"Komunitas Kristen Yemen kian menghilang di tengah perang, represi Houthi, dan krisis kemanusiaan. HRW melaporkan lebih dari 20 orang Kristen ditahan sejak akhir 2025"
Di Yemen, penderitaan umat Kristen nyaris tak terlihat. Tidak banyak gereja yang tersisa untuk disorot kamera. Tidak ada misa terbuka, tidak ada pemimpin komunitas yang leluasa berbicara, dan nyaris tidak ada ruang aman bagi mereka yang memilih tetap percaya.
Mereka bukan sekadar minoritas. Mereka adalah komunitas yang dipaksa menghilang.
Perang lebih dari satu dekade telah menghancurkan Yemen. Pada 2026, PBB memperkirakan lebih dari 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan. Sebanyak 5,2 juta orang menjadi pengungsi internal, sementara 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut.
Namun, di balik bencana kemanusiaan itu, ada tragedi lain yang lebih senyap: penyusutan drastis komunitas Kristen.
Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat atau USCIRF mencatat, komunitas Kristen Yemen pernah diperkirakan berjumlah sekitar 41.000 orang. Kini, jumlahnya menyusut menjadi hanya beberapa ribu. Banyak yang melarikan diri. Banyak pula yang memilih bersembunyi karena takut ditangkap, dikucilkan, atau dibunuh.
Tekanan paling berat datang dari wilayah yang dikuasai Houthi. USCIRF menyebut Houthi memperluas ideologi ke sektor pendidikan, militer, lembaga pemasyarakatan, dan peradilan. Kelompok minoritas agama, termasuk Kristen, terpaksa hidup sembunyi-sembunyi karena ancaman intimidasi dan kekerasan.
Laporan terbaru Human Rights Watch memperburuk gambaran itu. Pada Februari 2026, HRW melaporkan bahwa otoritas Houthi secara sewenang-wenang menangkap lebih dari 20 orang Kristen dalam tiga bulan sebelumnya. Banyak kasus disebut menyerupai penghilangan paksa: orang ditangkap tanpa surat perintah, keluarga tidak diberi tahu lokasi penahanan, dan akses komunikasi diputus.
Bagi banyak orang Kristen Yemen, bahaya tidak hanya datang dari milisi atau negara. Bahaya juga bisa datang dari rumah sendiri. Sebagian besar dari mereka adalah mualaf dari Islam ke Kristen, posisi yang di masyarakat konservatif dapat dianggap sebagai pengkhianatan agama, keluarga, dan suku.
Di Yemen, identitas suku dan agama kerap bertaut erat. Karena itu, seseorang yang berpindah agama dapat menghadapi isolasi, kekerasan, perampasan hak keluarga, hingga ancaman pembunuhan atas nama kehormatan.
Situasi makin buruk karena Houthi juga menekan organisasi internasional. Pada Desember 2025, PBB menyebut total 69 stafnya ditahan oleh otoritas Houthi. Mereka dituduh menjadi mata-mata Amerika Serikat dan Israel, tuduhan yang ditolak PBB.
Inilah yang membuat tragedi Kristen Yemen sulit terlihat. Tidak ada ledakan besar yang menjadi berita utama. Tidak ada puing gereja yang menjadi simbol dunia. Yang terjadi adalah pembungkaman perlahan: jemaat berhenti berkumpul, keluarga melarikan diri diam-diam, dan orang percaya memilih hilang dari pandangan demi bertahan hidup.
Yemen selama ini dibicarakan lewat perang, kelaparan, Iran, Houthi, Laut Merah, dan kepentingan geopolitik. Namun, di balik semua itu, sebuah komunitas kecil sedang dihapus dari ruang publik.
Bukan karena mereka tidak ada.
Melainkan karena mereka dipaksa tak terlihat.
Sumber: (Christian Daily International, HRW, USCIRF, OCHA/PBB, Al Jazeera)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.