GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Internasional

Otoritas Palestina Larang Hizbut Tahrir Sholat Idul Fitri di Sebuah Masjid di Hebron

Pasukan keamanan Otoritas Palestina menangkap sejumlah anggota dan pendukung Hizbut Tahrir di Hebron


05 Juni 2019 06:12 | Redaksi | 37427x dibaca | komentar

Pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) melarang anggota dan pendukung Hizbut Tahrir untuk mengadakan sholat Idul Fitri di sebuah masjid di Hebron, kata seorang pejabat senior PA.

Gambar dan video yang dipublikasikan di media sosial menunjukkan pasukan keamanan Palestina menahan para pendukung Hisbut Tahrir di daerah sekitar Masjid Al-Abrar.

Kelompok Hizbut Tahrir, yang mendukung pembentukan kekhalifahan, menyatakan pada hari Senin bahwa Idul Fitri akan dimulai pada malam itu. Hal itu bertentangan dengan Mohammed Hussein, mufti besar Yerusalem yang mengumumkan bahwa perayaan Idul Fitri akan dimulai Selasa malam.

“Pendukung dan anggota Hizbut Tahrir mencoba melakukan sholat di Masjid Al-Abrar di Hebron, tetapi pasukan keamanan kami menghentikan mereka dari tindakan tersebut,” kata pejabat senior, yang bekerja di markas PA di Hebron.

“Sementara mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan di rumah mereka, mereka tidak memiliki hak untuk menggunakan masjid untuk memberontak terhadap posisi resmi Palestina ketika Idul Fitri dimulai”.

Menurut tradisi Islam, Idul Fitri dimulai ketika ada penampakan bulan baru setelah Ramadhan. Meski begitu, Hizbut Tahrir bukanlah satu-satunya pihak yang mengumumkan dimulainya Idul Fitri pada hari Senin. Para ulama di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga mengumumkan pada hari yang sama.

Baher Saleh, seorang pejabat di kantor media Hizbut Tahrir, menolak mengomentari insiden Selasa itu dalam wawancara dengan Times of Israel. Menurutnya, pihaknya tidak akan berkomunikasi dengan media massa Israel. Meski begitu, kepada Reuters, Saleh mengungkapkan bahwa PA menangkap 13 orang di sekitar masjid.

Bassam Shweiki, seorang aktivis yang berbasis di Hebron, mengecam tindakan pasukan keamanan PA karena mencegah pendukung kelompok Islam untuk berdoa di tempat ibadah Muslim.

“Bagaimanapun, tindakan pasukan PA tidak dapat diterima. Masjid adalah tempat spiritual dan tidak pantas bagi mereka untuk menggunakan kekuatan,” katanya melalui panggilan telepon kepada Times of Israel. “Semua orang harus bisa beribadah sesuai keinginannya”.

Pejabat di Hebron menuduh Hizbut Tahrir berusaha merusak Otoritas Palestina dengan mengumumkan perayaan Idul Fitri dimulai pada hari Senin malam.

“Apa yang mereka lakukan adalah langkah politik,” katanya. “Mereka melakukan itu untuk merusak kedaulatan PA, yang merupakan sesuatu yang tidak bisa kita tolerir”.

Jihad Harb, seorang peneliti di Ramallah, mengatakan bahwa PA memang terkadang menindak kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir.

“Ada saat dimana PA tidak mengizinkan Hizbut Tahrir mengadakan pertemuan publik, tetapi ada juga banyak kesempatan lain dimana kegiatan mereka diizinkan,” katanya sembari menambahkan bahwa pasukan keamanan PA seharusnya tidak perlu khawatir terhadap Hizbut Tahrir sebab anggota-anggotanya belum menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.

Hizbut Tahrir didirikan pada 1953 oleh Taqi al-Din al-Nabhani, seorang sarjana Muslim dan juga hakim pengadilan Islam yang lahir di daerah Haifa.

Omran Risheq, seorang analis Palestina, menggambarkan ideologi kelompok itu dalam sebuah artikel yang terbit tahun 2008 oleh Carnegie Endowment for International Peace, “Hizbut Tahrir membuat gagasan menghidupkan kembali kekhalifahan sebagai semboyan permanen dari aktivitas politik dan tugas keagamaannya, sebagai tambahan, menjadi obat mujarab untuk masalah politik, ekonomi, dan sosial dunia Muslim”.

Harb menambahkan bahwa Hizbut Tahrir tidak memiliki banyak anggota dibandingkan kelompok-kelompok lainnya di Palestina, seperti Fatah.

“Sebagian besar anggota mereka tinggal di Hebron dan Yerusalem,” katanya. Sekitar 5.000 sampai 7.000 warga Palestina secara aktif mendukung kelompok ini. [ ]