"Renungan Kristen tentang Hashgakhâ Peratīth—pemeliharaan Tuhan yang bekerja bahkan melalui hal-hal kecil dalam hidup. Belajar dari kisah Saul dan Samuel di 1 Samuel 9 bahwa tidak ada yang terlalu remeh di tangan Tuhan"
“Sehari sebelum kedatangan Saul, TUHAN telah menyingkapkan kepada Samuel...” (1Samuel 9:15a—TB2)
Konsep Hashgakhâ Peratīth secara sederhana menyatakan bahwa pemeliharaan TUHAN kepada kita tidak hanya berhenti pada hal-hal besar dalam peristiwa penciptaan alam semesta atau soal keselamatan suatu bangsa. Tetapi, Ia juga mengawasi sampai hal-hal kecil dalam hidup manusia.
Dalam keseluruhan nats 1Samuel 9:1-27 kita bisa melihat bagaimana setiap bagian dalam narasi ini menggambarkan pemeliharaan TUHAN itu. Mulai dari hal sederhana, yaitu hilangnya keledai Kish, sehingga ia harus menyuruh Saul dan hambanya untuk mencari keledai itu.
Hal ini sangat jelas ketika kita membaca pada ay. 15 dan 16, “Sehari sebelum kedatangan Saul, TUHAN telah menyingkapkan kepada Samuel hal berikut, ‘Besok kira-kira pada waktu ini, Aku akan mengirim seorang laki-laki dari tanah Benyamin kepadamu...’”. Padahal dalam narasi-narasi awal tidak disebutkan kapan TUHAN mengutus Saul. Semuanya hanya digambarkan dengan cerita-cerita sederhana: keledai hilang, Saul diutus bersama hambanya, hambanya memberi usulan kepada Saul, pertemuan dengan gadis-gadis yang sedang menimba air, hingga pengetahuan Samuel soal keledai yang hilang.
Dari cerita ini kita belajar, bahwa terkadang kita mengeluh dan jemu dengan insiden-insiden kecil dalam hidup kita, bahkan tak pernah memperhitungkannya sebagai bagian dari rencana TUHAN di dalam hidup kita. Sebab, kita selalu diiming-imingi dengan mujizat-mujizat besar—karya-karya TUHAN yang spektakuler seperti Laut Teberau yang dibelah atau bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Tetapi, bagaimana dengan perkara pulpen kita yang hilang?
TUHAN juga bekerja dibalik hal-hal kecil di sekitar kita. Ia bekerja melalui rasa sakit, keluh kesah, atau bahkan kebosanan kita. Setiap hal kecil di sekitar kita bisa menjadi alat penyertaan TUHAN, yang menuntun kita pada fase berikutnya dari kematangan rohani kita.
Termasuk dalam lingkungan keluarga kita sendiri. TUHAN bisa memakai setiap anggota keluarga kita menjadi alat-Nya untuk mengubah hidup kita. Karena itu, jangan meremehkan hal-hal kecil dalam hidup kita. Itulah cara kita mengungkapkan syukur kita kepada TUHAN. Amin!
TIDAK ADA YANG TERLALU REMEH DI TANGAN TUHAN
IA BISA BEKERJA MELALUI HAL-HAL YANG TIDAK PERNAH KITA PERHITUNGKAN
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.