"Presiden AS Donald Trump membacakan ayat Alkitab dari Ruang Oval dalam acara “America Reads the Bible”. Simak analisis hubungan kompleksnya dengan kekristenan, kontroversi politik, dan fenomena nasionalisme Kristen di AS"
WASHINGTON, DC News — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah membacakan ayat Alkitab dari Ruang Oval dalam sebuah pesan video yang disiarkan secara daring, pertengahan April 2026. Aksi tersebut merupakan bagian dari kegiatan bertajuk America Reads the Bible, sebuah maraton pembacaan Alkitab selama sepekan yang digelar dalam rangka peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Dalam rekaman tersebut, Trump membacakan 2Tawarikh 7:14 yang berisi seruan pertobatan nasional—ayat yang kerap digunakan dalam wacana politik konservatif di AS sebagai simbol pemulihan moral bangsa. Acara ini melibatkan sekitar 500 pembaca dari kalangan politisi Partai Republik dan tokoh Kristen konservatif, termasuk Ketua DPR Mike Johnson, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta pemimpin evangelikal seperti Franklin Graham dan Paula White-Cain.
Penyelenggara acara, Bunni Pounds dari organisasi Christians Engaged, menyebut kegiatan ini sebagai upaya “mengajak bangsa kembali ke fondasi rohani”. Namun, sejumlah pengamat menilai acara tersebut sarat muatan politik dan mencerminkan menguatnya fenomena nasionalisme Kristen (Christian nationalism) di Amerika Serikat.
Kritik dan Kekhawatiran Nasionalisme Kristen
Sejumlah kalangan akademisi dan tokoh agama menyuarakan kritik. Sejarawan Jemar Tisby menilai penggunaan Alkitab dalam konteks politik berisiko memanipulasi ajaran agama untuk kepentingan kekuasaan. Sementara itu, pendeta progresif Doug Pagitt menekankan pentingnya konsistensi antara ajaran kitab suci dan tindakan nyata.
Kritik juga datang dari kelompok advokasi yang menyoroti keterlibatan organisasi konservatif yang memiliki rekam jejak menolak kebijakan anti-diskriminasi terhadap komunitas LGBTQ+. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa simbol agama digunakan untuk membingkai agenda politik tertentu.
Relasi Trump dan Iman Kristen Dipertanyakan
Hubungan pribadi Trump dengan kekristenan telah lama menjadi perdebatan. Dalam kampanye 2016, ia menyebut Alkitab sebagai buku favoritnya, tetapi kesulitan mengutip ayat tertentu. Ia juga beberapa kali menuai kritik karena pernyataan dan tindakannya yang dianggap tidak mencerminkan praktik keagamaan yang lazim, seperti tidak pernah secara terbuka mengakui pertobatan atau kesalahan dalam terminologi keagamaan.
Meski demikian, dukungan dari pemilih evangelikal tetap kuat. Data exit poll menunjukkan lebih dari 80 persen pemilih evangelikal kulit putih mendukung Trump pada Pemilu 2024. Hal ini menunjukkan adanya keterikatan politik yang kuat, meskipun terdapat perdebatan mengenai aspek teologis maupun etis.
Tren Penurunan Afiliasi Kristen
Fenomena ini terjadi di tengah tren penurunan afiliasi keagamaan di Amerika Serikat. Laporan Pew Research Center mencatat persentase warga yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen menurun dari sekitar 78 persen pada 2007 menjadi 62 persen pada 2024.
Namun, Trump justru kerap mengklaim adanya kebangkitan iman di tengah masyarakat, sebuah narasi yang dinilai sebagian analis sebagai strategi politik untuk mempertahankan basis pemilih religius.
Kontroversi Tambahan
Pembacaan Alkitab tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari kontroversi lain yang melibatkan Trump, termasuk unggahan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkannya menyerupai sosok Yesus, serta kritiknya terhadap Paus Leo XIV. Langkah-langkah ini menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk komunitas Katolik dan pemimpin agama progresif.
Di sisi lain, sejumlah tokoh evangelikal di lingkaran Trump tetap memberikan dukungan penuh dan bahkan menafsirkan kebijakan politiknya dalam kerangka perjuangan spiritual.
Ketegangan Iman dan Politik
Para sejarawan umumnya menolak klaim bahwa Amerika Serikat didirikan sebagai negara Kristen. Konstitusi AS secara tegas memisahkan agama dan negara. Namun, penggunaan simbol dan retorika keagamaan dalam kebijakan publik menunjukkan adanya pergeseran yang semakin terlihat dalam lanskap politik modern Amerika.
Dengan demikian, pembacaan Alkitab oleh Trump tidak sekadar menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga mencerminkan dinamika kompleks antara iman, kekuasaan politik, dan identitas nasional di Amerika Serikat yang kian terpolarisasi. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.