"Serangan terhadap biarawati Katolik Perancis di Yerusalem menyoroti meningkatnya kekerasan dan pelecehan terhadap komunitas Kristen di Israel dan Yerusalem Timur"
Yerusalem— Serangan brutal terhadap seorang biarawati Katolik Perancis di dekat Kota Tua Yerusalem membuka kembali luka lama: komunitas Kristen di Tanah Suci merasa makin terdesak di kota yang seharusnya menjadi ruang suci bagi tiga agama besar.
Biarawati berusia 48 tahun itu, seorang peneliti di French School of Biblical and Archaeological Research, diserang pada 28 April 2026 di kawasan Mount Zion, dekat Makam Raja Daud dan Cenacle—lokasi yang dihormati umat Yahudi dan Kristen. Rekaman video menunjukkan seorang pria mendorongnya hingga jatuh, lalu menendangnya saat korban tergeletak. Polisi Israel menangkap tersangka berusia 36 tahun.
Kasus ini kemudian naik ke pengadilan. Associated Press melaporkan tersangka diidentifikasi sebagai Yona Schreiber, warga permukiman Peduel di Tepi Barat yang diduduki Israel. Ia didakwa menyerang korban karena pakaian biarawati yang menunjukkan identitas Katoliknya.
Bagi para pemimpin gereja dan aktivis lintas iman, serangan ini bukan peristiwa tunggal. Rossing Center mencatat 155 insiden terhadap umat Kristen pada 2025, termasuk 61 serangan fisik, 52 perusakan properti gereja, 28 pelecehan, dan 14 vandalisme simbol Kristen. Religious Freedom Data Center juga mencatat 181 kasus pelecehan pada 2025, naik dari 111 kasus pada 2024.
Bentuk pelecehan yang dilaporkan beragam: diludahi, dicaci, diserang, hingga properti gereja dirusak. Mayoritas insiden disebut terjadi di Yerusalem, terutama di kawasan kota suci yang padat simbol agama.
Pemerintah Israel mengecam serangan itu dan polisi menyatakan “nol toleransi” terhadap kekerasan berbasis agama. Namun, sejumlah aktivis menilai penegakan hukum selama ini belum cukup memberi efek jera.
Ketegangan juga diperburuk insiden lain. Pada Mei 2026, dua tentara Israel dihukum penjara militer setelah melecehkan patung Bunda Maria di Lebanon selatan, beberapa pekan setelah kontroversi serupa terkait patung Yesus.
Di tengah situasi itu, sebagian umat Kristen di Yerusalem disebut mulai menyembunyikan salib mereka. Bukan karena kehilangan iman, melainkan karena takut menjadi sasaran.
Sumber: France24/AFP, AP, Vatican News, The Guardian, Rossing Center, Religious Freedom Data Center, ABC, Euronews.
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.