Ringkasan Bacaan
Pembagian Artikel
"Kisah Zamzam Addaamaa, remaja Ethiopia yang diburu setelah berpindah iman ke Kristen, mengungkap realita persekusi di wilayah Oromia menurut laporan ICC dan Open Doors 2026"
OROMIA, Ethiopia – Di tengah konflik etnis dan ketegangan agama yang terus membara di Ethiopia, sebuah kisah sunyi namun mengguncang datang dari perbatasan barat negara itu—dekat Sudan. Kisah itu bukan tentang perang bersenjata, melainkan tentang iman seorang remaja perempuan yang harus membayar mahal pilihannya.
Namanya Zamzam Addaamaa, 18 tahun. Ia kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan di tanah kelahirannya sendiri.
“Dosa”-nya hanya satu: ia memilih percaya kepada Yesus Kristus.
Laporan terbaru dari International Christian Concern (ICC) yang dirilis pada 29 April 2026 mengungkap, Zamzam lahir dan dibesarkan dalam keluarga Muslim taat di Haroji Wado, wilayah Oromia barat. Selama hampir dua dekade hidupnya, ia mengikuti ajaran keluarga tanpa pertanyaan.
Namun, sebuah perubahan terjadi.
“Ada sesuatu yang tak tergoyahkan di hati saya bahwa Kristus itu nyata,” ujar Zamzam dalam kesaksiannya yang dikutip ICC.
Keputusan itu mengubah segalanya—secara drastis dan cepat.
Hanya dalam hitungan jam setelah ia menyatakan iman kepada Kristus, rumah yang selama ini menjadi tempat aman berubah menjadi ancaman. Ia diusir. Ditolak. Dibuang tanpa bekal.
“Rumah saya menjadi tempat berbahaya,” katanya. “Saya tidak hanya ditolak, tapi diusir tanpa apa-apa.”
Di sejumlah wilayah Ethiopia, khususnya daerah mayoritas Muslim seperti Oromia barat, Afar, dan Somali Regional State, meninggalkan Islam masih dianggap sebagai pengkhianatan berat—yang dalam banyak kasus berujung kekerasan, bahkan ancaman kematian.
Kini, Zamzam hidup berpindah-pindah tempat, bersembunyi di rumah orang-orang Kristen yang berani mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
“Saya hidup dalam persembunyian, bukan rumah. Setiap ketukan pintu bisa jadi ancaman,” ungkapnya.
Persekusi yang Bukan Kasus Tunggal
Apa yang dialami Zamzam bukanlah kejadian terisolasi.
Data Open Doors World Watch List (WWL) 2026 menempatkan Ethiopia di peringkat ke-36 dunia dalam daftar negara dengan tingkat persekusi terhadap umat Kristen. Skor 70 poin menunjukkan tekanan yang sangat tinggi—khususnya bagi mereka yang berpindah iman dari Islam ke Kristen.
Laporan itu mencatat, orang-orang yang “murtad” kerap menghadapi penolakan keluarga, pengucilan sosial, kehilangan mata pencaharian, hingga kekerasan fisik dan serangan massa.
Peristiwa terbaru bahkan mempertegas situasi tersebut.
Pada 7 April 2026, sekelompok ekstremis bersenjata menyerang umat Kristen yang tengah membangun gereja di wilayah barat Ethiopia—tak jauh dari daerah asal Zamzam. Para pekerja mengalami luka-luka, namun tetap melanjutkan pembangunan gereja.
Sementara itu, sepanjang Maret hingga April 2026, gelombang kekerasan di zona East Arsi, Oromia, menewaskan puluhan warga Kristen. Serangan terjadi di gereja hingga pasar, disertai teriakan bernuansa agama.
Perempuan muda seperti Zamzam disebut sebagai kelompok paling rentan—karena minim perlindungan dan kerap menjadi sasaran tekanan berlapis: keluarga, komunitas, hingga kelompok ekstrem.
Negara Absen, Iman Tetap Bertahan
Secara konstitusional, Ethiopia menjamin kebebasan beragama. Namun, di lapangan, perlindungan terhadap minoritas masih lemah—terutama di wilayah-wilayah rawan konflik.
Organisasi seperti ICC dan Open Doors terus mendokumentasikan kasus-kasus ini, sekaligus menyerukan perhatian dan advokasi dari komunitas internasional.
Di tengah semua itu, Zamzam tetap bertahan.
“Saya kehilangan keluarga, rumah, dan keamanan. Tapi saya tak bisa menyangkal Kristus,” tegasnya.
Kalimat itu kini menggema di kalangan umat Kristen global—menjadi pengingat bahwa di banyak tempat di dunia, iman bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan keputusan yang bisa berujung pengorbanan total.
Sebuah Panggilan
Kisah Zamzam Addaamaa bukan hanya cerita penderitaan. Ia adalah cermin—dan sekaligus panggilan.
Bagi mereka yang hidup dalam kebebasan beragama, kisah ini menantang untuk tidak tinggal diam. Sebab di Ethiopia, dan di puluhan negara lain yang masuk dalam WWL 2026, ada banyak orang yang harus “memikul salib” secara harfiah demi mempertahankan iman mereka.
Zamzam masih bersembunyi.
Bukan karena ia mau, tetapi karena tidak punya pilihan lain.
Namun satu hal yang pasti—iman yang ia pilih tidak ikut bersembunyi.
“Iman saya tak akan pernah goyah,” ujarnya. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.