Berita

Bagaimana Korea Utara Memanfaatkan Kekristenan untuk Membangun Kultus Pribadi

Korea Utara membangun kultus kepribadian keluarga Kim dengan mengadaptasi unsur Kekristenan, di tengah pembatasan ketat terhadap kebebasan beragama

Bagaimana Korea Utara Memanfaatkan Kekristenan untuk Membangun Kultus Pribadi
Berita 26 April 2026 61 views

Ukuran font

100%
"Korea Utara membangun kultus kepribadian keluarga Kim dengan mengadaptasi unsur Kekristenan, di tengah pembatasan ketat terhadap kebebasan beragama"

Pyongyang, DC News — Korea Utara tidak hanya dikenal sebagai negara otoriter tertutup, tetapi juga sebagai sistem ideologis yang menyerupai “agama politik” berbasis kultus kepribadian keluarga Kim. Struktur ini, menurut sejumlah laporan internasional, dibangun dengan memanfaatkan unsur-unsur religius—termasuk praktik Kekristenan—yang pernah berkembang kuat di Semenanjung Korea.

Jurnalis The Wall Street Journal, Jonathan Cheng, dalam laporan khusus yang dikutip Deutsche Welle (DW) pada 24 April 2026, menilai bahwa fondasi ideologi negara tersebut tidak dapat dilepaskan dari latar belakang Kristen Protestan pendirinya, Kim Il Sung. Pada awal abad ke-20, Pyongyang dikenal sebagai “Yerusalem Timur” karena menjadi pusat aktivitas misionaris Kristen, lengkap dengan gereja, sekolah, dan fasilitas kesehatan yang didirikan oleh misionaris Amerika.

Keluarga Kim Il Sung disebut memiliki kedekatan dengan tradisi gereja Presbyterian. Ibunya, Kang Pan-sok, dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan, sementara Kim Il Sung muda tercatat mengikuti berbagai aktivitas gereja, termasuk kebaktian mingguan dan kegiatan pemuda. Pengalaman ini, menurut Cheng, memberikan pemahaman mendalam tentang kekuatan simbol, ritual, dan loyalitas dalam agama.

Ketika berkuasa, Kim Il Sung kemudian mengadaptasi sejumlah elemen tersebut ke dalam sistem politik negara. Salah satu simbol yang sering disorot adalah pendirian patung pertamanya pada 25 Desember—tanggal yang bertepatan dengan Hari Natal. Selain itu, praktik sehari-hari masyarakat, seperti merawat potret pemimpin, memberi penghormatan di monumen, serta penggunaan simbol-simbol pemimpin di ruang publik, dinilai memiliki kemiripan dengan praktik devosi dalam agama.

Namun, berbeda dengan agama pada umumnya, pusat “pemujaan” dialihkan sepenuhnya kepada negara dan pemimpinnya. Ideologi resmi, Kimilsungisme-Kimjongilisme, menempatkan keluarga Kim sebagai figur sentral yang tidak hanya memimpin secara politik, tetapi juga menjadi simbol identitas nasional.

Di sisi lain, laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (USCIRF) tahun 2025 menunjukkan adanya kontras antara jaminan konstitusional dan praktik di lapangan. Meski kebebasan beragama secara formal diakui, aktivitas keagamaan—terutama Kekristenan—dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas ideologi negara.

Beberapa gereja resmi memang berdiri di Pyongyang, seperti Bongsu Church dan Chilgol Church. Namun, menurut berbagai laporan internasional, keberadaan gereja tersebut lebih berfungsi sebagai representasi simbolis untuk konsumsi diplomatik, terutama bagi tamu asing. Aktivitas ibadah di tempat-tempat tersebut dilaporkan berada di bawah pengawasan ketat negara.

Sementara itu, praktik keagamaan di luar jalur resmi berlangsung secara tertutup. Organisasi pemantau kebebasan beragama, seperti Open Doors, secara konsisten menempatkan Korea Utara sebagai negara dengan tingkat risiko tertinggi bagi umat Kristen. Dalam laporan terbaru mereka, puluhan ribu orang diperkirakan ditahan di kamp kerja paksa karena aktivitas keagamaan.

Berbagai sumber juga mencatat bahwa kepemilikan teks keagamaan atau keterlibatan dalam ibadah tidak resmi dapat berujung pada hukuman berat, termasuk penahanan jangka panjang. Kondisi ini menunjukkan adanya ketegangan antara ideologi negara dan praktik keagamaan yang dianggap tidak sejalan dengan sistem yang berlaku.

Analisis Cheng menyoroti ironi dalam fenomena tersebut. Rezim yang secara resmi menolak agama justru memanfaatkan struktur dan simbol keagamaan untuk memperkuat legitimasi kekuasaan. Sistem ini, yang telah bertahan selama beberapa dekade, kini disebut-sebut tengah dipersiapkan untuk kesinambungan generasi berikutnya dalam kepemimpinan keluarga Kim. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Korea Utara membangun kultus kepribadian keluarga Kim dengan mengadaptasi unsur Kekristenan, di tengah pembatasan ketat terhadap kebebasan beragama

Tags

Korea Utara Kim Il Sung Kultus Kepribadian Kekristenan Pyongyang Ideologi Korea Utara Kebebasan Beragama DW USCIRF Open Doors

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600