"Trump kembali menyerang Paus Leo XIV dengan tuduhan kontroversial soal Iran dan senjata nuklir. Di tengah memanasnya hubungan AS-Vatikan, Marco Rubio dikirim menemui paus dalam misi diplomatik penting"
ROMA — Ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangan baru terhadap Paus Leo XIV, dengan tuduhan keras bahwa pemimpin Gereja Katolik itu “membahayakan banyak umat Katolik dan orang-orang”.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump dalam wawancara di The Hugh Hewitt Show, hanya beberapa hari sebelum Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertolak ke Vatikan untuk bertemu langsung dengan Paus Leo XIV pada Kamis (7/5/2026).
Trump juga mengklaim Paus Leo XIV menganggap Iran “boleh memiliki senjata nuklir”. Tuduhan tersebut langsung memicu polemik internasional karena bertolak belakang dengan sikap resmi Vatikan selama puluhan tahun yang konsisten menolak seluruh bentuk persenjataan nuklir.
Paus Leo XIV, paus pertama kelahiran Amerika Serikat yang terpilih pada Mei 2025, merespons dengan nada tenang namun tajam dari Castel Gandolfo.
“Misi Gereja adalah mewartakan Injil dan perdamaian. Jika ada yang ingin mengkritik saya karena mewartakan Injil, silakan saja,” ujar Paus Leo XIV.
Ia menegaskan kembali posisi Gereja Katolik yang secara terbuka menentang kepemilikan maupun penggunaan senjata nuklir.
“Gereja sudah bertahun-tahun menentang semua senjata nuklir, tidak ada keraguan di situ,” katanya.
Pernyataan itu langsung menjadi sorotan media global dan dinilai sebagai sindiran halus namun tegas terhadap Trump.
Di tengah badai politik tersebut, Marco Rubio—politikus Partai Republik yang dikenal sebagai Katolik taat keturunan Kuba—dikirim ke Vatikan dalam misi yang disebut pengamat sebagai “diplomasi paling sensitif” Washington tahun ini.
Vatikan mengonfirmasi Rubio akan bertemu secara pribadi dengan Paus Leo XIV. Pertemuan itu diyakini menjadi upaya meredakan hubungan yang memburuk sejak April lalu, ketika Trump pertama kali menyerang paus terkait kritik Vatikan terhadap eskalasi perang di Iran.
Rubio mencoba meredakan situasi dengan menyatakan bahwa Trump “tidak mengerti mengapa ada yang berpikir Iran boleh memiliki senjata nuklir”. Namun, pernyataan itu belum cukup meredam kritik publik terhadap Gedung Putih.
Sejumlah analis menilai konflik ini bukan sekadar persoalan diplomasi biasa, melainkan benturan dua visi dunia yang sangat berbeda: pendekatan “America First” ala Trump melawan agenda perdamaian universal yang terus digaungkan Vatikan.
Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin memastikan Paus Leo XIV tidak akan mengubah sikapnya.
“Paus sudah menjawab dengan sangat Kristen,” kata Parolin singkat.
Kini dunia menanti hasil pertemuan Rubio dan Paus Leo XIV. Pertanyaannya: apakah diplomasi masih mampu meredakan ketegangan Washington-Vatikan, atau justru konflik ini akan membuka babak baru hubungan dingin antara Gedung Putih dan Tahta Suci?
(Sumber: America Magazine, AP, Reuters, NBC News, Time, BBC)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.