GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Youth

Remaja Ini Mengaku Diancam Ayahnya Sendiri Karena Menjadi Kristen

Ia sedang dalam pelariannya untuk menghindari ancaman ayahnya


15 Juni 2019 05:02 | Redaksi | 208x dibaca | komentar

Seorang remaja berusia 18 tahun sedang dalam pelariannya di Ghana karena ayahnya mengancam akan membunuhnya setelah ia menjadi Kristen.

Mariam Seidu telah bersembunyi sejak Maret sejak ayahnya menyewa pemuda untuk menyerangnya di gereja sebagaimana dilaporkan oleh sebuah situs berita Ghana, Peace FM. Dia berhasil selamat dari upaya itu, tetapi kini ia hidup ketakutan.

“Ayah saya bilang karena gereja maka ia akan menolak saya. Dia memberi tahu saya jika saya masih pergi ke gereja, ia akan membawa cutlass [pedang berukuran pendek] ke gereja dan membunuh saya,” katanya kepada Peace FM.

Sang ayah sendiri, Abubakar Seidu, mengaku berusaha membawa putrinya kembali ke rumah. Ia membantah telah mengancam untuk membunuh putrinya itu. Namun, dia mengatakan bahwa jika putrinya tetap menjadi Kristen, maka ia tidak akan mengakuinya lagi.

“Dia tidak bisa hidup di bawah kemurahan hati saya sebagai seorang ayah tetapi menentang perintah dan keyakinan saya,” katanya kepada Peace FM. “Dia telah berusia 18 tahun, sehingga dia merasa dan berpikir bahwa dia bisa mengambil keputusannya sendiri, kan? Dia harus terus maju, tetapi saya tidak akan pernah membiarkan dia di rumah saya jika ia tetap pada keyakinan barunya. Jika dia bersikeras, maka kami berpisah”.

Mariam memuji iman Kristennya karena telah menyelamatkannya dari kehidupan amoral.

“Awalnya, saya adalah gadis yang keras kepala,” katanya. “Saya dulu pergi keluar dengan teman-teman saya, saya dulu ke klub, memakai shisha [sejenis rokok], saya biasa minum alkohol... tapi saya punya seorang teman”.

Temannya itu, menurutnya, adalah seorang kristen yang mengunjunginya bersama tim penginjilannya. Ketika melihat mereka datang, dia akan berlari sebab dia tidak menginginkan Injil.

Namun, ketika ia jatuh sakit, ia memutuskan untuk ke gereja bersama temannya itu.

“Ketika kami pergi, dia berdoa untuk saya, dan ketika saya tiba di rumah, saya merasa lebih baik,” kata Mariam.

Ia merasa tidak terpenuhi kebutuhan rohaninya dalam agamanya yang lama.

“Aku tidak bisa berada di sana seperti itu,” katanya.

Namun, ayahnya mengatakan bahwa dia “siap masuk penjara” untuk membawa putrinya itu kembali ke agamanya.

“Saya hanya mencoba untuk menempatkan rasa takut akan Allah kepadanya ketika saya mengancam akan masuk penjara karena keputusannya itu,” kata Abubakar. [ ]