"Film dokumenter Martin Scorsese Aldeas: The Final Dream of Pope Francis tayang perdana di Vatikan, bertepatan dengan satu tahun wafatnya Paus Fransiskus, menyoroti proyek sinema komunitas global termasuk dari Lombok, Indonesia"
VATICAN CITY, DC News — Sutradara kenamaan Martin Scorsese meluncurkan film dokumenter terbarunya berjudul Aldeas: The Final Dream of Pope Francis dalam pemutaran perdana dunia yang berlangsung di Vatikan, Selasa (21/4/2026). Penayangan ini bertepatan dengan satu tahun wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik yang meninggal pada 21 April 2025.
Pemutaran privat tersebut digelar di Vatikan Filmoteca dan diselenggarakan oleh Scholas Occurrentes, organisasi pendidikan global yang didirikan Paus Fransiskus pada 2001 saat masih menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires. Setelah terpilih sebagai Paus pada 2013, inisiatif ini berkembang menjadi jaringan internasional yang mendorong integrasi sosial melalui olahraga, seni, dan teknologi, serta mempromosikan gagasan “budaya pertemuan”.
Dokumenter Aldeas mengangkat proyek sinema komunitas dengan nama yang sama, yang digagas Scholas Occurrentes. Program ini memberi ruang bagi komunitas lokal di berbagai negara untuk memproduksi film pendek yang merefleksikan identitas dan pengalaman mereka. Produksi film berlangsung di sejumlah lokasi, antara lain Italia—termasuk wilayah Sisilia yang menjadi asal-usul keluarga Scorsese—serta Gambia, Vatikan, dan Indonesia.
Di Indonesia, proyek ini melibatkan masyarakat Desa Genggelang, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Komunitas setempat yang mayoritas Muslim memproduksi film pendek berjudul Kesin Dungan (atau Kesindungan) dengan dukungan mitra lokal. Keterlibatan ini dinilai mencerminkan semangat lintas budaya yang menjadi inti dari program Aldeas.
Film ini juga memuat wawancara terakhir Paus Fransiskus di depan kamera. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut proyek Aldeas sebagai sesuatu yang “puitis dan transformatif”, karena menyentuh dimensi dasar kehidupan manusia seperti relasi sosial, konflik, dan perjalanan eksistensial.
Scorsese, yang turut menyutradarai bersama Johnny Shipley dan Clare Tavernor, menekankan pentingnya dialog antarbudaya di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. “Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita perlu berbicara dan saling mendengarkan lintas budaya. Sinema adalah medium terbaik untuk itu,” ujar Scorsese seperti dikutip The Guardian.
Produksi film ini melibatkan Aldeas Scholas Films, Sikelia Productions milik Scorsese, serta Massive Owl Productions. Sejumlah nama besar turut berkontribusi, di antaranya sinematografer Ellen Kuras dan Salvatore Totino, serta seniman lintas benua seperti aktor Babou Ceesay, aktris Indonesia Happy Salma, dan sutradara pemenang Oscar Giuseppe Tornatore.
Menurut keterangan penyelenggara, pendapatan dari film ini akan dialokasikan kembali untuk mendukung pengembangan proyek Aldeas di berbagai negara. Inisiatif ini sejalan dengan misi Scholas Occurrentes dalam memperkuat pendidikan berbasis inklusi sosial.
Hubungan Scorsese dengan Paus Fransiskus telah terjalin dalam beberapa pertemuan pribadi dalam beberapa tahun terakhir. Sutradara peraih Oscar tersebut juga dikenal kerap mengangkat tema religius dalam karyanya, seperti film Silence (2016) yang mengisahkan misionaris Jesuit di Jepang, serta serial The Saints (2024).
Pemutaran perdana ini tidak hanya menjadi penghormatan terhadap warisan Paus Fransiskus, tetapi juga menegaskan relevansi pesan dialog dan solidaritas global di tengah dinamika dunia saat ini. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.