GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Internasional

Hubungan Uni Emirat Arab dengan Israel di Era MBZ

Israel menjadi pemasok peralatan intelijen dan pesawat F-16 modifikasi ke Abu Dhabi


14 Juni 2019 20:57 | Redaksi | 110x dibaca | komentar

Baru-baru ini, The New York Times mempublikasikan profil Mohammed Bin Zayed (MBZ), putra mahkota dan penguasa de facto Abu Dhabi. Ia dibandingkan dengan Mohammed Bin Salman (MBS), putra mahkota Arab Saudi yang dikenal kejam dan kontroversial.

Artikel itu menyinggung soal hubungan antara Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA), termasuk bagaimana Israel memasok peralatan intelijen serta jet tempur F-16 buatan AS yang telah dimodifikasi oleh Israel.

Peralatan intelijen diduga melibatkan NSO dan Verint, dua perusahaan yang berbasis di Herzliya, Israel.

Verint, yang menyebut dirinya terkemuka dalam industri intelijen, memproduksi dan menjual perangkat lunak untuk alat-alat penyadapan telepon, faks, komunikasi radio dan komputer, serta menganalisa data-data yang diperoleh.

Sementara, dalam penjualan F-16, Times tidak menjelaskan perusahaan Israel mana yang terlibat aktif. Di Israel sendiri, ada dua perusahaan besar yang bersaing ketat dalam memodifikasi F-16, Israel Aerospace Industries (IAI) dan Elbit Systems.

Pada masa lalu, keduanya bahkan menggunakan kampanye kotor untuk memenangkan tender internasional. Namun, ketika terjadi insiden Kolombia, Kementerian Pertahanan Israel akhirnya turun tangan dan memaksa kedua perusahaan ini untuk bekerja sama dalam berbagai kasus sensitif, termasuk menjual senjata-senjata ke negara-negara Arab dan Muslim.

Sebagian orang berasumsi bahwa penjualan F-16 ke Abu Dhabi bukanlah kerja sama swasta dengan kerajaan itu, tetapi melibatkan usaha patungan Kementerian Pertahanan Israel dengan IAI dan Elbit. Keterlibatan kementerian pertahanan berarti juga melibatkan pemerintah AS, setidaknya kesepakatan itu haruslah mendapatkan persetujuan Washington.

Israel membutuhkan lisensi dari Pentagon dan Gedung Putih dalam setiap kesepakatan dengan negara lain yang membutuhkan sistem militer buatan AS. Dalam kasus Abu Dhabi, persetujuan itu tentulah tidak sulit, sebab Presiden Trump menganggap Abu Dhabi, dan khususnya MBZ, sebagai sekutu dan sahabat.

Selama seperempat abad terakhir, MBZ, yang kini berusia 58 tahun, telah mengubah wilayah kekuasaannya yang kecil menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah, sekaligus menjadi sumber gerakan ketidakstabilan di wilayah tersebut.

Kerja sama dengan Israel didorong oleh dua kepentingan yang sama, yaitu permusuhan terhadap Iran dan kekhawatiran terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin.

Untuk itu, MBZ selama bertahun-tahun telah membeli senjata dan peralatan militer lainnya senilai ratusan miliar dollar AS, baik dari AS maupun dari Israel.

MBZ sendiri dibesarkan dalam bimbingan seorang pengkhotbah Islam radikal, yang mencoba mencuci otaknya dengan gagasan-gagasan militan, tetapi ia menolak khotbah sang tutor, bahkan mengaku trauma dengan ajaran-ajaran itu.

Alih-alih menjadi militan Islam, MBZ justru belajar pendidikan Barat dan semakin benci dengan Ikhwanul Muslimin. Sikapnya itu terlihat jelas dari kebijakan diplomatiknya, termasuk bagaimana ia membangun sekutu di kawasannya.

Dia menjadi saingan sengit Qatar dan Turki, yang para pemimpinnya mendukung cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di seluruh Arab. Ia menjadi sahabat karib Bahrain, Mesir, Yordania dan juga Arab Saudi, yang semuanya menentang Ikhwanul Muslimin.

Presiden Mesir, Abdel Fatah al-Sisi, yang merupakan musuh besar Hamas, menganggap MBZ sebagai sekutu kuat. Hamas, yang adalah perpanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin Mesir di Palestina, kerap berhadapan dengan kebijakan-kebijakan al-Sisi yang kurang menguntungkan mereka.

Dalam hal pandangannya terhadap Hamas, MBZ memang tidak sepenuhnya sejalan dengan Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Pasalnya, Netanyahu tidak menganggap Hamas sebagai musuh utama, tetapi justru menyebut mereka “frenemy”—kombinasi antara friend (sahabat) dan enemy (musuh).

Pendekatan politik Netanyahu disebabkan karena Hamas menguasai Jalur Gaza serta menentang Otoritas Palestina (PA) dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Perlawanan Hamas terhadap PA dan PLO sangat menguntungkan bagi Netanyahu untuk mencapai tujuan akhirnya melemahkan gagasan nasional Palestina. Netanyahu juga membutuhkan Hamas untuk mematikan ide persatuan Gaza dan Tepi Barat. [ ]