Warta Sepekan
Edisi 027 | 13-20 September 2026
Renungan
Yesaya 52:13–53:12
“Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilur-bilurnya kita disembuhkan.” — Yesaya 53:5 (TB2)
Biasanya jika berbicara tentang kemuliaan, maka kita membayangkan soal keberhasilan, kekuasaan, dan penghormatan. Sebab, demikianlah dunia ini melakukan penilaian: Orang yang menang pasti disanjung-sanjung; yang menderita kerap dianggap gagal. Bahkan, tak jarang model penilaian seperti ini menjangkiti pola pikir orang-orang percaya: Seolah-olah mereka yang lebih kaya, lebih sukses, dan lebih berkuasa dipandang lebih “diberkati” ketimbang mereka yang miskin, gagal dalam usaha, dan tak punya jabatan atau bahkan pekerjaan.
Karena itu, nats hari ini mengajak kita melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang kerap menghantui pola pikir kita: seorang Hamba yang ditinggikan justru melalui jalan penghinaan dan penderitaan.
Dalam terang Perjanjian Baru, kita mengenali Hamba itu adalah pribadi Yesus Kristus. Ia tidak datang untuk mempertontonkan kekuasaan, tetapi untuk menyerahkan diri demi menyelamatkan kita yang berdosa. Melalui penderitaan-Nya, kita belajar tentang kasih Allah, keadaan diri kita, dan pengharapan yang tidak berakhir di kubur.
1. Ia Ditolak, tetapi Tidak Meninggalkan Kita
“Ia dihina dan dihindari orang,” demikian Yesaya menggambarkan Sang Hamba (53:3). Kehadiran-Nya tidak disambut dengan penghormatan. Orang-orang bahkan memalingkan wajah mereka dan menganggap-Nya tidak berarti.
Yesus tahu betul apa itu “penolakan”. Ia memahami rasa pedih ketika kasih dibalas dengan kebencian, ketulusan disalahmengerti, dan kehadiran dianggap tidak berharga. Karena itu, ketika kita merasa ditinggalkan, kita dapat datang kepada-Nya tanpa harus menyembunyikan luka.
Namun, firman ini sesungguhnya sedang menyingkapkan siapa kita. Kita bukan hanya orang yang pernah ditolak, tetapi juga sering mengabaikan Tuhan—menginginkan pertolongan-Nya tanpa mau mengikuti jalan-Nya.
Kabar baiknya: penolakan manusia tidak menghentikan kasih-Nya. Ia tetap menjalani jalan penderitaan untuk membawa kita kembali kepada Allah.
2. Ia Menanggung Apa yang Menjadi Kesalahan Kita
Titik balik renungan ini terdapat dalam pengakuan: “penyakit kitalah yang ditanggungnya” (53:4). Apa yang semula dianggap sebagai hukuman atas kesalahan Sang Hamba ternyata berkaitan dengan dosa kita.
Yesaya 53:6 menggambarkan keadaan kita yang “sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.”
Dosa bukan hanya tindakan yang tampak buruk. Dosa juga hadir ketika kita menjadikan kehendak sendiri sebagai penentu tertinggi: mengetahui yang benar tetapi memilih kenyamanan, mempertahankan kesombongan, atau menolak mengampuni.
Namun, Allah tidak membiarkan kita tersesat tanpa pengharapan. Sang Hamba memikul kejahatan kita. Di dalam Kristus, kasih Allah bukan sekadar ucapan belas kasihan, melainkan pemberian diri yang sungguh-sungguh.
Salib menyatakan bahwa dosa kita serius, tetapi kasih Allah tidak berhenti di hadapan keseriusan dosa itu.
Karena itu, kita tidak perlu menyembunyikan kesalahan atau berusaha membeli pengampunan dengan perbuatan baik. Kita dipanggil datang dengan pertobatan dan iman, menerima anugerah-Nya, lalu menjalani hidup yang diperbarui.
3. Penderitaan-Nya Bukan Akhir Cerita
Sesudah berbicara tentang kematian dan penguburan, Yesaya menyatakan bahwa Sang Hamba akan melihat keturunannya dan kehendak TUHAN akan terlaksana melalui-Nya (53:10). Penghinaan tidak menjadi keputusan terakhir atas hidup-Nya.
Dalam terang kebangkitan Kristus, kita melihat kemenangan itu: Yesus yang disalibkan hidup, dan karya penyelamatan-Nya tidak gagal.
Pengharapan ini tidak menjanjikan kehidupan tanpa air mata atau kesembuhan jasmani seketika. Namun, kita diyakinkan bahwa penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir.
Kita boleh meratap, mencari pertolongan, dan melawan ketidakadilan sambil tetap percaya kepada Allah. Meneladani Sang Hamba bukan berarti membiarkan kekerasan berlangsung, melainkan hidup dalam kasih dan ketaatan tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan.
Penutup
Di hadapan Hamba yang menderita, kita diajak berhenti membenarkan diri dan mulai mengakui: “Pelanggaran itu milikku, tetapi kasih-Nya membuat Dia menanggungnya.”
Hari ini, bawalah dosa yang selama ini disembunyikan, luka yang belum terucapkan, dan ketakutan tentang masa depan kepada Kristus. Ia yang menyerahkan diri bagi kita layak menerima kepercayaan dan seluruh kehidupan kita. Amin!
DALAM TERANG KEBANGKITAN KRISTUS, KITA MELIHAT KEMENANGAN ITU
Ulang Tahun Jemaat
“Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kau rancangkan” Mazmur 20:4
Bagi jemaat yang datanya belum tercatat, harap menghubungi Sekretariat
Info Gereja
Agenda Kegiatan
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)
Bank BCA
Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S
Bank BCA
Ester Joice P atau Rahel Natalia S
Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.
KONFIRMASI SEKARANG