"Pdt. Justin Lester di California ciptakan kloning AI dirinya via Delphi.ai untuk layani konseling jemaat 24 jam. Terobosan gereja modern atau bahaya iman digital?"
VALLEJO, DC News — Kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menembus bilik paling privat dalam spiritualitas manusia: ruang konseling pastoral. Di sebuah gereja di Vallejo, California, jemaat yang dirundung gelisah pada pukul 02.00 dini hari kini tidak lagi perlu menunggu matahari terbit untuk mencurahkan isi hati kepada pemimpin ibadahnya.
Melalui layar ponsel pintar, mereka dapat berkonsultasi langsung dengan sang pendeta—atau lebih tepatnya, versi kloning digitalnya.
Pdt. Dr. Justin Lester (37), pemimpin Friendship Missionary Baptist Church, memutuskan mengintegrasikan kecerdasan buatan ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menggandakan dirinya secara digital menggunakan platform Delphi.ai, menciptakan replika avatar yang meniru gaya bicara, diksi, hingga intonasi humor khas miliknya.
Model AI tersebut tidak sekadar merangkai kalimat umum. Lester melatih sistem itu dengan menyuntikkan hampir dua juta kata yang berasal dari rekam jejak pelayanannya: transkrip khotbah selama bertahun-tahun, buku-buku yang ia tulis, percakapan surel, hingga seluruh konten media sosialnya di YouTube, TikTok, dan Instagram.
Hasilnya adalah replika digital yang mampu memberikan respons teologis dan dukungan pastoral sepanjang waktu.
“Ini adalah versi digital dari pikiran saya,” ujar Lester dalam keterangannya. “Jika saya sedang tidur atau bepergian ke luar kota, jemaat tidak perlu menunggu. Mereka memiliki akses 24 jam penuh ke versi lain dari diri saya.”
Bagi jemaat, terobosan ini memecahkan hambatan psikologis yang selama ini kerap membungkam mereka. Breanah Drake, salah seorang jemaat, mengakui bahwa avatar tersebut membantunya mengutarakan persoalan pribadi yang kerap terasa terlalu memalukan bila diungkapkan secara tatap muka.
Dari aspek operasional gereja, Direktur Teknis Steve Smedley menilai perangkat ini memberi jawaban instan terhadap pertanyaan praktis seputar penafsiran kitab suci dan agenda kegiatan jemaat.
Kendati demikian, Lester menyadari batas tebal antara efisiensi teknologi dan hakikat spiritualitas. Sistem kloning tersebut dipasangi pagar pengaman (guardrails) yang ketat. Jika percakapan mendeteksi situasi krisis yang mengancam jiwa atau persoalan medis darurat, sistem secara otomatis menghentikan respons mandiri dan mendesak pengguna untuk segera menghubungi nomor darurat atau menelepon Lester secara langsung.
Lester menegaskan, kloning digital ini dibuat semata-mata untuk memangkas rutinitas administratif yang menyita energi, seperti membalas ratusan surat elektronik harian. Waktu yang dihemat tersebut ia alihkan untuk tugas pastoral fisik yang tak tergantikan, seperti mendampingi jemaat yang sekarat di rumah sakit.
“AI tidak akan pernah bisa menggantikan manusia,” tutur Lester lugas.
Ia menceritakan pengalamannya ketika mencoba menggunakan AI untuk merancang naskah khotbah secara penuh. Menurutnya, kalimat yang dihasilkan memang tampak rapi dan berbobot secara tata bahasa, namun kehilangan jiwa.
“Hasilnya terasa hampa. Tidak ada Pentakosta di dalamnya. Tidak ada tubuh, dan tidak ada roh,” pungkasnya.
Langkah gereja di California ini sekaligus membuka babak perdebatan baru di kalangan teolog global mengenai batas etis kehadiran teknologi: apakah kecerdasan buatan merupakan jembatan baru menuju pemulihan iman, atau justru ilusi digital yang kian mengisolasi manusia dari sentuhan relasi yang sejati?
(Sumber: Crosswalk / The New York Times / CNN / Religion News Service)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.