"Uskup Robert Barron kritik narasi media tentang “perang” Trump-Paus Leo XIV sebagai absurd. Penjelasan lengkap doktrin perang yang adil dalam Katekismus Gereja Katolik menjadi kunci pemahaman perbedaan peran gereja dan negara dalam konflik Iran"
MINNESOTA, DC News — Uskup Robert Barron mengkritik keras narasi media yang menggambarkan adanya “perang” antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo XIV. Ia menilai framing tersebut berlebihan, tidak akurat, dan berpotensi memecah belah.
Dalam unggahan di platform X, Senin (21/4/2026), Barron menegaskan bahwa perbedaan pandangan antara keduanya seharusnya dilihat dalam konteks peran masing-masing, bukan sebagai konflik terbuka.
Barron merujuk pada Katekismus Gereja Katolik (KGK) paragraf 2309 tentang doktrin “perang yang adil”. Ia menjelaskan bahwa penilaian moral atas keputusan perang berada pada otoritas sipil, yakni pemimpin negara, yang bertanggung jawab atas keamanan dan kepentingan publik.
“Penilaian tersebut merupakan bagian dari kebijaksanaan para pemimpin yang memegang tanggung jawab atas kebaikan bersama,” tulis Barron mengutip KGK.
Menurut dia, Gereja memiliki peran berbeda, yakni menekankan prinsip moral, menyerukan perdamaian, serta mengingatkan batas-batas etis dalam konflik, termasuk perlindungan terhadap warga sipil dan niat yang benar.
Ketegangan antara Trump dan Paus Leo XIV bermula dari kritik Paus terhadap aksi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran. Paus, yang merupakan pemimpin Gereja Katolik pertama asal Amerika Serikat, berulang kali menyerukan penghentian konflik dan mengecam apa yang ia sebut sebagai “kegilaan perang”.
Ia juga menilai konflik dipicu oleh “delusi kemahakuasaan” dan menegaskan bahwa ajaran Kristiani tidak membenarkan kekerasan.
Trump menanggapi kritik tersebut melalui platform Truth Social dengan pernyataan keras. Ia menyebut Paus tidak tepat dalam pandangan kebijakan luar negeri dan menegaskan penolakannya terhadap kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir.
Menanggapi polemik itu, Paus Leo XIV menyatakan bahwa pidatonya telah disiapkan sebelumnya dan tidak ditujukan secara pribadi kepada Trump.
Sebelumnya, Barron juga sempat mengkritik pernyataan Trump sebagai tidak pantas dan tidak menghormati Paus. Namun, dalam pernyataan terbarunya, ia berupaya meredakan situasi dengan menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu dibingkai sebagai pertentangan personal.
“Paus berbicara sebagai pemimpin moral, sementara presiden bertindak sebagai pemegang kebijakan negara,” ujar Barron.
Ia berharap publik tidak terjebak dalam narasi “Paus versus Presiden” yang dinilai tidak produktif, serta dapat memahami bahwa kedua tokoh tersebut menjalankan peran yang berbeda dalam ranah masing-masing. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.