Maret 2026
Berhasil Bersama Tuhan
“Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya” (Yosua 1:8-TB2)
PENGANTAR
Nevī’īm Ri’shōnīm
Setelah kitab-kitab Taurat (תּוֹרָה), dalam susunan kitab-kitab Tanakh (Perjanjian Lama), kita masuk dalam kitab-kitab Para Nabi (נְבִיאִים). Dalam pemahaman Ibrani, seorang “nabi” (נָבִיא) tak hanya seorang yang dipanggil dan diutus Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat melalui pengajaran dan teguran ataupun nubuatan. Namun, nabi juga adalah penafsir kehendak Tuhan dalam sejarah. Karena itu, dalam pandangan Yudaisme, nabi juga adalah seorang penafsir peristiwa sejarah secara teologis.
Para nabi mula-mula adalah penafsir sejarah yang hebat. Ini melanjutkan tradisi Devarīm (Ulangan) yang telah kita bahas bulan lalu, dimana Musa menjadi penafsir ulang sejarah perjalanan bangsa Israel. Tak hanya mewariskan model penafsiran sejarah, penekanan teologisnya sangatlah mirip, yaitu soal ketaatan yang mendatangkan berkat, dan ketidaktaatan yang mendatangkan hukuman.
Para nabi mula-mula inilah yang diyakini telah menulis kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja. Itulah sebabnya, kitab-kitab ini dikelompokkan sebagai “Nabi-nabi Awal” (נְבִיאִים רִאשׁוֹנִים) dalam susunan kitab-kitab Tanakh. Mereka tidak sekedar sedang menulis sejarah umat, tapi memilih peristiwa-peristiwa dan menyusunnya untuk mengajarkan pesan ilahi. Dengan kata lain, definisi “sejarah” dalam pandangan para penulis ini adalah “khotbah kenabian dalam bentuk narasi”.
Karena itu, ketika kita membaca dan menafsirkan kitab-kitab ini, hendaknya tidak terdistraksi oleh pengertian “sejarah” dalam kamus modern, melainkan fokus pada otoritas profetik atau kenabian, dimana teks ini kita lihat sebagai penilaian realitas sejarah berdasarkan “hukum Tuhan”.
Kitab Yosua
Nama kitab ini dalam bahasa Ibrani adalah “סֵפֶר יְהוֹשֻׁעַ” (Sefer Yehōshua‘) atau “Kitab Yosua”. Dalam Septuaginta (LXX), nama kitab ini adalah “Ἰησοῦς Ναυῆ” (Iēsous Nauē), yang merupakan terjemahan bahasa Yunani untuk “Yosua bin Nun”. Kesamaan antara versi Ibrani dan Yunani ini adalah penekanan penting pada figur Yosua, sebagai penerus kepemimpinan Musa. Perbedaannya hanya pada pengelompokannya saja. Dalam Kanon Ibrani, kitab ini dimasukkan dalam kelompok “נְבִיאִים” (nabi-nabi), sedangkan dalam LXX dimasukkan dalam kelompok “ἱστορικά βιβλία” (kitab-kitab sejarah).
Perbedaan pengelompokan ini sekaligus menunjukkan perbedaan pandangan antara Kanon Ibrani dengan LXX (Kanon Yunani) mengenai apa itu “sejarah”. Kanon Ibrani lebih fokus melihat sejarah sebagai “Tuhan yang sedang berbicara” melalui berbagai peristiwa, baik kemenangan maupun kehancuran. Hal ini sesuai dengan teologi Yudaisme yang lebih fokus pada pesan ilahi, yaitu apa yang Tuhan mau sampaikan melalui berbagai peristiwa yang terjadi, sedangkan LXX menyesuaikan dengan cara berpikir orang-orang Yunani, dimana sejarah lebih dilihat sebagai paparan kronologis dan rekaman-rekaman data dan fakta peristiwa.
Dalam teologi Yudaisme, ada setidaknya empat konsep penting yang begitu kuat dalam kitab Yosua ini. Pertama, konsep “מַלְכוּת שָׁמַיִם” (Kerajaan Surga). Istilah ini mengacu pada konsep “Otoritas Allah” atau “Kedaulatan Allah” atas sejarah dan tempat. Misalnya kisah penaklukkan “Tanah Perjanjian” tidaklah dilihat bagaimana kekuatan militer bangsa Israel merebutnya, melainkan diserahkan Tuhan kepada ahli warisnya.
