DC News:

SEBELUMNYA

INTERNASIONAL Paus Fransiskus Tiba di Irak Untuk Mendukung Umat Kristen Kuno di Negara Itu

BERIKUTNYA

INTERNASIONAL Sultan Selangor Melarang Penggunaan Kata ‘Allah’ oleh Umat Kristen

Batu-batu Dasa Titah
internasional

Salinan Kuno Dasa Titah Menuai Kontroversi

Sebuah teks kuno alkitabiah, yang selama abad ke-19 dianggap palsu, baru-baru ini diklaim asli bahkan dianggap merupakan teks pendahulu kitab Ulangan, kata seorang ahli.

Kitab Ulangan menggambarkan beberapa peristiwa dalam sejarah awal Israel dan menceritakan beberapa hukum yang diberikan Tuhan, termasuk Dasa Titah atau Sepuluh Perintah. Banyak ahli percaya bahwa kitab ini ditulis sekitar 2.700 tahun yang lalu, sementara, teks kuno yang sedang heboh di kalangan para ahli itu diklaim ditulis lebih awal.

Klaim tersebut telah menarik perhatian banyak media, termasuk dengan munculnya artikel panjang di The New York Times. Namun, sebagian besar ahli justru mengungkapkan keraguannya, dan tetap meyakini bahwa teks kuno itu palsu.

Teks tersebut ditulis dalam bahasa paleo-Ibrani di atas 16 potongan kulit. Pada tahun 1883, Moses Wilhelm Shapira, seorang pedagang barang antik di Yerusalem, membawa teks itu ke Eropa, dimana ia menunjukkannya kepada komite ahli di Jerman, yang kemudian menyebut bahwa teks itu palsu.

Selanjutnya, Shapira  membawa teks itu ke Inggris dan menawarkan untuk menjual potongan-potongan itu kepada British Museum senilai satu juta pound. Tawaran itu ditolak oleh seorang ahli di museum itu dengan alasan yang sama, bahwa teks itu palsu. Setahun kemudian, Shapira meninggal karena bunuh diri di Belanda.

Sepeninggal Shapira, teks itu dijual oleh istrinya kepada seorang penjual buku bernama Bernard Quaritch. Namun, sejak tahun 1900, teks itu dinyatakan hilang dan menyisakan salinan-salinan tulisan tangan, yang masih ada hingga sekarang.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Zeitschrift für die Alttestamentliche Wissenschaft edisi Maret, dan dalam buku terbaru berjudul “The Valediction of Moses: A Proto-Biblical Book” (Mohr Siebeck, 2021), Idan Dershowitz, ketua Alkitab Ibrani dan eksegesisnya di Universitas Potsdam, Jerman, menjelaskan mengapa ia menyatakan bahwa teks kuno itu otentik dan mendahului Kitab Ulangan.

Teks kuno, yang oleh Dershowitz disebut “Pidato Perpisahan Musa”, menceritakan kisah dimana Tuhan memerintahkan Musa untuk menaklukkan tanah yang dikuasai oleh seorang raja bernama Sihon. “Musa dan orang-orang Israel kemudian menyerang Sihon di [sebuah tempat bernama] Jahaz, membunuh semua orang, dan merebut semua kota milik raja itu. Itu adalah narasi singkat dan lugas,” kata Dershowitz dalam bukunya.

Meskipun lebih pendek dibanding narasi dalam Kitab Ulangan, tetapi Dershowitz mengatakan bahwa teks itu memuat Dasa Titah. Kedua teks tersebut juga menceritakan tentang penaklukkan tanah Sihon, tetapi Kitab Ulangan memasukkan penjelasan cerita yang lebih panjang.

Dershowitz mengatakan bahwa teks kuno ini, dengan narasinya yang lebih pendek, ditulis sebelum Kitab Ulangan. “Jauh dari turunan [kitab] Ulangan, teks ini, pada kenyataannya, adalah nenek moyang dari Kitab Ulangan,” tulisnya dalam jurnal.

Berbagai argumen pendukung disampaikan oleh Dershowitz. Salah satunya adalah catatan Saphira sendiri yang menyatakan bahwa para pedagang barang antik kesulitan memahami teks tersebut. Pernyataan itu, menurut Dershowitz, seharusnya bisa menjadi bukti bahwa Saphira sendiri tidak memalsukan dokumen itu.

Selain itu, Dershowitz menilai bahwa kisah bagaimana teks itu ditemukan sangat mirip dengan bagaimana ditemukannya Gulungan Laut Mati pada tahun 1940-an. Teks itu ditemukan oleh orang Badui di sebuah gua dekat Laut Mati, di atas Wadi al-Mujib pada tahun 1878. Saphira membeli teks itu dengan orang Badui dengan harga yang wajar.

Masih banyak argumen Dershowitz untuk mendukung kesimpulannya, misalnya terkait penggunaan kata-kata dalam bahasa paleo-Ibrani, yang tidak begitu dikenal pada abad ke-19.

Sejumlah ahli telah dimintai pendapat mereka mengenai teks kuno tersebut, tetapi sebagian besar dari mereka menganggap teks kuno itu palsu. Menurut mereka, teks itu telah hilang selama lebih dari satu abad, sehingga mustahil untuk dilakukan pengujian ilmiah. Selain itu, Shapira memiliki rekam jejak dalam memperdagangkan barang palsu. Pada tahun 1870-an, Saphira menjual beberapa benda yang diduga dibuat oleh orang Moab kuno, dan ternyata benda itu palsu.

Selain itu, tulisan pada teks itu mengandung sejumlah hal yang tidak lazim, yang menunjukkan adanya pemalsuan. Hal tersebut ditegaskan oleh Christopher Rollston, seorang profesor bahasa dan sastra Semit Barat Laut di Universitas George Washington. Hal serupa disampaikan oleh Sidnie White Crawford, profesor emeritus di Universitas Nebraska-Lincoln. Menurutnya, studi paleografis sebelumnya dari teks tersebut telah menemukan adanya fitur yang tidak lazim, yang mengindikasikan pemalsuan.

Dershowitz membantah hal tersebut. Menurutnya, kesalahan paleografis yang diidentifikasi oleh para ahli kemungkinan disebabkan karena tidak adanya teks asli untuk dipelajari. Para ahli abad ke-19 bisa saja melakukan kesalahan tersebut saat mereka menyalin teks dengan tangan. Dengan kata lain, teks asli mungkin terlihat berbeda dengan salinan tangan yang masih ada hingga saat ini.

Beberapa ahli yang juga menganggap teks kuno tersebut palsu mencoba bersikap netral dengan memberikan opsi terbuka adanya kemungkinan bahwa teks itu asli. Masalahnya, menurut Michael Langlois, seorang profesor teologi di Universitas Strasbourg, Prancis, fragmen asli dari teks itu tidak ada, sehingga sulit membuktikan keasliannya. Langlois menilai bahwa fragmen aslinya bisa saja asli. []

Bagaimana pandangan Anda tentang berita ini?

Bagikan berita ini kepada yang lain:

Tanggapan

Yang Terbaru:
Video Terbaru: