"Temuan satelit NASA ungkap TPST Bantargebang Bekasi sebagai penyumbang emisi metana terbesar kedua dunia dengan 6,3 ton/jam sepanjang 2025. Ancaman krisis iklim global plus bahaya kesehatan serius bagi warga sekitar: ISPA, asma, diare, hingga risiko kanker – fakta lengkap dan dampaknya"
Langit Bekasi kini berada dalam radar darurat iklim dan kesehatan publik dunia. Data satelit dari instrumen EMIT milik NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bersama satelit Tanager-1 Planet Labs mengungkap fakta mencengangkan: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menyemburkan rata-rata 6,3 ton metana per jam sepanjang 2025. Angka ini menempatkannya di peringkat kedua sebagai penyumbang emisi metana terbesar dari sektor limbah di dunia.
Hanya kalah tipis dari TPA Campo de Mayo di Argentina (7,6 ton/jam), Bantargebang bahkan sempat mencatat lonjakan hingga lebih dari 12 ton per jam pada pertengahan 2025. Persistensinya nyaris sempurna: emisi terdeteksi setiap kali satelit melintas. Laporan “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project pada 20 April 2026 menjadikan Bantargebang sorotan global.
Dari lebih 2.994 plume metana yang tercatat Carbon Mapper dari 707 lokasi limbah dunia, Bantargebang menjadi yang terburuk di Asia. Metana yang dihasilkan dari dekomposisi anaerob sampah organik ini 80 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam jangka pendek. Emisi 5 ton metana per jam saja setara dengan pemanasan global tahunan dari sekitar 1 juta SUV atau satu PLTU batu bara berkapasitas 500 MW.
Dampak Buruk Bagi Manusia
Ancaman tak hanya global, tapi langsung mengintai warga sekitar Bantargebang dan Bekasi. Gas metana disertai senyawa beracun lain seperti hidrogen sulfida (H₂S), amonia, merkaptan, dan volatile organic compounds (VOC) menyebabkan polusi udara kronis. Prevalensi penyakit pernapasan melonjak: Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), asma, bronkitis, hingga tuberkulosis. Anak-anak dan lansia paling rentan mengalami kerusakan paru-paru permanen.
Warga juga rentan terhadap penyakit kulit, diare, gangguan pencernaan akibat air tanah tercemar air lindi dan lingkungan tidak higienis. Bau busuk menyengat memicu sakit kepala, mual, dan stres kronis. Paparan jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko kanker (seperti limfoma non-Hodgkin, hati, ginjal) serta masalah reproduksi dan perkembangan anak.
TPST Bantargebang yang melayani hampir seluruh sampah Jakarta ini memang sudah overload bertahun-tahun. Rata-rata 7.000–7.700 ton sampah masuk setiap hari, menumpuk setinggi puluhan meter. Akumulasi metana juga berisiko ledakan dan kebakaran, seperti yang pernah terjadi di TPA lain di Indonesia.
Para ahli memperingatkan, tanpa penanganan serius seperti waste-to-energy skala besar, daur ulang masif, dan pengurangan sampah di hulu, “bom waktu” metana ini akan semakin memperparah krisis iklim sekaligus krisis kesehatan masyarakat. Fenomena ini bukan hanya masalah Bekasi atau Jakarta, melainkan cermin kegagalan pengelolaan sampah nasional yang kini dilihat dunia dari angkasa. Saatnya bertindak, sebelum metana Bantargebang benar-benar “membakar” masa depan bumi dan nyawa warganya.
(Sumber: UCLA Emmett Institute/STOP Methane Project 20 April 2026, Carbon Mapper, CNN Indonesia, Kompas, NU Online, data satelit EMIT NASA & Tanager-1)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.