"Komunitas Kristen Lebanon berjuang mempertahankan netralitas di tengah perang Israel-Hizbullah yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menggusur lebih dari 1 juta warga. Gereja berubah jadi shelter, desa-desa Kristen terancam, dan gelombang emigrasi semakin besar"
Saat perang antara Israel dan Hizbullah memasuki bulan kedua pada April 2026, komunitas Kristen Lebanon yang berusia ribuan tahun kembali menjadi korban tak langsung dari konflik regional. Mereka berusaha keras mempertahankan sikap netral, meski serangan udara Israel dan roket Hizbullah telah menewaskan ribuan warga, menggusur lebih dari satu juta orang, serta mengancam keberadaan mereka di tanah leluhur. Gereja-gereja kuno kini berubah menjadi tempat penampungan, sementara desa-desa Kristen di selatan Lebanon bertahan di bawah ancaman evakuasi paksa dan bombardir.
Menurut laporan The Jerusalem Post edisi 19 Maret 2026, komunitas Maronit, Ortodoks Yunani, Armenia, dan kelompok Kristen lainnya menolak terlibat dalam perang yang mereka anggap bukan urusan mereka. “Sentimen yang dominan adalah nasional, melampaui garis sektarian, disertai kekhawatiran mendalam tentang masa depan negara,” ujar Reda Sawaya, jurnalis Lebanon asal Maronit, seperti dikutip dalam artikel tersebut. Ia menambahkan bahwa keputusan pemerintah Lebanon Agustus lalu untuk membatasi senjata hanya pada tentara negara justru memicu keputusasaan ketika Hizbullah tetap terlibat dalam konflik.
Tragedi terbaru yang mencengangkan adalah pembunuhan lima warga Kristen, termasuk seorang pendeta, dalam serangan di Rumiyeh, utara Beirut, pada 15 Maret 2026. Upacara peringatan digelar di Gereja Sayyidet al-Najaat, sementara Gereja St. Joseph di Monot, Beirut, telah diubah menjadi penampungan bagi pengungsi, termasuk pekerja migran dan keluarga mereka. Di selatan, desa-desa Kristen seperti Qlayaa, Alma al-Shaab, Rmeich, Ain Ebel, dan Debel menghadapi tekanan berat. Pendeta Pierre al-Rahi dari Qlayaa tewas akibat tembakan artileri Israel, sementara penduduk Alma al-Shaab menolak evakuasi meski akhirnya terpaksa meninggalkan rumah mereka. Vatican dan gereja lokal mendesak warga untuk tetap tinggal, menghindari gelombang pengungsian massal.
Data terbaru dari berbagai sumber kredibel menunjukkan eskalasi yang lebih parah. Hingga pertengahan April 2026, lebih dari 2.000 warga Lebanon tewas akibat bombardir Israel sejak awal Maret, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi—termasuk ribuan warga Kristen dari selatan. Saat perayaan Paskah April lalu, banyak keluarga Kristen merayakannya jauh dari gereja leluhur mereka di Beirut atau pinggiran kota. Patriark Maronit Bechara al-Rai menyalahkan kedua pihak—Israel dan Hizbullah—atas penderitaan yang menimpa komunitasnya. “Kota dan desa tempat Kristen tinggal di selatan Lebanon juga diserang tanpa peringatan,” kata Michel Constantin dari Catholic Near East Welfare Association (CNEWA).
Beberapa desa Kristen tetap bertahan meski tentara Lebanon mundur dari wilayah perbatasan. Penduduk Rmeich, Ain Ebel, dan Debel menolak perintah evakuasi Israel, dengan alasan “ini bukan perang kami”. Namun, serangan sporadis terus terjadi. Pada 4 April, misalnya, serangan Israel di Ain Saade—daerah mayoritas Kristen dekat Beirut—menewaskan politisi Kristen Pierre Moawad beserta istri dan tetangganya. Israel mengklaim menargetkan anggota Hizbullah yang bersembunyi di sana. Sementara itu, insiden tragis lain terjadi di Dibil, di mana seorang ayah dan anaknya tewas tertembak saat membawa roti untuk desanya.
Kekhawatiran terbesar adalah gelombang emigrasi baru. Artikel JPost menyebut lebih dari 240.000 warga Lebanon telah meninggalkan negara sejak September 2024, dengan proporsi signifikan adalah Kristen. Data terbaru dari International Organization for Migration (IOM) dan lembaga lain menegaskan tren ini terus berlanjut akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak 2019, ditambah instabilitas politik dan keamanan. “Ini adalah indikasi keputusasaan yang meluas,” kata Sawaya. Banyak yang memilih relokasi permanen ke diaspora, yang sudah mencapai jutaan orang.
Di tengah penderitaan, muncul solidaritas lintas sektarian. Gereja, biara, dan masyarakat sipil membuka pintu bagi pengungsi Syiah dari selatan, meski ketegangan tetap ada. Nareg Keusseyan, jurnalis Armenia, menggambarkan frustrasi komunitasnya terhadap infiltrasi Hizbullah di wilayah mereka. “Mayoritas besar Kristen merasa sangat negatif terhadap perang ini dan yakin kita tidak boleh terlibat sama sekali,” katanya.
Analis melihat peluang sekaligus ancaman. Pelemahan Hizbullah berpotensi memperkuat otoritas negara Lebanon, termasuk pengerahan tentara nasional dan pengendalian senjata. Namun, tanpa gencatan senjata yang nyata—meski ada pembicaraan diplomatik yang melibatkan AS dan Prancis—komunitas Kristen khawatir posisi mereka sebagai “pilar pluralisme” Lebanon akan semakin rapuh. Presiden Maronit Joseph Aoun bahkan menuduh Israel melakukan “pembantaian baru” dan mendesak intervensi internasional.
Bagi Kristen Lebanon, yang merupakan sekitar sepertiga dari populasi 5,5 juta jiwa dan memiliki proporsi terbesar di dunia Arab, konflik ini bukan sekadar perang militer. Ini adalah ujian eksistensial: bertahan di tanah air atau ikut arus emigrasi yang telah mengikis demografi mereka selama puluhan tahun. Sementara doa Paskah masih bergema di gereja-gereja yang penuh pengungsi, harapan akan perdamaian dan kembalinya negara yang berdaulat tetap menjadi doa bersama. []
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.