Warta Sepekan
Edisi 028 | 20-27 September 2026
Renungan
Yeremia 31:31-34
“Tidak perlu lagi orang mengajar sesamanya atau saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab, mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN; karena Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak mengingat lagi dosa-dosa mereka” (Yeremia 31:34—TB2)
Dalam keluarga, kegagalan masa lalu tidak harus menjadi identitas masa depan. Kesalahan orang tua, luka antara suami dan istri, pemberontakan anak, atau konflik yang berulang bukanlah akhir cerita jika keluarga bersedia kembali kepada Allah. Sebab, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tanpa masalah, melainkan keluarga yang membiarkan Allah menulis ulang hati mereka.
Nats kita hari ini mengajarkan kita bagaimana orang-orang Yehuda menjadi orang-orang yang gagal setia. Berkali-kali mereka meninggalkan Allah, melanggar perjanjian, dan mendukakan TUHAN. Tetapi, Allah tidak pernah berhenti menjadi Allah mereka. Ia tetap hadir membawa janji pemulihan.
Demikian juga Allah memandang keluarga kita. Dia yang merancang keluarga kita, Dia juga yang terus menyertai kita, menuntun kita agar kita tidak meninggalkan perintah-perintah-Nya. Tetapi, bagaimana jika anggota keluarga kita—atau bahkan kita sendiri—ternyata jatuh dan gagal?
Janganlah takut ataupun bimbang! TUHAN sendiri yang menuliskan perintah-perintah-Nya di dalam batin kita, di dalam lubuk hati kita. Asalkan kita mau kembali kepada-Nya, dan memohon ampun atas segala pelanggaran kita. Ia setia dan adil mengampuni kita.
Maka, ketika dalam keluarga kita ada anggota keluarga yang jatuh, terjerumus dalam dosa yang berulang-ulang, atau terlihat mustahil untuk bertobat. Janganlah pernah menyerah untuk mengasihi dia. Sebab, ketika nasihat kita diabaikan sekalipun, benih-benih firman TUHAN dapat bersuara lebih nyaring dari dalam lubuk hati mereka.
TUHAN selalu punya cara untuk menulis ulang hati kita, meskipun hidup sudah teramat kusut dan nyaris tanpa harapan.
“Aku—firman TUHAN—akan mengampuni kesalahanmu dan tidak lagi mengingat dosa-dosamu!” (bdk. ay. 34b).
Pengampunan adalah jantung “perjanjian baru.” Keluarga kita tidak akan dapat bertahan hanya karena kasih sayang; di dalam keluarga kita senantiasa membutuhkan pengampunan yang nyata.
Mengampuni bukan berarti menyatakan bahwa kesalahan atau dosa tidak serius. Mengampuni berarti menolak membiarkan dosa menguasai masa depan hubungan kita. Keluarga yang tidak belajar mengampuni akan hidup sebagai arsip kesalahan. Sebaliknya, keluarga yang selalu belajar mengampuni akan terus menjadi “rumah pemulihan”.
Jangan biarkan satu kesalahan kemarin menghancurkan masa depan keluarga kita. Pengampunan adalah keberanian untuk memutus rantai luka. Lihatlah kegagalan dan kejatuhan sebagai kesempatan untuk saling memulihkan dan dipulihkan.
Yeremia 31:31-34 menunjukkan bahwa Allah ingin membangun keluarga dengan empat dasar: hati yang diubahkan, identitas yang berpusat pada Allah, pengenalan akan TUHAN, dan pengampunan yang nyata.
Keluarga kita tidak harus menunggu semua keadaan sempurna untuk mulai dipulihkan. Pemulihan dapat dimulai hari ini, melalui satu doa, satu pengakuan dosa, satu permintaan maaf, satu pelukan, dan satu keputusan untuk kembali menempatkan Allah di tengah rumah. Amin!
PENGAMPUNAN ADALAH KEBERANIAN UNTUK MEMUTUS RANTAI LUKA
Ulang Tahun Jemaat
“Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kau rancangkan” Mazmur 20:4
Bagi jemaat yang datanya belum tercatat, harap menghubungi Sekretariat
Info Gereja
Agenda Kegiatan
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)
Bank BCA
Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S
Bank BCA
Ester Joice P atau Rahel Natalia S
Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.
KONFIRMASI SEKARANG