"Abas Benediktin Yerusalem, Nikodemus Schnabel, memperingatkan risiko Tanah Suci menjadi "Disneyland Kristiani" akibat eksodus warga Kristen lokal. Simak ulasan mendalam mengenai krisis kemanusiaan dan tekanan intoleransi di Yerusalem"
YERUSALEM, DC News – Suara lonceng gereja di Kota Tua Yerusalem mungkin akan terus berdenting, namun keberadaan komunitas Kristen yang menghidupinya kini berada di ambang kepunahan. Dom Nikodemus Schnabel, Abas Biara Benediktin di Yerusalem, memberikan peringatan keras: tanpa kehadiran penduduk asli yang menetap, Tanah Suci berisiko berubah menjadi sekadar "Disneyland Kristiani".
Dalam sebuah audiensi dengan organisasi Aid to the Church in Need (ACN) baru-baru ini, Schnabel menyoroti fenomena menyusutnya populasi Kristen di wilayah tersebut hingga di bawah angka 2 persen. Ia mengkhawatirkan masa depan di mana situs-situs suci seperti Gereja Makam Kudus hanya akan diisi oleh para biarawan dan turis mancanegara, tanpa ada lagi keluarga Kristen lokal yang menjalankan kehidupan sehari-hari.
“Ketakutan saya adalah Tanah Suci bisa menjadi semacam 'Disneyland Kristiani'. Tempat-tempat suci akan tetap ada, bersama para biarawan dan imam. Namun, tidak akan ada lagi keluarga Kristen, tidak ada anak muda Kristen, tidak ada kehidupan Kristen yang biasa,” ujar Schnabel.
Tekanan dari Berbagai Sisi
Penyusutan populasi ini bukan tanpa alasan. Schnabel menekankan bahwa komunitas Kristen di Palestina dan Israel terjepit oleh berbagai faktor sistemik. Selain dampak berkepanjangan dari konflik Gaza yang mematikan sektor pariwisata—nadi utama ekonomi warga lokal—tekanan juga datang dari meningkatnya tindakan intoleransi oleh kelompok ekstremis.
Laporan dari berbagai lembaga kredibel, termasuk The Patriarchs and Heads of the Churches in Jerusalem, mencatat adanya peningkatan insiden vandalisme, pelecehan terhadap rohaniwan, hingga serangan terhadap properti gereja dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, Schnabel mengungkap sisi kelam lainnya: nasib para pekerja migran Kristen di Israel yang ia sebut hidup dalam kondisi “tidak manusiawi”. Banyak dari mereka yang paspornya disita atau hak-hak dasarnya sebagai orang tua dibatasi oleh sistem legal setempat. Bagi Schnabel, mereka adalah "gereja yang tak terlihat" yang justru menjadi penopang iman di tengah tekanan.
Paradoks Pusat Iman
Tanah Suci adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa paling sentral dalam iman Kristiani. Namun, ironinya, wilayah ini justru menjadi salah satu tempat di mana umat Kristen paling sulit bertahan hidup. Sebagai perbandingan, Schnabel menyebut bahwa wilayah paling sekuler di Eropa sekalipun masih memiliki populasi Kristen yang lebih banyak dibandingkan Yerusalem saat ini.
Kehilangan komunitas Kristen lokal berarti kehilangan saksi sejarah yang telah ada selama dua milenium. “Tanpa komunitas yang hidup di Yerusalem, Betlehem, atau Nazaret, situs-situs suci itu hanya akan menjadi simbol kosong—warisan tanpa saksi,” demikian peringatan tersebut menutup pesan bagi komunitas internasional. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.