GKRIDC.COM © 2019

HUT GKRIDC:

Nasional

Ibadah Etnik Batak: “Aha Do I Na Di Tanganmi?”

Mengajak jemaat terlibat sesuai dengan potensi yang ada


23 Februari 2019 01:37 | Redaksi | 440x dibaca | komentar

Ibadah etnik perdana sukses diselenggarakan oleh GKRIDC Men (kaum pria) pada Jumat malam (22/2/2019) dengan menampilkan puji-pujian dan penyembahan dalam bahasa Batak-Toba. Selain itu, ibadah etnik perdana ini juga diiringi dengan alat musik tradisional Batak, uning uningan

Dalam sambutannya, Capt. Shadrach Nababan, selaku koordinator ibadah etnik Batak, mengatakan bahwa maksud dan tujuan diadakannya ibadah etnik tersebut, selain untuk memberdayakan potensi setiap anggota jemaat, juga sejalan dengan tema GKRIDC di bulan Februari, yaitu Go, Grow, Glorify. Puncak dari ibadah etnik ini akan diadakan pada bulan Oktober mendatang melalui ibadah lintas budaya nusantara.

“Oleh karena itu, saya mengajak partisipasi semua jemaat, tanpa terkecuali, untuk aktif mendukung ibadah etnik yang akan kita selenggarakan. Mari kita juga mengajak our friends and families (sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat kita) yang kita bisa jangkau,” ungkap mantan pilot Garuda Indonesia, yang juga kerap menjadi narasumber di berbagai stasiun televisi nasional itu.

Sementara itu, Pdt. Robert Siringoringo mengajak seluruh jemaat untuk memulai dari potensi yang ada. Berangkat dari pertanyaan TUHAN kepada Musa dalam Keluaran 4:2, Pdt. Siringoringo mendorong jemaat untuk tidak ragu berpartisipasi dalam pelayanan di ladang TUHAN.

Pertanyaan TUHAN kepada Musa, “Apakah yang ditanganmu itu?” atau dalam terjemahan Alkitab bahasa Toba, Aha do i na di tanganmi?” merupakan bentuk motivasi TUHAN kepada Musa untuk bergerak dari apa yang ada. Tidak perlu menunggu sampai punya harta yang banyak, waktu yang cukup, relasi yang luas atau pendidikan yang tinggi untuk memulai sebuah pelayanan, melainkan kita perlu segera bertindak dengan apa yang kita miliki saat ini.

Di penghujung ibadah, Gembala Sidang GKRIDC, Pdt. Esther Rorimpandei mengapresiasi program ibadah etnik ini sebagai kegerakan awal jemaat untuk membangun relasi yang lebih baik dan berpartisipasi dalam program-program gereja. Hal senada disampaikan oleh Dkn. Hotner Damanik, selaku Koordinator GKRIDC Men terhadap peran serta semua jemaat dalam menyukseskan ibadah etnik perdana tersebut. Dkn. Damanik berharap, setelah ibadah etnik Batak, akan dilanjutkan dengan ibadah-ibadah etnik lainnya, seperti Kupang, Nias, dan Tionghoa.

Nama L.A.P.O (dibaca: el-e-pi-o) dipilih sebagai nama ibadah etnik Batak ini. Nama ini merupakan singkatan dari Loving (mengasihi), Abundant (melimpah), Peaceful (damai), dan Outreach (menjangkau), yang diharapkan menjadi nilai-nilai yang akan terus dipegang dalam ibadah-ibadah etnik Batak berikutnya.

Turut ambil bagian dalam ibadah ini adalah GKRIDC Debora (kaum perempuan) dan GKRIDC Kids (kaum anak-anak), yang masing-masing membawakan kesaksian pujian dalam bahasa Batak-Toba. Selain itu, diperkenalkan juga paduan suara GKRIDC Men yang diberi nama L.A.P.O, sesuai nama ibadah etnik Batak ini. Pada bulan Maret nanti, GKRIDC akan melanjutkan dengan ibadah etnik Indonesia Timur, yang rencananya akan diadakan pada Minggu sore, 24 Maret 2019. Nantikan informasi selanjutnya ;)