"Fenomena kebangkitan agama di Amerika Serikat kembali mencuat setelah gereja-gereja mulai penuh pasca-pandemi COVID-19. Di tengah lonjakan jemaat, Donald Trump menggelar doa massal di depan Gedung Kongres yang memicu perdebatan soal nasionalisme Kristen"
Washington DC — Amerika Serikat sedang mengalami fenomena yang tak banyak diprediksi setelah pandemi COVID-19: agama kembali menjadi pusat perhatian publik. Di saat banyak analis memperkirakan gereja akan kehilangan relevansi pascapandemi, sejumlah rumah ibadah justru kembali dipenuhi jemaat.
Gelombang kebangkitan ini terlihat jelas di berbagai wilayah konservatif Amerika, terutama di negara bagian basis Partai Republik. Data terbaru dari Hartford Institute for Religion Research menunjukkan untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, jumlah kehadiran ibadah tatap muka di gereja mengalami kenaikan signifikan.
Median jumlah jemaat mingguan naik dari 45 menjadi 70 orang. Banyak gereja yang sebelumnya berada di ambang penutupan kini kembali hidup. Donasi meningkat, relawan bertambah aktif, dan kegiatan komunitas kembali ramai.
“Awalnya kami pikir ada kesalahan data,” kata salah satu peneliti Hartford Institute. Mereka mengaku sampai melakukan verifikasi berulang kali karena tren kenaikan itu dianggap tidak lazim setelah bertahun-tahun agama mengalami penurunan pengaruh di AS.
Salah satu simbol perubahan itu terlihat di pinggiran Atlanta, Georgia. Pendeta Fredrick Robinson menghidupkan kembali gereja kecil yang sempat nyaris mati saat pandemi. Bangunan dengan parkiran berlubang dan ruang bawah tanah berjamur kini berubah menjadi pusat kegiatan komunitas dengan jemaat yang terus bertambah.
Momentum kebangkitan itu kemudian diangkat secara besar-besaran oleh Presiden Donald Trump melalui acara bertajuk Rededicate 250 yang digelar di National Mall, Washington DC, Minggu (17/5/2026).
Acara doa nasional tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat pada Juli mendatang. Ribuan orang diperkirakan hadir dalam jambore doa, konser puji-pujian, dan seremoni religius yang berlangsung di depan Gedung Kongres AS.
Sejumlah tokoh konservatif tampil sebagai pembicara utama, termasuk penginjil terkenal Franklin Graham dan Robert Jeffress. Hadir pula Ketua DPR Mike Johnson, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, hingga Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Gedung Putih menggambarkan acara itu sebagai upaya “mendedikasikan ulang Amerika kepada Tuhan” menjelang ulang tahun bersejarah negara tersebut.
Namun di balik euforia kebangkitan agama, kritik tajam bermunculan. Banyak pengamat menilai gelombang ini bukan sekadar kebangkitan spiritual, melainkan juga bagian dari menguatnya gerakan Christian nationalism atau nasionalisme Kristen.
Kelompok ini meyakini Amerika Serikat dibangun sebagai negara Kristen dan nilai agama harus kembali mendominasi kehidupan politik nasional. Kritik muncul karena acara-acara religius kini semakin erat dikaitkan dengan agenda politik konservatif.
Survei Pew Research Center bahkan menunjukkan mayoritas warga Amerika justru berharap gereja tidak terlalu terlibat dalam politik praktis. Kekhawatiran meningkat setelah simbol-simbol agama semakin sering digunakan dalam kampanye dan mobilisasi politik menjelang pemilu.
Pandemi COVID-19 sendiri menjadi titik balik besar bagi banyak gereja. Saat rumah ibadah ditutup, banyak komunitas agama dipaksa berinovasi melalui siaran langsung ibadah, donasi digital, hingga restrukturisasi organisasi.
Sebagian gereja gagal bertahan. Namun sebagian lainnya justru menemukan model baru yang lebih adaptif dan berhasil menarik kembali jemaat muda.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa kebangkitan ini belum tentu permanen. Sekitar separuh kongregasi di AS masih mengalami stagnasi, sementara tren jangka panjang menunjukkan penurunan religiusitas dibanding era keemasan pasca-Perang Dunia II.
Kini, pertanyaan besar muncul: apakah Amerika benar-benar sedang mengalami kebangkitan rohani, atau ini hanya gelombang politik yang dibungkus simbol agama?
Yang jelas, setelah dihantam pandemi dan polarisasi politik berkepanjangan, wajah agama di Amerika Serikat telah berubah drastis. Dan Washington tampaknya sedang berusaha menulis babak baru sejarah itu.
(CNN, Hartford Institute for Religion Research, Pew Research Center, White House/Freedom 250, PBS, NPR — Mei 2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.