"Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally mendukung seruan perdamaian Paus Leo XIV di tengah perang Iran. Dukungan lintas denominasi ini muncul saat hubungan Vatikan-Washington memanas pasca-kritik Presiden Trump terhadap Paus. Baca selengkapnya."
Uskup Agung Canterbury, Sarah Mullally, menyatakan dukungan terbuka terhadap seruan perdamaian yang disampaikan Paus Leo XIV di tengah eskalasi konflik Iran. Pernyataan itu muncul saat hubungan Vatikan dan Washington memanas, terutama setelah kritik keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Paus.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis, 16 April 2026, Mullally menyebut ajakan Paus sebagai “panggilan berani menuju kerajaan damai”. Ia menegaskan solidaritas lintas denominasi dengan mengatakan bahwa ia “berdiri bersama saudara dalam Kristus” dalam menyerukan penghentian kekerasan. Menurut dia, biaya kemanusiaan perang—dari korban sipil hingga keluarga yang tercerai-berai—tidak dapat diabaikan.
Mullally, yang dilantik pada 25 Maret 2026 di Canterbury Cathedral menggantikan Justin Welby, kini memimpin Komuni Anglikan yang beranggotakan sekitar 85 juta umat di seluruh dunia. Dalam pernyataannya, ia mengajak umat Kristen dan pemeluk agama lain untuk “bekerja dan berdoa demi perdamaian”, sekaligus mendesak para pemimpin politik menempuh jalan damai dan adil dalam menyelesaikan konflik. Meski tidak menyebut nama Trump secara langsung, pernyataan itu dipandang sebagai respons atas kritik Presiden AS terhadap Paus.
Sejak awal 2026, Paus Leo XIV berulang kali mengecam perang di Iran yang melibatkan operasi militer Amerika Serikat dan Israel. Dalam kunjungannya ke Kamerun, ia menyatakan dunia tengah “dirusak oleh segelintir tiran” yang mengalokasikan miliaran dolar untuk perang, sementara warga sipil menjadi korban. Kritik tersebut memicu reaksi keras dari Trump, yang menyebut Paus “lemah” dalam isu kebijakan luar negeri. Presiden AS itu juga sempat mengunggah ilustrasi kontroversial yang menyerupai figur Yesus Kristus, sebelum akhirnya dihapus.
Seruan penghentian konflik juga disampaikan Paus dalam misa Minggu Palem di St. Peter’s Basilica. Ia menegaskan bahwa perang bukanlah jalan Tuhan dan menolak penggunaan agama sebagai legitimasi kekerasan. Mullally dijadwalkan bertemu Paus di Vatikan pada 25 April 2026, sebuah agenda yang dinilai akan memperkuat pesan ekumenis di tengah krisis global.
Kepemimpinan Mullally sebagai perempuan pertama di posisi Uskup Agung Canterbury menandai babak baru dalam sejarah Gereja Inggris. Sebelum memasuki pelayanan gerejawi, ia memiliki latar belakang sebagai perawat onkologi dan bidan—pengalaman yang memperkaya perspektif kemanusiaannya dalam merespons konflik.
Sementara itu, perang di Iran terus memicu korban sipil dan gelombang pengungsian, dengan dampak meluas hingga kawasan Teluk Hormuz dan stabilitas ekonomi global. Dukungan Mullally terhadap Paus memperlihatkan menguatnya suara moral lintas gereja yang menolak pendekatan militer dalam penyelesaian konflik.
“Ini adalah panggilan setiap orang Kristen—dan semua orang berkehendak baik—untuk bekerja dan berdoa demi perdamaian,” ujar Mullally.
Dukungan lintas denominasi ini sekaligus menegaskan kontras antara seruan moral keagamaan dan kebijakan geopolitik yang masih bertumpu pada kekuatan militer. []
Editor: OYR
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.