Kedua, konsep “הִשְׁתַּדְלוּת” (usaha), yaitu keseimbangan atau sinergi antara janji penyertaan Tuhan dengan tindakan atau usaha maksimal manusia. Dalam kitab Yosua kita tidak hanya dibuat terpesona dengan karya spektakuler Allah melalui mujizat, tetapi juga bagaimana Yosua dan bangsa Israel menyusun strategi, melakukan pengintaian, hingga berjuang dalam peperangan.
Ketiga, konsep “קְדֻשָּׁה” (kekudusan). Sebelum bangsa Israel menaklukkan Yerikho, seluruh bangsa itu harus disunat dan merayakan Paskah (Yos. 5). Ini menggambarkan model pengudusan melalui “pemisahan” (distinctness), agar bangsa Israel tidak menjadi sama dengan Mesir maupun Kanaan.
Keempat, konsep “עָרֵבוּת” (tanggung jawab). Kitab Yosua menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif, bukan personal. Dalam kasus Akhan, misalnya (Yos. 7), meskipun pelanggaran dilakukan oleh satu orang, tetapi pelanggaran itu dipandang sebagai “dosa Israel”. Artinya, bangsa itu dibentuk untuk bertanggung jawab secara bersama-sama (כל ישראל ערבים זה בזה; semua orang Israel bertanggung jawab satu sama lain).
Kelima, konsep “אֱמֶת” (kesetiaan). Dalam kitab Yosua ada penegasan yang kuat bahwa Tuhan itu “אֱמֶת” (setia dan benar). Kitab ini menggambarkan bagaimana janji yang telah berusia ratusan tahun kepada Abraham, tetap digenapi Tuhan secara detail di bawah kepemimpinan Yosua.
***
Catatan:
Fokus ED = Penekanan penting untuk program Ecclesia Domestica
Minggu I (1 Maret 2026) – Reminiscere
Minggu Prapaskah II
TATSLIAKH & TASKIL
Yosua 1:1-9
Yosua 1:8 dianggap sebagai “jantung” kitab Yosua dan merupakan rangkuman dari keseluruhan kitab ini. Poin pentingnya adalah bagaimana kita bisa meraih “tatsliakh” (objective success) dan “taskil” (strategic wisdom).
FOKUS ED:
Artikel Terkait
Keluarga mengajarkan prinsip-prinsip rohani dalam bekerja dan berusaha.
Minggu II (8 Maret 2026) - Oculi
Minggu Prapaskah III
QEDUSHA
Yosua 5: 1-12
Sebelum berperang, seluruh generasi baru Israel harus disunat. Secara teologis, ini adalah pembersihan identitas (pengudusan) dari pengaruh pagan Mesir. Tanpa Qedusha (kekudusan/pemisahan diri), mereka tidak dianggap siap untuk mendiami Tanah yang Kudus.
FOKUS ED:
Keluarga belajar memahami bahwa untuk memperoleh berkat Tuhan, kekudusan hidup haruslah dibangun dan dipelihara.
Minggu III (15 Maret 2026) – Laetare
Minggu Prapaskah IV
AREVUTH
Yosua 7:1-26
Pencurian dilakukan oleh Akhan, tetapi Tuhan mengatakan bahwa “Israel”—yaitu seluruh bangsa itu—telah berdosa. Ini adalah fondasi teologis dari konsep Arebuth, dimana tindakan satu orang mempengaruhi status rohani seluruh komunitas.
FOKUS ED:
Keluarga memahami bahwa persekutuan berbicara tentang pentingnya kesatuan sebagai komunitas, bukan semata-mata individual.
Minggu IV (22 Maret 2026) – Judica
Minggu Prapaskah V (Minggu Sengsara I)
HISTADLUTH
Yosua 8: 1-29
Meskipun Tuhan menjanjikan kemenangan kepada Yosua, tetapi Ia tetap memerintahkan Yosua untuk menyusun strategi penaklukkan kota Ai.
FOKUS ED:
Keluarga menanamkan semangat “berusaha” untuk meraih keberhasilan dalam segala hal.
Minggu V (29 Maret 2026)
Minggu Prapaskah VI (Minggu Palma/ Minggu Sengsara II)
EMETH
Yosua 21:43-45
Kitab Yosua ditutup dengan kesimpulan bahwa setiap janji Tuhan telah digenapi menjadi kenyataan. Perikop ini menjadi proklamasi yang jelas bahwa Tuhan adalah Emeth. Ia tidak pernah lalai menepati janji-janji-Nya.
FOKUS ED:
Keluarga membangun dan memelihara sikap iman bahwa Tuhan itu Emeth.
-oOo-
Penulis:
Yosi Rorimpandei
Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC

