"Penemuan kompleks ritual air kuno di Pelusium, Mesir, mengungkap praktik keagamaan dan percampuran budaya sejak era Helenistik hingga Bizantium, serta kaitannya dengan Kitab Yehezkiel"
KAIRO, DC News — Tim arkeolog Mesir menemukan kompleks ritual air berbentuk bundar berukuran besar di situs kota kuno Pelusium, Tell el-Farama, Sinai Utara. Struktur yang diperkirakan berusia lebih dari 2.200 tahun ini menjadi salah satu temuan penting yang memperlihatkan praktik keagamaan sekaligus percampuran budaya di kawasan Delta Nil timur pada periode Helenistik hingga Bizantium.
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengungkapkan, kompleks tersebut berpusat pada sebuah kolam (basin) melingkar berdiameter sekitar 35 meter yang dibangun dari bata merah. Kolam ini terhubung dengan cabang Sungai Nil Pelusiac—jalur air purba yang kini telah mengering—dan dilengkapi sistem saluran yang memungkinkan sirkulasi air secara terkontrol.
Air yang mengisi kolam diduga bercampur dengan lumpur (silt) dari sungai, yang memiliki makna simbolis dalam pemujaan dewa lokal Pelusius. Nama dewa tersebut diyakini berasal dari bahasa Yunani pelos, yang berarti lumpur atau tanah liat—unsur yang dalam kosmologi kuno Mesir kerap dikaitkan dengan kesuburan dan penciptaan.
Di bagian tengah kolam ditemukan podium berbentuk persegi yang diduga menjadi tempat berdirinya patung atau objek kultus. Berdasarkan analisis arkeologis, kompleks ini digunakan secara berkelanjutan sejak abad ke-2 sebelum Masehi hingga abad ke-6 Masehi, dengan perubahan struktural yang relatif minimal.
Temuan ini awalnya tidak langsung dikenali sebagai situs keagamaan. Pada tahap awal penggalian pada 2019, struktur melengkung yang ditemukan sempat diduga sebagai bagian dari bangunan sipil, seperti balai pertemuan atau fasilitas publik. Namun, penelitian lanjutan mengungkap fungsi ritualnya yang berkaitan dengan praktik pemujaan berbasis air—sebuah elemen penting dalam tradisi religius Mesir kuno maupun dunia Mediterania.
Menteri Pariwisata dan Purbakala Mesir, Sherif Fathy, menyatakan bahwa penemuan ini menegaskan nilai strategis dan arkeologis Sinai Utara. “Wilayah ini masih menyimpan banyak situs menjanjikan yang belum terungkap,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Senada dengan itu, Hisham El-Leithy dari Dewan Tertinggi Purbakala Mesir menilai desain kompleks ini mencerminkan perpaduan arsitektur Mesir kuno dengan pengaruh Yunani dan Romawi. Hal ini memperkuat pandangan bahwa Pelusium merupakan kota kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan dan budaya dunia kuno.
Secara historis, Pelusium dikenal sebagai kota pelabuhan sekaligus benteng pertahanan utama di perbatasan timur laut Mesir. Dalam catatan sejarawan klasik seperti Herodotus dan Strabo, kota ini disebut sebagai “gerbang Mesir” karena posisinya yang strategis di jalur masuk Delta Nil. Pada masa Romawi, Pelusium juga berfungsi sebagai pusat administrasi dan bea cukai.
Menariknya, sejumlah kajian biblika mengaitkan Pelusium dengan kota “Sin” yang disebut dalam Kitab Yehezkiel 30:15 dalam Alkitab Ibrani. Identifikasi ini telah muncul sejak terjemahan Yunani Septuaginta dan didukung oleh sejumlah studi modern tentang geografi Alkitab (misalnya dalam kajian oleh Anchor Bible Dictionary dan Cambridge Bible Commentary). Ayat tersebut menyebutkan, “Aku akan mencurahkan murka-Ku ke atas Sin, benteng Mesir.”
Penemuan kompleks ritual ini memberikan konteks arkeologis baru bagi pemahaman kehidupan religius di kota yang disebut dalam teks kuno tersebut. Selain itu, temuan ini juga memperkuat bukti interaksi budaya antara tradisi Mesir, Yunani, dan Romawi di kawasan tersebut.
Sejumlah pakar arkeologi Mesir, termasuk dari Egyptian Ministry of Tourism and Antiquities dan publikasi seperti Journal of Egyptian Archaeology, menilai bahwa praktik ritual berbasis air seperti ini tidak hanya memiliki fungsi religius, tetapi juga simbolik dalam siklus kehidupan, kematian, dan regenerasi.
Penelitian di situs Pelusium masih terus berlangsung. Para arkeolog berharap penggalian lanjutan dapat mengungkap lebih banyak struktur dan artefak yang dapat memperkaya pemahaman tentang peran kota ini dalam sejarah kawasan Timur Dekat kuno. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.