"Renungan 2 Samuel 7:1–17 tentang kasih setia Tuhan (khesed): Allah membangun “rumah” bagi Daud, menegur namun tidak meninggalkan, dan digenapi dalam Kristus"
“Tetapi, kasih setia-Ku tidak akan menjauh darinya” (2Samuel 7:15a)
Dalam 2Samuel 7, Daud sudah hidup dalam keadaan aman. Ia tinggal di istana yang indah, sedangkan tabut Allah masih berada di dalam kemah. Lalu Daud berpikir, “Aku ingin membangun rumah bagi Tuhan.”
Sekilas, niat Daud sangat baik. Ia ingin melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan. Tetapi Tuhan menjawab dengan cara yang mengejutkan. Tuhan berkata bahwa bukan Daud yang akan membangun rumah bagi-Nya, melainkan Tuhan sendiri yang akan membangun “rumah” bagi Daud. Maksudnya, Tuhan akan meneguhkan keluarga, keturunan, kerajaan, dan masa depan Daud. Di sinilah kita melihat kasih setia Tuhan.
Kasih setia Tuhan bukan hanya perasaan sayang. Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah khesed, yaitu kasih yang setia, kasih yang berpegang pada janji, kasih yang tidak mudah ditarik kembali. Khesed merupakan kesetiaan relasional dalam ikatan perjanjian, bukan sekadar emosi biasa.
Tuhan mengingatkan Daud bahwa semua yang ia miliki berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang mengambil Daud dari padang, dari menggembalakan kambing domba. Tuhanlah yang menyertai Daud. Tuhanlah yang mengalahkan musuh-musuhnya. Tuhanlah yang membuat nama Daud besar.
Artinya, sebelum Daud melakukan sesuatu bagi Tuhan, Tuhan sudah lebih dahulu melakukan banyak hal bagi Daud.
Ini juga berlaku bagi kita. Kadang kita berpikir bahwa hidup kita aman karena usaha kita sendiri. Kita merasa keluarga kita berdiri karena kerja keras kita. Kita merasa pelayanan kita berhasil karena kemampuan kita. Tetapi firman Tuhan mengingatkan: semua yang baik dalam hidup kita adalah karena kasih setia Tuhan.
Bagian yang sangat indah ada dalam 2Samuel 7:14–15. Tuhan berkata bahwa jika keturunan Daud berbuat salah, Tuhan akan mendisiplin mereka. Tetapi Tuhan juga berkata, “Kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya.”
Ini berarti kasih setia Tuhan tidak membuat dosa menjadi ringan. Tuhan tetap menegur. Tuhan tetap mendisiplin. Tetapi Tuhan tidak membuang umat-Nya begitu saja.
Tuhan seperti Bapa yang mengasihi anak-Nya. Seorang bapa yang baik tidak membiarkan anaknya berjalan dalam kesalahan. Ia menegur, mendidik, dan membentuk. Tetapi teguran itu bukan tanda penolakan. Teguran itu justru tanda kasih.
Begitu juga dalam hidup kita. Ketika Tuhan membentuk kita melalui teguran, kesulitan, atau proses yang tidak mudah, bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi, saat itu Tuhan sedang mendidik kita dalam kasih setia-Nya.
Kasih setia Tuhan juga penting dalam kehidupan rumah tangga. Keluarga yang kuat bukan keluarga yang tidak pernah punya masalah. Suami dan istri bisa berbeda pendapat. Anak-anak bisa melakukan kesalahan. Orang tua juga tidak sempurna. Tetapi keluarga yang dibangun di atas kasih setia Tuhan akan belajar untuk menegur tanpa menghancurkan, mengampuni tanpa pura-pura tidak ada masalah, dan tetap mengasihi meskipun ada kelemahan.
Inilah kasih setia yang Tuhan tunjukkan kepada Daud. Dan bagi kita sebagai orang percaya, kasih setia itu mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus, Anak Daud. Di dalam Kristus, Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang paling besar: Ia datang mencari yang berdosa, mengampuni yang gagal, dan memulihkan yang hancur.
Karena itu, hari ini kita diajak untuk percaya kembali kepada kasih setia Tuhan. Hidup kita mungkin tidak sempurna. Keluarga kita mungkin tidak sempurna. Pelayanan kita mungkin tidak sempurna. Tetapi Tuhan tetap setia. Amin!
KASIH SETIA TUHAN TIDAK MUDAH DITARIK. IA MENEGUR, MEMBENTUK, MENGAMPUNI, DAN MEMULIHKAN KITA SUPAYA HIDUP KITA BERDIRI TEGUH DI DALAM JANJINYA
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.