"Klaim baru penemuan Bahtera Nuh di Gunung Ararat Turki muncul setelah peneliti menyebut adanya terowongan bawah tanah. Namun, geolog menegaskan formasi tersebut adalah bentukan alam"
TURKI, DC News — Klaim mengenai penemuan Bahtera Nuh kembali mencuat setelah seorang peneliti asal Amerika Serikat menyebut adanya temuan baru di formasi berbentuk perahu di lereng Gunung Ararat, Turki. Meski demikian, para ahli geologi menegaskan bahwa struktur tersebut kemungkinan besar merupakan bentukan alamiah, bukan peninggalan historis seperti yang diyakini sebagian pihak.
Andrew Jones dari kelompok penelitian Noah’s Ark Scans mengungkapkan bahwa timnya menemukan indikasi struktur bawah tanah melalui pemindaian ground-penetrating radar (GPR). Dalam wawancara dengan media internasional, ia menyebut adanya koridor atau “terowongan” dengan lebar sekitar dua meter dan kedalaman hingga empat meter di dalam formasi tersebut.
“Kami melihat pola yang tampaknya tidak alami. Tata letak ini lebih menyerupai struktur buatan manusia,” kata Jones, seperti dikutip dari Fox News, pekan ini.
Selain itu, Jones mengklaim bahwa kadar materi organik di dalam formasi lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya. Ia juga menyoroti panjang formasi yang disebut mendekati 300 hasta—ukuran yang disebutkan dalam Kitab Kejadian dalam Alkitab.
Formasi yang dikenal sebagai Durupınar Site ini berada sekitar 29 kilometer di selatan puncak Gunung Ararat dan pertama kali terdokumentasi pada 1959 oleh pilot Angkatan Udara Turki. Sejak saat itu, lokasi ini kerap dikaitkan dengan hipotesis keberadaan Bahtera Nuh, termasuk oleh peneliti Ron Wyatt pada 1980-an.
Jones menyatakan timnya tengah merancang robot eksplorasi untuk menelusuri struktur bawah tanah tersebut secara lebih mendalam.
Namun, klaim tersebut mendapat tanggapan kritis dari kalangan ilmuwan. Geolog dari California State University, Lorence Collins, serta sejumlah peneliti Turki, menilai formasi Durupınar sebagai hasil proses geologi alami.
Menurut mereka, struktur tersebut merupakan limonite syncline, yaitu lipatan batuan yang terbentuk akibat longsoran lumpur dan aktivitas tektonik selama ribuan tahun. Temuan lapisan batu kapur fosil yang melintasi area itu juga dinilai memperkuat bahwa formasi tersebut bukan objek buatan manusia.
“Tidak ada bukti geologi yang menunjukkan ini adalah kapal atau struktur buatan,” tulis Collins dalam analisisnya yang dipublikasikan melalui sumber akademik.
Penelitian geofisika yang dilakukan pada 1987–1988 juga tidak menemukan indikasi keberadaan struktur buatan manusia di dalam formasi tersebut. Hingga saat ini, belum ada publikasi ilmiah peer-reviewed yang mengonfirmasi adanya kayu fosil, artefak, atau bukti arkeologis lain yang mendukung klaim tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Turki belum memberikan izin untuk penggalian skala besar di lokasi itu. Situs Durupınar lebih banyak dikenal sebagai destinasi wisata religi daripada objek penelitian arkeologi resmi.
Sejumlah lembaga ilmiah internasional menekankan pentingnya penelitian lanjutan dengan metode yang transparan dan dapat diverifikasi untuk menguji klaim tersebut secara objektif.
Kisah Bahtera Nuh sendiri merupakan bagian penting dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun, hingga kini, bukti ilmiah mengenai banjir besar global seperti yang digambarkan dalam teks-teks suci masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.