DC News:

SEBELUMNYA

INTERNASIONAL Empat Warga Kristen Dibunuh di Nigeria

BERIKUTNYA

INTERNASIONAL Keuskupan New Orleans Imbau Umat untuk Tidak Menerima Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson

Richard Dashbach
internasional

Timor-Leste Memulai Persidangan Kasus Pelecehan Seksual Anak oleh Mantan Imam AS

Sebuah pengadilan di Timor-Leste memulai persidangan terhadap seorang imam pedofil asal Amerika. Ia sendiri telah mengakui kesalahannya dan telah diberhentikan dari imamat oleh Vatikan atas tuduhan pelecehan anak pada tahun 2018.

Richard Daschbach, 84, adalah mantan imam dan misionaris dari Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini, disingkat SVD. Persidangannya telah dimulai pada 22 Februari tetapi tiba-tiba ditunda sampai keesokan harinya.

Menurut jaksa penuntut umum Timor-Leste, Daschbach menghadapi 14 dakwaan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah 14 tahun, pornografi anak dan kekerasan dalam rumah tangga. Jika diputuskan bersalah, ia akan menghadapi hukuman penjara maksimal 20 tahun.

Selain itu, ia juga menghadapi tuduhan pemalsuan kawat di tanah kelahirannya di AS dan telah ditempatkan dalam daftar red notice interpol, yaitu basis data daring penjahat internasional yang sedang buron.

Hakim di Dili mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk meninjau dokumen tuduhan terhadap Daschbach dan memintanya untuk kembali ke pengadilan pada 23 Februari.

Kasus ini menjadi kasus pertama yang diajukan terhadap seorang imam di negara mayoritas Katolik itu.

Daschbach tiba di Timor-Leste pada 1966 ketika negara itu masih menjadi koloni Portugis. Sebagai seorang misionaris, ia terlibat dalam pekerjaan sosial dan turut mendukung kelompok-kelompok di Timor-Leste yang ingin merdeka dari Indonesia. Ia dielu-elukan sebagai pahlawan karena menyelamatkan anak-anak selama perang kemerdekaan Timor-Leste pada 1999.

Pada 1993, ia mendirikan Topu Honis (Panduan Kehidupan), sebuah tempat penampungan bagi anak-anak tunawisma, orang dewasa penyandang disabilitas dan perempuan yang melarikan diri akibat kekerasan dalam rumah tangga.

Berkat pelayanan misionarisnya yang luar biasa, dia menjadi sosok yang terhubung dengan baik dan sangat dihormati. Rekan-rekannya termasuk elit politik dan masyarakat sipil yang berkuasa di negara itu.

Tuduhan pelecehan seksual terhadapnya pertama kali muncul pada 2018, ketika seorang perempuan yang pernah tinggal di Topu Honis mengirimkan surat elektronik ke Vatikan.

Ia kemudian diberhentikan dari imamat setelah adanya penyelidikan Vatikan dan pengakuannya sendiri bahwa ia telah melecehkan sejumlah gadis. Dia tidak mengungkapkan penyesalan apa pun terhadap pelecehan atas sejumlah gadis yatim piatu.

“Dia mengakui semua yang dituduhkannya kepadanya secara detail grafis dan mengatakan bahwa itu tidak masalah sebab sudah menjadi tabiatnya,” kata Tony Hamilton, mantan donatur Topu Honis dari Australia.

Setelah pemecatannya, ia kembali ke panti asuhan, menolak untuk melepaskan pelayanannya, dan kemudian harus disingkirkan oleh pihak berwenang.

Dia ditangkap pada 26 April 2019 setelah Fokupers, sebuah kelompok advokasi Timor-Leste yang mendukung perempuan dan anak-anak, mempublikasikan wawancara tentang seorang korban yang merinci pelecehannya.

Namun, ia dibebaskan bersyarat dan menjadi tahanan rumah. Dia terus menikmati status pahlawannya atas perannya selama perjuangan kemerdekaan Timor-Leste dan memelihara koneksi kuat dengan para elit politik dan lingkaran sosial yang berkuasa.

Kasus pelecehan fisik atau seksual di Timor-Leste cukup tinggi. Survei tahun 2015 oleh The Asia Foundation menemukan fakta bahwa tiga dari empat anak di negara itu mengalami pelecehan fisik atau seksual. []

Bagaimana pandangan Anda tentang berita ini?

Bagikan berita ini kepada yang lain:

Tanggapan

Yang Terbaru:
Video Terbaru: