Berita

Quiet Quitting dan Career FOMO, Dua Fenomena yang Membentuk Cara Kerja Generasi Muda

Fenomena quiet quitting dan career FOMO kian marak di kalangan pekerja muda Indonesia. Simak penyebab, dampak, serta perubahan cara pandang generasi Z terhadap dunia kerja

Quiet Quitting dan Career FOMO, Dua Fenomena yang Membentuk Cara Kerja Generasi Muda
Berita 23 April 2026 46 views

Ukuran font

100%
"Fenomena quiet quitting dan career FOMO kian marak di kalangan pekerja muda Indonesia. Simak penyebab, dampak, serta perubahan cara pandang generasi Z terhadap dunia kerja"

DC NEWS – Fenomena quiet quitting dan career FOMO kian ramai diperbincangkan di kalangan pekerja muda Indonesia, terutama generasi Z dan milenial. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), serta tekanan produktivitas yang tinggi, kedua istilah ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap dunia kerja.

Alih-alih mengejar ambisi karier tanpa batas, sebagian pekerja kini mulai menempatkan keseimbangan hidup sebagai prioritas utama.

Memahami Quiet Quitting

Istilah quiet quitting tidak merujuk pada tindakan berhenti bekerja secara formal. Fenomena ini menggambarkan sikap karyawan yang tetap menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, tetapi tidak lagi melakukan upaya ekstra di luar tanggung jawab utama, seperti lembur tanpa kompensasi atau merespons pekerjaan di luar jam kerja.

Laporan State of the Global Workplace yang dirilis Gallup menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan karyawan di Indonesia masih relatif rendah. Hanya sekitar 27 persen pekerja yang tergolong engaged, sementara sebagian besar lainnya berada pada kategori tidak terlibat aktif, yang sering diasosiasikan dengan praktik quiet quitting.

Secara regional, Gallup juga mencatat bahwa mayoritas pekerja di Asia Tenggara menunjukkan kecenderungan serupa, yakni bekerja pada tingkat minimum yang dipersyaratkan.

Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya kasus burnout pascapandemi Covid-19, serta persepsi ketidakseimbangan antara beban kerja dengan imbalan yang diterima. Penelitian Universitas Indonesia pada 2025 menemukan bahwa tingkat kesejahteraan emosional di tempat kerja (job flourishing) berbanding terbalik dengan kecenderungan quiet quitting. Semakin tinggi kepuasan dan kebahagiaan kerja, semakin kecil kemungkinan karyawan menarik diri secara pasif.

Career FOMO dan Tekanan Media Sosial

Di sisi lain, muncul fenomena career FOMO (fear of missing out) yang turut memengaruhi dinamika psikologis pekerja muda. Istilah ini menggambarkan kecemasan akibat merasa tertinggal dalam pencapaian karier dibandingkan orang lain.

Media sosial seperti LinkedIn dan Instagram menjadi pemicu utama, karena sering menampilkan pencapaian profesional seperti promosi jabatan, kenaikan gaji, hingga perpindahan kerja ke perusahaan bergengsi.

Kondisi ini mendorong sebagian individu untuk mengambil keputusan karier secara terburu-buru, seperti menerima beban kerja berlebih atau berpindah pekerjaan tanpa pertimbangan matang. Dalam banyak kasus, career FOMO berujung pada kelelahan kerja yang kemudian memicu sikap quiet quitting sebagai bentuk perlindungan diri.

Faktor Pendorong di Indonesia

Sejumlah faktor turut memperkuat munculnya kedua fenomena ini di Indonesia. Selain tekanan kerja yang tinggi, data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 8.389 pekerja mengalami PHK pada periode Januari hingga Maret 2026, dengan jumlah terbesar terjadi di Jawa Barat.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya work-life balance juga menjadi faktor signifikan. Banyak pekerja kini menolak menjadikan pekerjaan sebagai pusat kehidupan, dan mulai mencari makna kerja yang lebih berkelanjutan.

Pengaruh media sosial yang menampilkan standar kesuksesan tertentu turut memperbesar tekanan psikologis, terutama bagi pekerja di awal karier.

Dampak bagi Perusahaan dan Pekerja

Bagi perusahaan, fenomena quiet quitting berpotensi menurunkan produktivitas, menghambat inovasi, serta meningkatkan tingkat pergantian karyawan (turnover). Sementara itu, bagi pekerja, pendekatan ini dapat menjadi strategi untuk menjaga kesehatan mental, selama dilakukan secara proporsional.

Namun, jika berlebihan, sikap tersebut dapat berdampak pada stagnasi karier. Di sisi lain, career FOMO berisiko menimbulkan kecemasan berkepanjangan dan menurunkan kepuasan hidup.

Mencari Keseimbangan

Sejumlah pakar menyarankan pekerja untuk lebih fokus pada tujuan pribadi, alih-alih membandingkan diri dengan orang lain. Konsep JOMO (joy of missing out) mulai diperkenalkan sebagai pendekatan untuk menikmati pilihan hidup tanpa tekanan sosial.

Selain itu, penetapan batas kerja yang jelas, seperti membatasi komunikasi di luar jam kerja, dinilai penting untuk menjaga keseimbangan.

Bagi perusahaan, upaya meningkatkan keterlibatan karyawan dapat dilakukan melalui pemberian apresiasi yang adil, komunikasi terbuka, serta kebijakan kerja yang lebih fleksibel.

Pada akhirnya, quiet quitting dan career FOMO tidak sekadar tren, melainkan refleksi perubahan nilai generasi muda terhadap dunia kerja. Banyak pekerja kini lebih memilih karier yang berkelanjutan—sehat secara mental, seimbang, dan bermakna—dibandingkan pencapaian cepat yang berisiko mengorbankan kesejahteraan diri. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Fenomena quiet quitting dan career FOMO kian marak di kalangan pekerja muda Indonesia. Simak penyebab, dampak, serta perubahan cara pandang generasi Z terhadap dunia kerja

Tags

quiet quitting career FOMO generasi Z milenial dunia kerja Indonesia work life balance burnout Gallup PHK 2026 kesehatan mental kerja

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600