"Survei Pew Research Center menunjukkan hanya 5 persen evangelikal kulit putih menilai Donald Trump sangat religius, meski mayoritas tetap menganggapnya membela keyakinan mereka"
WASHINGTON DC, DC News – Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil evangelikal kulit putih di Amerika Serikat yang menilai Presiden Donald Trump sebagai sosok yang sangat religius, meskipun mayoritas tetap melihatnya sebagai pembela kepentingan keagamaan mereka.
Dalam survei yang dilakukan pada 6–12 April 2026 terhadap 3.592 responden dewasa AS, hanya 5 persen evangelikal kulit putih yang menyebut Trump “sangat religius”. Temuan ini sejalan dengan penilaian publik secara nasional, di mana hanya 5 persen warga Amerika memiliki pandangan serupa.
Sebaliknya, sekitar 70 persen responden secara nasional menilai Trump “tidak terlalu religius” atau “sama sekali tidak religius”, sementara 24 persen menilai ia “cukup religius”.
Persepsi rendah, dukungan tetap tinggi
Di kalangan evangelikal kulit putih—basis pemilih penting bagi Trump—sebanyak 51 persen menyatakan presiden tidak religius, sementara 44 persen menilai ia cukup religius.
Meski demikian, sekitar 67 persen dari kelompok ini mengatakan Trump setidaknya “sedikit” membela orang-orang dengan keyakinan agama yang sama dengan mereka. Angka ini merupakan yang tertinggi dibanding kelompok Kristen lainnya.
Peneliti Pew Research Center, Chip Rotolo, dalam analisisnya mencatat bahwa fenomena ini menunjukkan adanya pemisahan antara persepsi religiositas pribadi dan dukungan politik.
“Bahkan di antara pendukung terkuatnya, hanya sebagian kecil yang menganggap Trump sangat religius,” tulis Rotolo.
Ia menambahkan, hanya 8 persen pemilih Partai Republik yang memiliki pandangan tersebut.
Tren relatif stabil sejak 2020
Data Pew menunjukkan pola ini relatif konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, hanya sekitar 12 persen evangelikal kulit putih yang menyebut Trump sangat religius, meskipun dukungan politik mereka tetap solid.
Perbandingan dengan survei sebelumnya juga menunjukkan perubahan yang terbatas. Pada Februari 2024, sekitar 68 persen responden nasional menilai Trump tidak religius—angka yang kini meningkat tipis menjadi 70 persen.
Perubahan lebih signifikan terlihat pada kelompok tertentu, seperti Katolik Hispanik, di mana 80 persen kini menilai Trump tidak religius, naik dari sekitar 60 persen pada 2024. Selain itu, 55 persen kelompok ini menyatakan Trump tidak membela keyakinan mereka.
Faktor kebijakan lebih dominan
Pew Research Center dalam berbagai laporan sebelumnya menegaskan bahwa dukungan evangelikal terhadap Trump lebih banyak didorong oleh agenda kebijakan, bukan persepsi terhadap kehidupan religius pribadinya.
Trump diketahui kerap mengangkat isu yang penting bagi kelompok evangelikal, seperti pembatasan aborsi, kebebasan beragama, dan penunjukan hakim konservatif—faktor yang secara historis memperkuat dukungan mereka.
Dalam beberapa kesempatan publik, Trump juga menampilkan simbolisme keagamaan. Namun, langkah-langkah tersebut kerap menuai perhatian dan kontroversi, termasuk penggunaan simbol atau narasi religius dalam komunikasi politiknya.
Metodologi survei
Survei ini dilakukan menggunakan American Trends Panel milik Pew Research Center, yang dikenal sebagai panel survei berbasis probabilitas. Pew juga menyediakan secara terbuka kuesioner, data topline, dan metodologi lengkap, sebagai bagian dari standar transparansi lembaga tersebut. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.