnya, pemikiran teologi Kristen kembali diwarnai dengan pertanyaan seputar hubungan antara gereja dengan negara atau antara agama dengan politik.

Memang, pemikiran Kristen di Indonesia sangatlah didominasi oleh pengaruh Eropa, dimana terdapat pemisahan yang ketat antara urusan negara dengan gereja. Negara tidak boleh memasukkan pemikiran gereja ke dalam urusannya, sebaliknya gereja tidak bisa diatur atau dikendalikan oleh negara. Model hostile relationship semacam ini ternyata berdampak buruk bagi gereja. Jika kita melihat kondisi gereja-gereja di Eropa, banyak yang kosong dan ditinggalkan orang.

Sebaliknya, jika kita membandingkan kondisi di Amerika, dimana relasi antara gereja dengan negara cenderung lebih akrab, tidak ada pemisahan yang ketat seperti di Eropa, maka perkembangan gereja di Negeri Paman Sam itu relatif lebih positif, bahkan gereja masih bisa memberikan pengaruh dalam kebijakan-kebijakan politik.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Indonesia bukan Eropa yang urusan agama dengan negara terpisah secara ketat. Konstitusi kita bahkan di dalamnya terkandung unsur-unsur agama. Kita mensyukuri kemerdekaan negara kita sebagai “rahmat Allah”, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Di batang tubuh UUD kita, ada pasal dan ayat yang berbicara tentang agama, bahkan dalam struktur kebinet, kita punya Kementerian Agama. Jadi, kita tidak bisa sepenuhnya mengadopsi teologi Eropa ke dalam pemikiran teologi di Indonesia. Gereja harus memikirkan ulang konsep terbaik dalam berbicara tentang relasi gereja dengan negara di Indonesia, sehingga gereja tidak menjadi pasif dalam menyikapi isu-isu politik. Minimal, gereja-gereja ikut menyiapkan kader-kader politik yang berjiwa kebangsaan tetapi sekaligus punya spirit kerohanian yang baik, sehingga mereka kelak mampu melawan ketidakadilan, mengentaskan kemiskinan, memberantas korupsi, berjuang atas nama kemanusiaan, dan berbagai spirit positif lainnya, yang lahir dari spirit misi gereja bagi dunia.

Karena itu, marilah kita refleksikan dua hal penting yang ditekankan pada ayat ini terkait shalom atau “damai sejahtera”. Pertama, wədirshū eth-shalōm atau secara harfiah “carilah damai sejahtera atau shalom dengan teliti” atau dengan kata lain, usahakanlah damai sejahtera itu dengan segala daya upaya. Damai sejahtera atau shalom bukan sebatas salam atau sapaan dalam perjumpaan, tetapi perlu diupayakan bersama-sama oleh gereja dengan melibatkan semua elemen dalam masyarakat.

Ada dua unsur utama dari kata shalom ini, yaitu perdamaian dan kesejahteraan. Perdamaian adalah bagaimana kita menciptakan relasi yang baik dan positif di antara semua orang dengan meminimalisasi konflik sehingga tercipta keharmonisan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjelang pemilu, perdamaian menjadi salah satu isu penting di negara ini, sebab masyarakat semakin terkotak-kotak akibat perbedaan pilihan, ditambah lagi, banyak pihak tidak bertanggung jawab yang sengaja menciptakan konflik dalam masyarakat, menebar ketakutan dan memecah belah dengan isu SARA. Ini merupakan bentuk pengkhiatan terhadap semboyan bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika, juga bentuk perlawanan terhadap sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”. Bagaimana bisa kita memilih partai atau caleg yang senang merusak elemen penting bangsa ini, yaitu perdamaian?

Gereja harus serius menyikapi upaya-upaya menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa, sebab bagaimana pun tidak sedikit juga orang-orang Kristen yang terlibat dalam upaya-upaya itu. Dengan terus-menerus mengingatkan di mimbar-mimbar khotbah, diharapkan dapat mengubah paradigma orang tentang bagaimana menghargai perdamaian demi keutuhan bangsa dan negara kita.

Unsur kedua yaitu kesejahteraan, hal ini menyangkut ekonomi dan pendidikan, sebab dengan ekonomi yang baik dan pendidikan yang layak, maka rakyat bisa memperbaiki kualitas hidupnya dan mengangkat harkat dan martabatnya. Gereja perlu hadir dalam upaya memberdayakan ekonomi jemaat serta memfasilitasi pendidikan yang layak bagi jemaat dengan mengerahkan setiap potensi yang ada dalam gereja itu sendiri.

Hal kedua yang ditekankan pada ayat ini adalah wəhithpaləlū... el-YHWH atau “berdoalah kepada TUHAN”. Jadi, selain perlu diperjuangkan dengan segenap daya, damai sejahtera juga perlu didoakan dalam setiap pokok doa kita. Bagaimana pun, kekuatan kita bergantung sepenuhnya pada TUHAN. Karena itu, kita perlu memohon pertolongan TUHAN bagi upaya mewujudnyatakan damai sejahtera di tengah bangsa dan negara kita. Amin!

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI