"Penemuan gereja Bizantium berusia 1.400 tahun dengan lantai mozaik indah di Gurun Negev mengungkap peran Nitzana sebagai pusat persinggahan peziarah Kristen menuju Sinai"
NITZANA, ISRAEL — Tim arkeolog dari Universitas Ben-Gurion di Negev (BGU) menemukan reruntuhan gereja Bizantium berusia sekitar 1.400 tahun di kawasan Taman Nasional Nitzana, Gurun Negev, Israel selatan. Temuan yang diumumkan pada 16 Maret 2026 ini memperkaya pemahaman tentang peran wilayah tersebut sebagai titik persinggahan penting bagi peziarah Kristen pada masa lampau.
Gereja tersebut diperkirakan dibangun pada tahun 601 Masehi, berdasarkan prasasti berbahasa Yunani yang ditemukan di lokasi. Prasasti itu menyebut nama seorang dermawan, Sergius, bersama anggota keluarganya dari Emesa—kota kuno yang kini dikenal sebagai Homs di Suriah.
Pemimpin penggalian, Prof. Yana Tchekhanovets dari Departemen Arkeologi BGU, menyebut lantai mozaik gereja ini sebagai yang paling mengesankan dibandingkan lima gereja lain yang sebelumnya ditemukan di Nitzana.
“Berbeda dengan gereja lain yang umumnya memiliki lantai batu sederhana, mozaik di sini menampilkan pola geometris kompleks, motif floral, serta medali kecil dari batu berwarna,” ujar Tchekhanovets, seperti dilaporkan The Times of Israel.
Persinggahan Strategis Peziarah
Nitzana pada masa Bizantium dikenal bukan sebagai pusat keagamaan utama, melainkan titik logistik terakhir sebelum peziarah memasuki jalur gurun menuju Biara Santa Katarina di Semenanjung Sinai, Mesir. Menurut para peneliti, lokasi ini pernah dihuni sekitar 2.000 orang dan dilengkapi sejumlah gereja untuk melayani arus peziarah.
Penemuan gereja terbaru ini menambah total menjadi enam gereja yang telah diidentifikasi di situs tersebut. Selain itu, penggalian sebelumnya juga mengungkap benteng Romawi dan arsip papirus Nessana—kumpulan dokumen penting dari abad ke-6 hingga ke-7 Masehi yang ditulis dalam bahasa Yunani dan Arab.
Papirus tersebut menjadi salah satu sumber utama bagi sejarawan untuk memahami kehidupan sosial, ekonomi, dan administrasi di wilayah Negev pada masa Bizantium hingga awal periode Islam. Nama Sergius yang tercantum dalam prasasti gereja diduga memiliki keterkaitan dengan dokumen tersebut, meski masih memerlukan penelitian lanjutan.
Jejak Sejarah dari Abad ke-20
Keberadaan gereja ini sebenarnya telah diketahui sejak awal abad ke-20. Pada survei tahun 1914, penjelajah Inggris T.E. Lawrence—yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia—bersama arkeolog Leonard Woolley mencatat keberadaan struktur tersebut ketika otoritas Ottoman membangun fasilitas militer di kawasan itu.
Denah yang mereka buat kemudian digunakan kembali oleh tim BGU, yang mengombinasikannya dengan teknologi Geographic Information Systems (GIS) untuk menentukan lokasi penggalian secara lebih presisi.
Bertahan hingga Awal Islam
Setelah penaklukan wilayah tersebut oleh kekhalifahan Islam pada tahun 638 M, Nitzana tetap berfungsi sebagai tempat persinggahan bagi peziarah Kristen. Namun, aktivitas di kawasan ini perlahan menurun hingga akhirnya ditinggalkan sekitar awal abad ke-9.
Selain struktur gereja utama, tim arkeolog juga menemukan ruang-ruang tambahan dengan lantai mozaik yang diduga berfungsi sebagai hospis atau biara kecil bagi para peziarah.
Penelitian Berlanjut
Penggalian lanjutan dijadwalkan pada musim berikutnya untuk mengungkap lebih banyak informasi mengenai kompleks ini. Proyek penelitian ini didukung oleh Gerda Henkel Foundation dan melibatkan mahasiswa serta sukarelawan internasional, bekerja sama dengan Israel Nature and Parks Authority.
Temuan ini dinilai penting oleh para ahli karena memberikan gambaran lebih jelas tentang dinamika kehidupan religius dan arsitektur di wilayah perbatasan gurun pada masa transisi dari kekuasaan Bizantium ke awal Islam. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.