Berita

PGI Gelar Pra-Simposium di Manokwari, Susun Pemetaan Berbasis Data untuk Isu Kemanusiaan Papua

PGI menggelar Pra-Simposium di Manokwari untuk memetakan persoalan kemanusiaan di Papua berbasis data, di tengah krisis pengungsian dan konflik berkepanjangan

PGI Gelar Pra-Simposium di Manokwari, Susun Pemetaan Berbasis Data untuk Isu Kemanusiaan Papua
Berita 30 April 2026 44 views

Ringkasan Bacaan

Pembagian Artikel

Ukuran font

100%
"PGI menggelar Pra-Simposium di Manokwari untuk memetakan persoalan kemanusiaan di Papua berbasis data, di tengah krisis pengungsian dan konflik berkepanjangan"

MANOKWARI, DC News — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menggelar Pra-Simposium Kajian Strategis Pemetaan Permasalahan Kemanusiaan di Papua pada 27–30 April 2026 di Manokwari, Papua Barat. Forum ini menjadi langkah awal menuju Simposium Nasional Gereja dan Permasalahan Kemanusiaan di Papua yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.

Kegiatan yang diinisiasi Biro Penelitian dan Pengembangan PGI bersama Biro Papua PGI tersebut bertujuan menyusun pemetaan persoalan kemanusiaan secara sistematis, berbasis data, dan melibatkan berbagai perspektif.

Acara dibuka dalam suasana ibadah yang dipimpin Pdt. Dr. Tandi Randa dari Sinode Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI). Mengacu pada Nehemia 1:3, ia mengajak peserta merefleksikan ratapan Nabi Nehemia sebagai respons iman terhadap penderitaan kolektif.
“Ratapan itu memanggil gereja agar tidak menutup mata terhadap realitas penderitaan yang masih dialami masyarakat hingga hari ini,” ujarnya.

Ketua Panitia, Pdt. Dr. George Rumbekwan, menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dalam memahami kompleksitas persoalan Papua.
“Kita membutuhkan pemetaan yang komprehensif, sistematis, dan melibatkan lintas perspektif agar solusi yang dihasilkan tidak parsial,” katanya.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Rheinhard Calvin Maniagasi, menekankan bahwa penyelesaian persoalan Papua memerlukan kolaborasi multipihak.
“Pendekatan sektoral tidak lagi memadai. Diperlukan basis data yang kuat dan kerja bersama antara pemerintah, gereja, akademisi, dan masyarakat sipil,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pimpinan Sinode GPKAI dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Manokwari yang hadir dalam pembukaan.

Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon, menyebut forum ini mengintegrasikan data pastoral dengan analisis akademik dan refleksi teologis.
“Persoalan kemanusiaan di Papua menuntut pendekatan kolektif dan lintas disiplin,” katanya.

Pada hari pertama, kuliah umum menghadirkan sejumlah narasumber. Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, anggota Dewan Energi Nasional, membahas posisi strategis Papua dalam geopolitik energi nasional serta tantangan transisi energi. Sementara itu, akademisi Universitas Negeri Papua, Dr. Ir. Agus Sumule, menguraikan akar persoalan Papua yang mencakup sejarah konflik, ketimpangan pembangunan, serta pengelolaan sumber daya alam.

Kegiatan ini diikuti perwakilan gereja anggota PGI di Papua, akademisi, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, serta unsur pemerintah dan aparat keamanan. Pembukaan ditandai dengan pemukulan tifa sebagai simbol kolaborasi.

Krisis kemanusiaan berlarut

Forum ini berlangsung di tengah situasi kemanusiaan yang masih menjadi perhatian berbagai pihak. Sejumlah laporan lembaga kredibel, seperti Komnas HAM dan lembaga internasional, dalam beberapa tahun terakhir menyoroti dampak konflik bersenjata di Papua terhadap warga sipil, termasuk pengungsian dan terbatasnya akses layanan dasar.

Data yang dihimpun jaringan gereja di Papua hingga April 2026 mencatat sekitar 107.000 warga mengungsi akibat konflik di sejumlah wilayah. Banyak di antaranya menghadapi keterbatasan akses pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Selain itu, laporan Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UNOCHA) dan berbagai organisasi kemanusiaan menekankan pentingnya akses bantuan tanpa hambatan ke wilayah terdampak serta perlindungan terhadap warga sipil.

PGI sendiri secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan, dialog damai, serta pembukaan koridor kemanusiaan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.

Melalui Pra-Simposium ini, PGI menegaskan peran gereja sebagai suara profetis yang berpihak pada keadilan, martabat manusia, dan penyelesaian damai berbasis data serta kolaborasi lintas sektor. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

PGI menggelar Pra-Simposium di Manokwari untuk memetakan persoalan kemanusiaan di Papua berbasis data, di tengah krisis pengungsian dan konflik berkepanjangan

Tags

Papua PGI Manokwari Krisis Kemanusiaan Konflik Papua Pengungsi Internal Gereja Indonesia Papua Barat Simposium Papua Komnas HAM

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600