GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Internasional

Vatikan Beri Penghargaan untuk Para Misionaris di Timor Leste

Vatikan beri penghargaan kepada empat pastur dan biarawati di Timor Leste


25 Maret 2019 11:56 | Redaksi | 148x dibaca | komentar

Tahta Suci Vatikan memberikan tanda kehormatan kepada empat pastur dan biarawati karena dedikasi pelayanan mereka kepada Gereja Katolik di Timor Leste.

Perwakilan Tahta Suci, Monsyinyur Marco Sprizzi, memberikan mereka Dekorasi Kehormatan, yang diberikan Paus kepada umat awam dan pendeta atas kontribusi yang luar biasa bagi gereja.

Para penerima penghargaan adalah dua pastur berkewarganegaraan Timor Leste Pastur Francisco dos Santos Fatima Barreto dan Pastur Francisco Tavares, pastur Italia Eligio Locatelli, pastur Yesuit Portugis Jose Alves Martins, dan Suster Canossian Maria Chioda.

“Mereka telah mendedikasikan hidup mereka untuk Gereja selama beberapa dekade,” kata Mgr. Sprizzi ketika dia dan Uskup Virgilio do Carmo da Silva dari Dilli mempersembahkan medali di Katedral Immaculate Conception di Dilli, Selasa (19/3/2019).

Paus Leo XIII memperkenalkan penghargaan itu pada 1888 untuk menghormati mereka yang berpartisipasi dalam yubilium sakerdotal emasnya. Selanjutnya penghargaan ini tetap dilestarikan oleh para paus berikutnya.

“Penghormatan ini diberikan agar orang-orang terus percaya pada Gereja Katolik dan dengan setia mengikuti Kristus,” kata perwakilan Vatikan.

Pastur Barreto, yang ditahbiskan pada 1977, mengatakan bahwa penghargaan itu merupakan kejutan bagi dirinya.

“Saya hanya bekerja menurut Injil, meskipun itu harus mempertaruhkan hidup saya,” kata Pastur Barreto yang terkenal karena usahanya mencegah tentara Indonesia melukai orang-orang selama bertahun-tahun sebelum Timor Leste menyatakan kemerdekaannya pada 2002.

“Penghargaan ini merupakan kejutan dan bagi saya, ini menunjukkan bahwa Vatikan peduli dengan umat Katolik di Timor Leste,” kata Pastur Barreto yang adalah seorang pendeta di Rumah Sakit Nasional Valdares dan Penjara Becora, keduanya di Dilli.

Suster Chioda, 79 tahun, tiba di Timor Leste dari Italia ketika berusia 27 tahun. Ia menghargai penghormatan yang diberikan Paus Fransiskus itu sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi pelayanan para pastur dan biarawati di negara itu.

Segera setelah tiba di distrik Manatuto pada 1966, ia berperan dalam mendirikan Kolese Canossian, dimana ia mengajar beragam keterampilan kepada para perempuan, seperti menjahit, menyulam dan keterampilan pastoral lainnya.

“Itu tidak mudah sebab kami mulai dari nol,” katanya kepada Ucanews, Jumat (22/3/2019).

Kondisi memburuk selama pemerintahan Indonesia, terutama pasca invasi 1975, tetapi ia dan rekan-rekannya berhasil mendirikan perguruan tinggi serupa di kabupaten-kabupaten lain.

Estanislau de Sousa Fatima, yang bekerja di Kolese Fatumaca yang didirikan oleh Pastur Locatelli di distrik Baucau, 149 kilometer sebelah timur Dili, mengatakan bahwa imam Italia itu layak menerima penghargaannya.

Pastur Locatelli tiba di Timor Leste pada 1964 ketika negara itu masih berada di bawah koloni Portugis, dan Kolese Fatumaca adalah salah satu usaha pertamanya.

Banyak imam Timor Leste lulus dari perguruan tinggi ini, termasuk penerima Nobel Perdamaian Uskup Emeritus Carlos Filipe Ximenes Belo dan Uskup Virglio do Carmo da Silva dari Dilli.

Menurut Fatima, Pastur Locatelli yang kini berusia 82 tahun telah bekerja tanpa lelah untuk membantu rakyat Timor Leste sejak kedatangannya lebih dari lima puluh tahun yang lalu.

“Dia membantu para petani, seperti memberi mereka traktor untuk menola tanah, sehingga mereka dapat menanam padi, jagung, dan tanaman lainnya,” kata Fatima.

“Dia secara rutin mengunjungi orang-orang sambil menunggang kuda, bahkan sampai hari ini,” katanya.

Pastur Martins tiba di Timor Leste pada 1974 dan telah menghabiskan banyak waktu untuk membantu meningkatkan standar pendidikan di negara itu.