"Mena Massoud beralih dari Aladdin ke film epik biblika “Daniel and the Fiery Furnace”. Simak pesan tajam sang aktor untuk generasi muda di tengah gempuran distraksi digital."
LOS ANGELES, DC News — Publik terbiasa melihat Mena Massoud berlari melompati atap-atap kota fiksi Agrabah dengan rompi ungu dan karpet terbang dalam film musikal Aladdin (2019). Namun, dalam proyek layar lebar terbarunya, aktor berusia 34 tahun ini mengambil haluan yang jauh lebih kontemplatif sekaligus penuh risiko. Massoud memerankan figur Nabi Daniel muda dalam drama epik sejarah bertajuk Daniel and the Fiery Furnace.
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop AS mulai 18 September 2026 ini—di Indonesia dijadwalkan pada 23 September 2026—bukan sekadar adaptasi kisah Kitab Suci. Bagi Massoud, narasi penolakan pemuda buangan terhadap hegemoni penguasa Babel menyuarakan kegelisahan moral yang sangat dekat dengan realitas generasi muda saat ini: pertarungan mempertahankan integritas diri di tengah derasnya arus distraksi dan kompromi sosial.
“Saya tumbuh besar di Gereja Koptik, terbiasa melakoni drama-drama gereja sejak kecil. Bisa mengangkat narasi ini ke tingkat layar lebar profesional adalah impian yang menjadi kenyataan,” tutur Massoud dalam wawancara bersama Movieguide.
Mengambil latar penaklukan Yerusalem oleh bala tentara Babel di bawah Raja Nebukadnezar, film berdurasi 108 menit ini menyoroti pergulatan batin Daniel dan tiga sahabatnya—Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Kisah ini mencapai kulminasinya pada peristiwa pembangkangan sipil terhadap dekret penyembahan berhala kaisar, yang berujung pada vonis eksekusi di dalam tanur api yang menyala-nyala.
Massoud menilai, keteguhan karakter pemuda dalam menghadapi konsekuensi maut menyimpan pesan substansial bagi generasi masa kini.
“Kisah ini berfokus pada keteguhan anak-anak muda memegang prinsip. Menjadi sangat penting bagi generasi muda masa kini untuk menyaksikan teladan ini, terutama di era ketika godaan, tekanan sosial, dan distraksi mengepung dari segala penjuru,” ujar aktor keturunan Mesir-Kanada tersebut.
Gerakan Urun Dana dan Kehati-hatian Sejarah
Dari sisi dapur produksi, Daniel and the Fiery Furnace merefleksikan tren independensi baru di Hollywood. Dipimpin oleh duo sutradara Daniel dan Matthew Kooman (Kooman Brothers), film dengan klasifikasi usia PG-13 ini didanai melalui urun dana yang berhasil mengumpulkan 1,2 juta dolar AS (setara Rp 18,5 miliar) dari publik dan komunitas penonton.
Langkah ini menunjukkan kian menguatnya pasar film bertema iman dan etika sejarah, mengikuti jejak serial global The Chosen. Menariknya, film ini juga melibatkan Elijah Alexander, aktor yang memerankan tokoh sentral Romawi di The Chosen.
Sutradara Daniel Kooman mengakui, menggarap adaptasi teks kuno memerlukan disiplin akademis dan teologis yang ketat. Proses penulisan naskah didampingi oleh panel teolog, sejarawan peradaban Timur Tengah Kuno, serta pemuka agama guna menjaga kepatutan konteks.
“Menggarap narasi sakral ini ibarat berjalan di atas tali tipis. Kami harus memperlakukannya dengan rasa hormat mendalam. Pada beberapa adegan krusial, kami sengaja mempertahankan kutipan teks kitab suci secara kata per kata (verbatim),” jelas Kooman.
Ia menambahkan, kisah keteguhan di hadapan ancaman perapian Babel ratusan abad silam bukan semata dongeng heroisme masa lalu, melainkan refleksi universal tentang keberanian bersikap ketika seluruh sistem menuntut penyeragaman.
Di tengah lanskap sinema komersial yang kerap didominasi fiksi spekulatif dan waralaba pahlawan super, kehadiran Massoud dalam balutan linen kuno Babel menawarkan tesis berbeda: bahwa keteguhan moral seorang pemuda terkadang menghasilkan drama yang jauh lebih memikat daripada efek visual magis.
(Sumber rujukan: Movieguide, The Christian Post, Fandango, daniel.movie)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.