Berita

Keluarga Kristen di Pakistan Berpindah-pindah Demi Keamanan, Usai Putrinya Diculik dan Dipaksa Menikah

Keluarga Kristen di Faisalabad, Pakistan, hidup berpindah-pindah setelah putri mereka yang menjadi korban penculikan dan pernikahan paksa kembali mendapat ancaman meski telah menang di peng…

Keluarga Kristen di Pakistan Berpindah-pindah Demi Keamanan, Usai Putrinya Diculik dan Dipaksa Menikah
Berita 27 April 2026 91 views

Ukuran font

100%
"Keluarga Kristen di Faisalabad, Pakistan, hidup berpindah-pindah setelah putri mereka yang menjadi korban penculikan dan pernikahan paksa kembali mendapat ancaman meski telah menang di pengadilan"

FAISALABAD, Pakistan — Sebuah keluarga Kristen di wilayah Jaranwala, Faisalabad, Provinsi Punjab, Pakistan, terpaksa hidup berpindah-pindah tempat untuk menghindari ancaman setelah putri mereka, Adan Sabir (19), menjadi korban penculikan dan dugaan pernikahan paksa.

Meski telah memenangkan perkara di pengadilan tinggi, keluarga ini mengaku masih menghadapi intimidasi dari pelaku yang tidak menerima putusan hukum tersebut.

Kasus ini bermula pada 3 Juli 2025, ketika Adan Sabir diculik dari rumah bibinya di Chak No. 126 GB, Faisalabad. Berdasarkan laporan International Christian Concern (ICC) dan UCA News, pelaku bernama Usman Ali diduga membawa senjata api saat melakukan penculikan. Ali sebelumnya disebut pernah melamar korban, namun ditolak oleh keluarga.

Setelah penculikan, pelaku diduga memalsukan dokumen pernikahan serta konversi agama korban ke Islam. Dalam sidang pengadilan tingkat pertama pada Agustus 2025, Adan tidak memberikan kesaksian. Keluarga menyatakan hal itu terjadi karena korban berada di bawah ancaman serius terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya.

Pengadilan tingkat pertama kemudian memutuskan mengizinkan pelaku membawa korban.

Tidak menerima putusan tersebut, keluarga Sabir mengajukan banding ke Lahore High Court pada September 2025. Dalam proses banding, keluarga menghadirkan bukti ancaman serta dugaan pemalsuan dokumen. Pengadilan tinggi akhirnya memerintahkan agar Adan dikembalikan kepada keluarganya.

Pada November 2025, pengadilan juga menerima pemberitahuan perceraian, yang secara hukum membebaskan Adan dari pernikahan tersebut.

Namun, situasi belum sepenuhnya aman. Setelah Adan bertunangan dengan pria dari komunitas Kristen, pelaku kembali melakukan intimidasi. Pada 20 April 2026, Usman Ali diduga menembakkan senjata ke arah rumah keluarga Sabir di Jaranwala.

Sejak kejadian itu, keluarga terpaksa berpindah lokasi setiap beberapa hari untuk menghindari ancaman lanjutan.

Ibu korban, Afasn Sabir, menggambarkan kondisi psikologis putrinya yang masih trauma. “Adan lebih banyak diam. Pada malam hari ia sering terbangun dalam ketakutan dan meminta kami berdoa,” ujarnya kepada UCA News.

Keluarga juga mengaku menerima ancaman melalui pesan digital. Dalam salah satu pesan, pelaku disebut menyatakan dapat kembali menculik korban.

Upaya melaporkan intimidasi digital tersebut ke pihak berwenang disebut belum membuahkan perlindungan yang memadai.

Kasus Adan Sabir mencerminkan persoalan yang lebih luas di Pakistan. Sejumlah lembaga hak asasi manusia internasional dan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran terkait praktik penculikan, konversi agama, dan pernikahan paksa terhadap perempuan dari kelompok minoritas, khususnya komunitas Kristen dan Hindu.

Organisasi lokal seperti Human Rights Commission of Pakistan (HRCP) dan Center for Social Justice mencatat ratusan kasus serupa terjadi setiap tahun, terutama di Provinsi Punjab dan Sindh. Banyak kasus dilaporkan berujung tanpa penegakan hukum yang tegas, sehingga memicu apa yang disebut sebagai “impunitas sistemik”.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah putusan Mahkamah Konstitusi Federal Pakistan pada Maret 2026 dalam kasus Maria Shahbaz—seorang gadis Kristen berusia 13 tahun—yang memperbolehkan pernikahan dalam situasi yang diperdebatkan sebagai paksaan. Putusan tersebut memicu kritik dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi internasional karena dinilai dapat memperburuk perlindungan terhadap anak dan perempuan dari minoritas.

Komunitas Kristen Pakistan bersama organisasi internasional terus mendesak pemerintah untuk memperkuat perlindungan hukum, memastikan penegakan hukum yang adil, serta menjamin keamanan korban.

Sementara itu, keluarga Sabir berharap aparat penegak hukum dapat segera bertindak tegas agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan tanpa ancaman. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Keluarga Kristen di Faisalabad, Pakistan, hidup berpindah-pindah setelah putri mereka yang menjadi korban penculikan dan pernikahan paksa kembali mendapat ancaman meski telah mena…

Tags

Pakistan Faisalabad Jaranwala penculikan pernikahan paksa konversi agama minoritas Kristen HAM Lahore High Court kekerasan terhadap perempuan

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600