"Franklin Graham kritik Paus Leo XIV terkait komentar perang dan pembelaannya terhadap Donald Trump. Simak dinamika hubungan Vatikan dan Gedung Putih di sini"
Ketegangan diplomatik dan teologis antara Gedung Putih dan Takhta Suci Vatikan kembali memanas. Pengkhotbah evangelis (Injili) terkemuka asal Amerika Serikat, Franklin Graham, secara terbuka mengkritik pernyataan Paus Leo XIV terkait isu peperangan dan kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Graham—putra dari mendiang pengkhotbah legendaris Billy Graham—justru menyarankan agar pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut berterima kasih kepada Presiden Trump. Menurut Graham, Trump telah melakukan upaya luar biasa dalam melindungi kebebasan beragama, tidak hanya bagi kaum Injili, tetapi juga bagi jutaan umat Katolik di AS dan seluruh dunia.
“Saya berharap Paus memiliki kesempatan untuk berterima kasih kepada Presiden atas upayanya melindungi kebebasan beragama,” tulis Graham dalam pernyataannya yang dikutip dari The New Republic, Kamis (16/4/2026).
Silang Pendapat soal Perang
Perselisihan ini bermula ketika Paus Leo XIV—yang terpilih pada Mei 2025 sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat (mantan Kardinal Robert Francis Prevost)—meningkatkan retorika perdamaian di tengah kebijakan militer agresif pemerintahan Trump. Paus secara tegas menyebut perang sebagai “kegilaan” dan menyatakan bahwa “Tuhan tidak memberkati konflik mana pun.”
Pernyataan Paus tersebut dipandang sebagai kritik langsung terhadap doktrin perang AS-Israel di wilayah Iran dan operasi militer di Venezuela. Menanggapi hal itu, Trump melalui media sosial Truth Social melabeli Paus sebagai sosok yang “lemah dalam menangani kejahatan” dan “mengerikan dalam kebijakan luar negeri.”
Graham membela posisi Trump dengan alasan bahwa presiden saat ini adalah sosok yang paling “pro-Kristen dan pro-kehidupan” sepanjang sejarah Amerika. Ia juga menepis kontroversi terkait gambar AI yang diunggah Trump, yang sempat memicu kemarahan karena dianggap menggambarkan sang presiden sebagai Yesus. Graham menyebut hal tersebut hanyalah kesalahpahaman visual dan mendesak gereja untuk fokus pada isu yang lebih besar.
Dua Kutub Teologi
Analisis para pengamat melihat fenomena ini sebagai benturan antara dua doktrin besar. Di satu sisi, Paus Leo XIV mengedepankan teologi perdamaian berdasarkan Khotbah di Bukit yang menekankan peran sebagai pendamai. Di sisi lain, kelompok Injili kanan seperti Graham cenderung mendukung pendekatan militeristik yang dipandang selaras dengan narasi perlindungan kedaulatan dan nilai-nilai konservatif.
Hingga saat ini, pihak Vatikan belum memberikan respons resmi atas pernyataan Graham. Namun, dalam penerbangan kepausan menuju Algiers baru-baru ini, Paus menegaskan bahwa dirinya “tidak takut” menghadapi pemimpin politik mana pun demi menyuarakan pesan Injil tentang perdamaian. []
Editor: OYR
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.