GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Gereja

Sinode Katolik Membahas Pelonggaran Selibat dan Pelayanan Kaum Perempuan

Sinode Katolik tengah menggodok soal pelonggaran selibat dan pelayanan kaum perempuan


11 Oktober 2019 07:34 | Redaksi | 210x dibaca | komentar

Para pemimpin Gereja Katolik Roma tengah berkumpul selama tiga minggu guna membahas masa depan pelayanan mereka di Amazon. Di antara isu-isu yang dibahas dalam sinode itu antara lain masalah kekurangan imam yang sangat kronis, peran kaum perempuan dalam kepemimpinan gereja, dan degradasi lingkungan.

Sinode kali ini dipandang penting, sebab dibanding dengan dua Paus sebelumnya, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, Paus Fransiskus dinilai punya pandangan yang lebih dari sekedar simbolis, sebagaimana dikemukakan oleh Christoper White dari Crux.

White mencontohkan bagaimana Paus Fransiskus mengeluarkan dokumen yang memungkinkan penerimaan kembali bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali.

Salah satu isu menarik yang dibahas kali ini adalah masalah selibat bagi para imam. Menurut White, kemungkinan sinode ini akan melonggarkan persyaratan itu karena masalah kekurangan imam di wilayah Amazon.

Sinode sangatlah penting bagi Gereja Katolik Roma, sebab sinode menjadi dewan penasehat bagi Paus mengenai topik-topik tertentu atau wilayah tertentu.

Bagi Paus Fransiskus, sinode kali ini merupakan sinode keempat, dimana dalam dua sinode pertama membahas soal keluarga, sedangkan sinode ketiga membahas tentang kaum muda dan masa depan gereja. Sinode keempat ini secara khusus membahas tentang Amazon.

Amazon sedang mengalami krisis jumlah imam, sementara imam memiliki peran sangat penting bagi Gereja Katolik Roma. Hanya imam yang diperbolehkan mengelola sakramen tertentu, khususnya Ekaristi. Dalam Konsili Vatikan II dikatakan bahwa Ekaristi merupakan “sumber dan puncak dari iman Katolik”.

Di wilayah Amazon, satu imam harus melayani 15.000 hingga 30.000 umat, tergantung wilayah. Hal ini dipicu oleh semakin menurunnya populasi umat Katolik di wilayah itu. Sebagai perbandingan, 50 tahun silam, hampir semua penduduk Brasil adalah Katolik, tapi sekarang, hanya tersisa 60-65 persen.

Menurunnya populasi umat Katolik juga berdampak pada berkurangnya jumlah imam. Sementara, persyaratan selibat dianggap menjadi salah satu hambatan penambahan jumlah imam. Karenanya, melonggarkan syarat ini bisa menjadi salah satu solusi. Menurut White, pelonggaran syarat ini tidak akan merusak doktrin Gereja Katolik, sebab selibat baru diberlakukan pada abad ke-12. Selain itu, pada 2010 dan 2011, Paus Benediktus XVI telah mengizinkan para imam Anglikan yang sudah menikah untuk masuk ke dalam ikatan Katolik dan tetap bisa melayani meskipun sudah menikah. Dalam tradisi umat Katolik ritus Timur, ada juga imam yang dinikahkan dalam keadaan tertentu.

Solusi lain yang juga dibahas adalah masalah keterlibatan kaum perempuan dalam pelayanan Ekaristi. Kaum perempuan Katolik menaruh harapan besar pada hasil keputusan sinode ini.