DC News:

SEBELUMNYA

RENUNGAN Serupa Dengan Kristus

renungan

Purpose Driven Life

Bagaimana Kita Bertumbuh?

Efesus 4:15

“...tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:15)

Setiap orang tua tentulah berharap supaya anak-anaknya bisa bertumbuh semakin dewasa. Demikian juga BAPA yang di Surga menghendaki anak-anak-NYA bertumbuh semakin dewasa dalam segala hal.

Kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengingatkan pentingnya pertumbuhan itu. Ia menggunakan frasa yang menarik: αὐξήσωμεν εἰς αὐτὸν (auxēsōmen eis auton) “bertumbuh ke arah” atau “bertumbuh ke dalam”. Ini mengingatkan kita akan dua hal pada pertumbuhan tanaman: Pertama, “akar” yang bertumbuh semakin dalam mencari sumber air dan mineral yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pohon; Kedua, “ranting” yang bertumbuh ke arah matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup, yang akan membantu proses fotosintesis di daun.

Bagi orang percaya, Yesus Kristus adalah “air kehidupan” sekaligus “terang dunia” yang kepada-Nya kita bertumbuh, supaya kita mencapai kedewasaan yang penuh dalam kesempurnaan Kristus. Tetapi, bagaimana kita bisa mengalami pertumbuhan itu?

Rick Warren menulis bahwa pertumbuhan rohani bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis, melainkan membutuhkan komitmen. Komitmen itu dimulai dari adanya keinginan untuk bertumbuh, yang kemudian diikuti dengan keputusan, lalu usaha, dan akhirnya kegigihan dalam pertumbuhan. Artinya, proses pertumbuhan merupakan proses yang aktif dan konsisten, yang harus kita jalani.

Pertumbuhan itu juga unik, sebab TUHAN tidak menjadikan kita pasif, sehingga kita hanya berharap pada karya Roh Kudus, tetapi TUHAN menuntun kita untuk berkolaborasi dengan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus tidak hanya bekerja di dalam kita, tetapi juga bekerja bersama kita. Jadi, kalau kita gagal dalam pertumbuhan atau sering mengalami kejatuhan, itu bukan karena TUHAN tidak hadir dalam hidup kita, tetapi bisa jadi karena kita sendiri yang kurang aktif mengarahkan diri kita kepada Kristus. Bisa jadi kita terlalu keras kepala atau lebih mementingkan kenyamanan diri daripada bertumbuh ke arah Kristus.

Maka, perubahan mendasar yang harus kita lakukan adalah mengubah paradigma berpikir kita. Apakah cara berpikir kita sudah sejalan dengan kehendak TUHAN? Ataukah jangan-jangan kita masih menikmati hidup dalam kedagingan kita, sehingga kita sulit mengikuti standar yang telah TUHAN tetapkan di dalam Firman-firman-NYA. Jadi, berpikirlah dewasa! Semakin dewasa seseorang, semakin bisa ia untuk tidak fokus pada diri sendiri, semakin tidak egois, dan semakin tidak individualistis. Kedewasaan membutuhkan sikap inisiatif dalam mengupayakan hal-hal positif. Amin!

Bagaimana pandangan Anda tentang renungan ini?

Bagikan renungan ini kepada yang lain:

Tanggapan

Yang Terbaru:
Video Terbaru: