"Reform UK pimpinan Nigel Farage meraih kemenangan besar dalam pemilu lokal Inggris 2026 dengan lebih dari 1.400 kursi dewan. Gelombang dukungan dari kalangan Kristen konservatif disebut menjadi faktor utama kebangkitan kanan populis di Inggris"
LONDON, DC News – Peta politik Inggris mulai bergeser tajam. Reform UK, partai kanan populis pimpinan Nigel Farage, mencatat kemenangan mengejutkan dalam pemilu lokal Inggris 2026 dengan merebut lebih dari 1.400 kursi dewan, menghantam dominasi Partai Buruh (Labour) dan Konservatif.
Di tengah euforia kemenangan itu, muncul satu narasi yang semakin menguat: kebangkitan pemilih Kristen konservatif yang merasa nilai-nilai tradisional mereka terpinggirkan.
Stephen Reed, Deputy Leader Derbyshire County Council dari Reform UK, secara terbuka menyebut banyak warga Kristen kini turun gunung demi “merebut kembali Inggris”.
“Mereka ingin negara mereka kembali. Mereka ingin nilai-nilai Kristen kembali,” ujar Reed kepada Premier Christian News.
Pernyataan itu segera memantik perdebatan luas di Inggris yang selama beberapa tahun terakhir dilanda polarisasi politik, isu migrasi, hingga perang budaya terkait agenda progresif dan kebijakan “woke”.
Menurut Reed, kemenangan Reform UK bukan sekadar protes politik biasa, melainkan luapan kekecewaan masyarakat terhadap elite politik lama yang dianggap gagal menjaga identitas nasional Inggris.
Ia menilai pemilih sudah muak dengan politik arus utama yang terlalu progresif dan jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Orang-orang ingin kembali pada nilai keluarga, komunitas, dan kebangsaan,” katanya.
Reform UK juga kembali menegaskan sikap keras terhadap imigrasi ilegal. Namun Reed membantah partainya anti-kemanusiaan. Ia justru menyebut negara harus memprioritaskan rakyatnya sendiri terlebih dahulu.
“Kasih sayang dimulai dari rumah. Kita harus menyelesaikan kemiskinan dan tunawisma di negeri sendiri sebelum membantu yang lain,” ujarnya.
Pernyataan itu memicu respons beragam, termasuk dari komunitas Kristen sendiri. Sebagian mendukung pendekatan nasionalis Reform UK, sementara lainnya mengingatkan ajaran Kristen soal menerima orang asing dan pengungsi.
Meski demikian, kemenangan Reform UK dinilai menjadi sinyal kuat bahwa gelombang kanan populis belum mereda di Eropa. Dalam sejumlah survei terbaru, partai tersebut terus menggerus basis dukungan tradisional Partai Konservatif maupun Labour, termasuk di kalangan pemilih Kristen.
Sementara itu, politisi Liberal Demokrat Tim Farron menyerukan agar masyarakat tetap menjaga persatuan nasional dan mendoakan para pemimpin baru di tengah situasi politik yang semakin panas.
Kemenangan Reform UK kini memunculkan pertanyaan besar: apakah Inggris sedang memasuki era baru populisme kanan, atau ini hanya ledakan sementara akibat krisis ekonomi, migrasi, dan ketidakpuasan publik?
Yang jelas, slogan “kami ingin negara kami kembali” kini bukan lagi suara pinggiran. Suara itu telah berubah menjadi kekuatan politik nyata di Inggris.
(Sumber: Premier Christian News, BBC, The Conversation, UK Commons Library, NYT, Independent, Wikipedia/Reform UK Results – Mei 2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.